Pages

Rabu, 19 Juni 2013

Perjalanan Jet Tempur Indonesia


Pesawat latih tingkat lanjut (supersonic) T-50 KAI Golden Eagle Korea Selatan (photo: globalsecurity.org)

Pesawat latih tingkat lanjut (supersonic) T-50 KAI Golden Eagle Korea Selatan (photo: globalsecurity.org)
JKGR: Ajakan Korea Selatan untuk terlibat dalam program pesawat tempur KFX / IFX, adalah anugerah yang besar bagi Indonesia, sekaligus tantangan kecerdasan bagi Indonesia untuk bisa masuk ke industri penerbangan advance, jet super sonic. Korea Selatan telah merintis jet tempur itu jauh-jauh hari sebelumnya sejak tahun 1990-an dengan nama jet supersonic T-50. Dan kini mereka berada di persimpangan jalan, apakah akan melanjutkan jet tempur KFX yang telah lama mereka rintis, atau hanya memodifikasi F-15 yang ditawarkan Amerika Serikat menjadi F-15 SE (silent eagle).
T-50 Golden Eagle trainer version

Setelah bergelut dengan konsep, disain, prototype dan ujicoba yang melelahkan selama 10 tahun lebih, jet T 50 akhirnya diterbangkan pada tahun 2002 dan bergabung dengan Republik Korea Air Force (RoKAF) pada tahun 2005. T-50 dirancang sebagai pesawat latih tingkat lanjut (supersonic) pengganti pesawat latih T-38 dan A-37, bagi calon pilot pesawat KF-16 (F-16 versi Korea Selatan) dan F-15 SE.
Disain dasar T-50 Golden Eagle berasal dari F-16 Fighting Falcon. Keduanya memiliki banyak kesamaan, antara lain: penggunaan mesin tunggal, kecepatan, ukuran, serta berbagai senjata dan elektronik. Korea Selatan menggarap T-50 setelah KAI memiliki pengalaman memproduksi lisensi KF-16. Pesawat lisensi KF-16 merupakan titik awal pengembangan T-50. Sebelumnya Korea juga telah membuat pesawat baling-baling turboprop KT-1 (Korean Trainer 1) Wongbee, sebagai pesawat latih dasar yang dihasilkan Daewoo Aerospace (sekarang bagian dari KAI).
Program pesawat latih supersonic T-50 pertama kali dimunculkan tahun 1992 dengan nama KTX-2. Departemen Keuangan dan Ekonomi Korsel sempat menangguhkannya hingga tahun 1995 dengan alasan kendala keuangan. Dengan berbagai kendala yang dialami, rancangan dasar pesawat T-50 akhirnya terwujud 4 tahun kemudian, pada tahun 1999. Proyek ini didanai Pemerintah Korea Selatan 70 persen, Korea Aerospace Industries (KAI) 17 persen dan Lockheed Martin 13 persen. Pada bulan Desember tahun 2003 Angkatan Udara Korea Selatan melakukan kontrak produksi sebanyak 25 pesawat T-50, dengan jadwal pengiriman antara 2005 dan 2009. Pesawat T-50 dilengkapi dengan radar AN/PG-67 dari Lockheed Martin.
Pesawat TA-50 light attack version

Program pesawat jet latih T-50 terus dikembangkan menjadi pesawat tempur ringan TA-50. Pesawat TA-50 adalah versi bersenjata dari pesawat latih T-50 yang ditujukan untuk memimpin pelatihan tempur serta serangan kilat. TA-50 memiliki platform: tempur penuh untuk bom presisi, rudal udara ke udara, serta rudal udara ke darat. TA-50 juga ditingkatkan kemampuannya dengan peralatan tambahan untuk: pengintaian, penargetan serta peperangan elektronik. Pada tahun 2011, skuadron pertama TA-50 varian serang ringan mulai operasional.
Pesawat TA-50 light attack version (photo: militaryphotos.net)
Pesawat TA-50 light attack version (photo: militaryphotos.net)
Pesawat FA-50 multi-role fighter version

Varian lain dari T-50 adalah FA-50 yang memiliki kemampuan pengintaian dan peperangan elektronik. Varian FA-50 terbang perdana tahun 2011 dengan kemampuan multiperan yang disejajarkan dengan KF-16 (F-16 versi Korea). Korea Selatan memproduksi 60 pesawat FA-50 pada tahun 2013 hingga tahun 2016. Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) berencana memiliki total 150 Fighter FA-50 untuk menggantikan F-4 Phantom II dan F-5.
FA-50_2
F-50 Cooming Soon

Setelah berhasil membuat multi-role fighter, hendak mengembangkannya lagi menjadi lebih canggih yakni F-50 dengan sayap yang diperkuat, radar AESA, bahan bakar internal lebih banyak, peningkatan kemampuan peperangan elektronik, serta mesin yang lebih kuat. Sayap yang diperkuat diperlukan untuk mendukung tiga launcher senjata di bagian bawah sayap. Radar AESA diharapkan memiliki kesamaan 90% dengan radar AESA program upgrade radar AESA KF-16. Pesawat T-50 diubah ke konfigurasi kursi tunggal agar ada ruang menampung bahan bakar internal yang lebih banyak. Selain meningkatkan peralatan perang elektronik, daya dorong mesin juga ditingkatkan, 12-25% lebih tinggi dari daya dorong mesin FA-50.
Dengan demikian, evolusi dari pesawat supersonic Korea Sealtan adalah: T-50 Golden Eagle trainer version, TA-50 light attack version, serta yang terbaru FA-50 light multi-role fighter version. Adapun program terbaru mereka adalah F-50, yang kemudian disebut KAI KF-X dan menjadi KFX / IFX setelah Indonesia menyertakan siap mengucurkan modal 20 persen dari biaya produksi pesawat.
Indonesia – Korea Selatan 

Sebelum mengajak Indonesia bekerjasama membuat KFX/IFX, jalinan Indonesia dan Korea Selatan telah dibangun dengan
pembelian 16 pesawat TA-50 varian serang dengan nilai kontrak 400 juta USD, pada bulan Mei 2011. Pesawat TA 50 ini akan dikirim ke Indonesia pada tahun 2013, untuk menggantikan pesawat BAE Hawk dan A-4 Skyhawk yang telah usang. Pada tahun 2008, TNI AU juga memiliki 17 pesawat latih baling-baling turboprop KT-1Bs Korea Selatan. Hal yang sama dilakukan Korea Selatan dengan membeli sejumlah CN 235 dari PT DI.
Disain KFX Korea Selatan
Disain KFX Korea Selatan
Disain Jet Tempur KFX / IFX
Disain Jet Tempur KFX / IFX
Angin Perubahan

Terpilihnya Presiden Korea Selatan yang baru Park Geun-hye, pada 25 Februari 2013 tiba- tiba saja membawa perubahan. Korea Selatan memutuskan untuk menunda pembangunan pesawat jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX, dengan alasan belum menguasai beberapa modul KFX. Di saat yang sama Korea Selatan akhirnya memutuskan untuk membeli F-15 SE dari Amerika Serikat, sebagai armada tempur yang baru. Alasan yang disampaikan, Korea Selatan tidak bisa bergantung dengan proyek KFX/IFX di tengah ketegangan yang terus meningkat dengan Korea Utara.
Apakah Korea menunda pembangunan KFX/ IFX karena alasan belum menguasai beberapa teknologi atau akibat tekanan politik ?. Ketika Korea Selatan membangun jet latih T-50 tidak terlihat ada rintangan. Namun saat mereka memutuskan masuk kepembuatan pesawat tempur sesungguhnya KFX/IFX, rintangan itu datang dan Korea Selatan menunda proyek KFX.
Hal yang mirip terjadi dengan Indonesia. Ketika Indonesia membangun pesawat kecil CN 235 dengan CASA Spanyol, tidak ada rintangan dan berjalan mulus. Akan tetapi ketika Indonesia masuk ke pesawat dengan kapasita lebih besar N-250, rintangan datang dan hingga kini N-250 tidak pernah diproduksi massal. Konon katanya akibat tekanan asing.
Apakah yang terjadi dengan Korea Selatan dan Indonesia, hanya kebetulan, alasan teknis atau betul akibat tekanan asing ?. Tidak tahu. Tapi mari kita coba apa yang terjadi dengan Jepang.
Pesawat Tempur Jepang

Pada tahun 1985, ketika ekonomi Jepang sedang berkembang pesat, negara itu berencana membuat jet tempur kelas satu, untuk menggantikan Jet Tempur Mitsubishi F-1 generasi 3 yang akan pensiun di pertengahan tahun 1990-an. Para insinyur Jepang pun telah melakukan riset dan jet tempur baru itu akan diberinama Fighter FS-X.
XF-2
The original Japanese multirole fighter strike project, The FS-X
The original Japanese multirole fighter strike project, The FS-X
Mitsubishi original FS-X
Mitsubishi original FS-X
Atas tekanan Amerika Serikat, Jepang diminta membatalkan niatnya membangun Jet Tempur FS-X, dengan alasan teknologi Jepang belum mampu membuat pesawat tempur generasi 4. AS berupaya mengecilkan hati Jepang serta membujuknya untuk bergabung mengembangkan dan memodifikasi pesawat tempur yang telah dimiliki Amerika Serikat.
Setelah melakukan negosiasi yang sulit bertahun-tahun, Jepang akhirnya setuju mengembangkan modifikasi pesawat F-16 Lockheed Martin dan dimulai tahun 1989. Pesawat itu disebut F-2.
Tiba-tiba saja di tengah jalan. pembangunan F 2 ini mendapatkan kritikan dari Kongres Amerika Serikat. Pembangunan jet tempur itu dianggap gerbang bagi Jepang untuk mendapatkan teknologi mutakhir, yang merupakan rival AS dalam hal ekonomi. Tekanan dari dalam negeri membuat Presiden George Bush terpaksa menunda kesepakatan. Lima tahun sejak kerjasama ditandatangani, proyek itu tidak juga terlaksana. Jepang pun marah dan frustasi: membuat pesawat sendiri tidak boleh, mengembangkan F-16 dihalang-halangi.
AS akhirnya mengirim tim ke Jepang untuk mengetahui sejauh apa kemampuan teknologi dirgantara dari negara Jepang, sehingga kerjasama nanti tidak satu arah, dalam artian hanya AS yang melakukan transfer teknologi bagi Jepang. Setelah melakukan inspeksi, tim ini menyimpulkan, teknologi Jepang masih tertinggal jauh dan tidak ada keuntungan teknologi yang bisa diterapkan AS untuk pesawat tempur modern mereka.
Amerika Serikat akhirnya menekan pemerintah Jepang untuk menerima bentuk kerjasama pembangunan pesawat F-16C dengan modifikasi minimal yang sebenarnya ditolak oleh R & D militer Jepang. AS memutuskan untuk membatasi transfer teknologi kepada Jepang. AS pun mulai bergeser dan memanfaatkan kerjasama ini untuk komersialisasi keuntungan mereka dengan memasok teknologi kelas dua.
Jepang menganggap transfer teknologi yang diberikan AS, masih kalah jauh dengan konsep konsep fighter FS-X yang akan mereka bangun. Di tengah rasa frustasinya Jepang terus melanjutkan program pesawat tempur F-2 dengan berbagai perubahan yang mereka inginkan. Jepang membuat sendiri software komputer untuk flight control F-2. Jepang juga membuat disain unik untuk sayap pesawat tempur tersebut. Disain sayap yang unik ini mencuri perhatian AS dana memintanya, namun Jepang tidak memberikan teknologinya. Hal ini akibat AS juga tidak memberikan data dari pesawat F-16 C.
Jepang akhirnya bisa mengontrol seluruh pembangunan F-2 disaat AS melangkah setengah hati. Tekanan tekanan politik yang diberikan AS justru membuat insinur Jepang melakukan berbagai modifikasi pada pesawat FS-X dan menemukan aplikasi teknologi baru. Antara lain teknologi pembuatan sayap pesawat tempur dari material komposite, menggantikan aluminium. Dengan teknologi ini sayap pesawat F-2 lebih ringan, namun kokoh dan kuat. Jepang juga menemukan teknologi fire control radar dan sejumlah sistem avionik modern.
Setelah berpolemik dan bergulat dengan teknologi selama 11 tahun, F-2 akhirnya diproduksi pada tahun 1996 dan terbang pertama kali tahun 2000. Pesawat ini dibuat oleh Mitsubishi Heavy Industries sebagai kontraktor utama bekerjasama dengan sub-kontraktor: Lockheed Martin Tactical Aircraft Systems, Kawasaki Heavy Industries dan Fuji Heavy Industries.
Pada awalnya Jepang memesan 130 pesawat F-2. Pesawat itu akan dibuat hingga tahun 2011. Namun pada tahun 2004 Jepang memutuskan untuk tidak melanjutkan pembelian peswat F-2 karena dinilai terlalu mahal. Produksi F-2 akhirnya terhenti pada pembuatan airframe ke 76. Amerika Serikat akhirnya ikut merugi, karena pesawat F-2 tidak jadi dibuat sebanyak 130 unit. Sementara fighter FS-X yang didisain Jepang akhirnya tidak terwujud.
Jepang memiliki pengalaman pahit dengan Amerika Serikat, namun proyek itu mengantarkan Jepang untuk menguasai teknologi baru pesawat tempur, antara lain dengan meng-upgrade teknologi ketinggalan jaman yang dikomersilkan oleh AS. Proyek F-2 yang memakan biaya sangat besar mengantarkan Jepang ke teknologi pesawat tempur advance.
F-2 Jepang, modifikasi F-16 AS (photo: JSDF)
F-2 Jepang, modifikasi F-16 AS (photo: JSDF)
Mitsubishi F-2 Jepang (photo: globalsecurity.org)
Mitsubishi F-2 Jepang (photo: globalsecurity.org)
Mitsubishi F 2A
Mitsubishi F 2A
Pesawat Counterstealth Jepang

Kini. di saat negara-negara maju masih dalam tahap awal produksi pesawat tempur generasi kelima, Jepang justru telah mempersiapkan konsep dan desain pesawat tempur generasi keenam dengan kemampuan anti pesawat siluman / counterstealth.
Menurut Jane’s Defence, pesawat tempur generasi ke-6 ini akan dibangun berdasarkan pesawat konsep ATD-X (Advanced Technology Demonstrator-X) generasi ke lima Jepang. Pesawat ATD-X sendiri dijadwalkan terbang perdana tahun 2014 -2016 nanti dan telah dikerjakan sejak tahun 2007. Jepang tidak akan memproduksi banyak pesawat generasi kelima ATD-X, melainkan hanya hanya akan digunakan untuk meriset berbagai teknologi yang lebih maju dan integrasi sistem, sebagai dasar untuk memproduksi pesawat tempur generasi keenam.
Mitsubishi ATD-X Shinsin Jepang
Mitsubishi ATD-X Shinsin Jepang
Fighter ATD-X Generasi 5 Jepang
Fighter ATD-X Generasi 5 Jepang
Mockup Fighter Mitsubishi ATDX
Mockup Fighter Mitsubishi ATDX
Disain Pengembangan Fighter ATD-X
Disain Pengembangan Fighter ATD-X
Rencana penggelaran pesawat tempur generasi kelima berteknologi stealth Chengdu J-20 oleh China dan Sukhoi PAK-FA T-50 oleh Rusia membuat Jepang memandang proyek pengembangan pesawat tempur masa depan ini sangat mendesak. ”China dan Rusia masing-masing akan menggelar Chengdu J-20 dan Sukhoi PAK-FA T-50 dalam waktu dekat. Kami tahu 28 radar kami efektif mendeteksi pesawat generasi ketiga dan keempat dari jarak jauh, tetapi dengan munculnya pesawat-pesawat generasi kelima ini, kami tak yakin bagaimana kinerja radar-radar itu nantinya,” ujar Letnan Jenderal Hideyuki Yoshioka, Direktur Pengembangan Sistem Udara Institut Pengembangan dan Riset Teknis Kemhan Jepang.
Dalam konsep Jepang, pesawat tempur generasi keenam akan memiliki kemampuan i3 (informed, intelligent, instantaneous) dan memiliki karakteristik counterstealth. Pesawat generasi keenam inilah yang digadang-gadang akan menggantikan armada F-2, pesawat tempur yang diproduksi berdasar platform F-16 buatan AS.
Meski tidak mengalami hambatan teknologi, Jepang diperkirakan menghadapi rintangan politik dari AS yang selama ini keberatan jika Jepang mengembangkan pesawat tempur sendiri. Salah satu alternatif yang akan ditempuh Jepang adalah mengajak AS mengembangkan bersama pesawat tempur generasi keenam ini. Sebuah situasi yang menjadi berbalik, ketika dulu tahun 1985, AS mengajak Jepang memodifikasi F-16.
Dengan kasus Jet Tempur Korea Selatan dan Jepang tersebut, kira-kira seperti apa cerita pembangunan jet tempur KFX/IFX Indonesia nanti ?.  Indonesia harus cerdik dan bermental baja.
Sumber : JKGR

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Silahkan Kirim Saran anda melalui Formulir Kontak ini

Nama

Email *

Pesan *

Listen2Quran