Jumat, 01 November 2013

Gerbang Kematian, Siapkah Dirimu Untuk Memasukinya?


Gerbang Kematian, Siapkan Dirimu Untuk Memasukinya?
Kematian, salah satu rahasia ilmu ghaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Allah telah menetapkan setiap jiwa pasti akan merasakannya. Kematian tidak pandang bulu. Apabila sudah tiba saatnya, malaikat pencabut nyawa akan segera menunaikan tugasnya. Dia tidak mau menerima pengunduran jadwal, barang sedetik sekalipun. Karena bukanlah sifat malaikat seperti manusia, yang zalim dan jahil.

Manusia tenggelam dalam seribu satu kesenangan dunia, sementara ia lalai mempersiapkan diri menyambut akhiratnya. Berbeda dengan para malaikat yang senantiasa patuh dan mengerjakan perintah Tuhannya. Duhai, tidakkah manusia sadar. Seandainya dia tahu apa isi neraka saat ini juga pasti dia akan menangis, menangis dan menangis. SubhanAllah, adakah orang yang tidak merasa takut dari neraka. Sebuah tempat penuh siksa. Sebuah negeri kengerian dan jeritan manusia-manusia durhaka. Neraka ada di hadapan kita, dengan apakah kita akan membentengi diri darinya ? Apakah dengan menumpuk kesalahan dan dosa, hari demi hari, malam demi malam, sehingga membuat hati semakin menjadi hitam legam ? Apakah kita tidak ingat ketika itu kita berbuat dosa, lalu sesudahnya kita melakukannya, kemudian sesudahnya kita melakukannya ? Sampai kapan engkau jera ?

Sebab-sebab su’ul khatimah

Saudaraku seiman mudah -mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda- ketahuilah bahwa su’ul khatimah tidak akan terjadi pada diri orang yang shalih secara lahir dan batin di hadapan Allah. Terhadap orang-orang yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya, tidak pernah terdengar cerita bahwa mereka su’ul khotimah. Su’ul khotimah hanya terjadi pada orang yang rusak batinnya, rusak keyakinannya, serta rusak amalan lahiriahnya; yakni terhadap orang-orang yang nekat melakukan dosa-dosa besar dan berani melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Kemungkinan semua dosa itu demikian mendominasi dirinya sehingga ia meninggal saat melakukannya, sebelum sempat bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Perlu diketahui bahwa su’ul khotimah memiliki berbagai sebab yang banyak jumlahnya. Di antaranya yang terpokok adalah sebagai berikut :
  • Berbuat syirik kepada Allah ‘azza wa jalla. Pada hakikatnya syirik adalah ketergantungan hati kepada selain Allah dalam bentuk rasa cinta, rasa takut, pengharapan, do’a, tawakal, inabah (taubat) dan lain-lain.
  • Berbuat bid’ah dalam melaksanakan agama. Bid’ah adalah menciptakan hal baru yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Penganut bid’ah tidak akan mendapat taufik untuk memperoleh husnul khatimah, terutama penganut bid’ah yang sudah mendapatkan peringatan dan nasehat atas kebid’ahannya. Semoga Allah memelihara diri kita dari kehinaan itu.
  • Terus menerus berbuat maksiat dengan menganggap remeh dan sepele perbuatan-perbuatan maksiat tersebut, terutama dosa-dosa besar. Pelakunya akan mendapatkan kehinaan di saat mati, disamping setan pun semakin memperhina dirinya. Dua kehinaan akan ia dapatkan sekaligus dan ditambah lemahnya iman, akhirnya ia mengalami su’ul khotimah.
  • Melecehkan agama dan ahli agama dari kalangan ulama, da’i, dan orang-orang shalih serta ringan tangan dan lidah dalam mencaci dan menyakiti mereka.
  • Lalai terhadap Allah dan selalu merasa aman dari siksa Allah. Allah berfirman yang artinya, “Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raaf [7] : 99)
  • Berbuat zalim. Kezaliman memang ladang kenikmatan namun berakibat menakutkan. Orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang paling layak meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al An’aam [6] : 44)
  • Berteman dengan orang-orang jahat. Allah berfirman yang artinya, “(Ingatlah) hari ketika orang yang zalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan yang lurus bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrabku” (QS. Al Furqaan [25] : 27-28)
  • Bersikap ujub. Sikap ujub pada hakikatnya adalah sikap seseorang yang merasa bangga dengan amal perbuatannya sendiri serta menganggap rendah perbuatan orang lain, bahkan bersikap sombong di hadapan mereka. Ini adalah penyakit yang dikhawatirkan menimpa orang-orang shalih sehingga menggugurkan amal shalih mereka dan menjerumuskan mereka ke dalam su’ul khotimah.
  • Demikianlah beberapa hal yang bisa menyebabkan su’ul khotimah. Kesemuanya adalah biang dari segala keburukan, bahkan akar dari semua kejahatan. Setiap orang yang berakal hendaknya mewaspadai dan menghindarinya, demi menghindari su’ul khotimah.

Tanda-tanda husnul khotimah

Tanda-tanda husnul khotimah cukup banyak. Di sini kami menyebutkan sebagian di antaranya saja :
  • Mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallaah saat meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapan dari hidupnya adalah laa ilaaha illallaah, pasti masuk surga” (HR. Abu Dawud dll, dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil)
  • Meninggal pada malam Jum’at atau pada hari Jum’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap muslim yang meninggal pada hari atau malam Jum’at pasti akan Allah lindungi dari siksa kubur” (HR.Ahmad)
  • Meninggal dengan dahi berkeringat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang mukmin itu meninggal dengan berkeringat di dahinya” (HR. Ahmad, Tirmidzi dll. dishahihkan Al Albani)
  • Meninggal karena wabah penyakit menular dengan penuh kesabaran dan mengharapkan pahala dari Allah, seperti penyakit kolera, TBC dan lain sebagainya
  • Wanita yang meninggal saat nifas karena melahirkan anak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya berarti mati syahid. Sang anak akan menarik-nariknya dengan riang gembira menuju surga” (HR. Ahmad)
  • Munculnya bau harum semerbak, yakni yang keluar dari tubuh jenazah setelah meninggal dan dapat tercium oleh orang-orang di sekitarnya. Seringkali itu didapatkan pada jasad orang-orang yang mati syahid, terutama syahid fi sabilillah.
  • Mendapatkan pujian yang baik dari masyarakat sekitar setelah meninggalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati jenazah. Beliau mendengar orang-orang memujinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Pasti (masuk) surga” Beliau kemudian bersabda, “kalian -para sahabat- adalah para saksi Allah di muka bumi ini” (HR. At Tirmidzi)
  • Melihat sesuatu yang menggembirakan saat ruh diangkat. Misalnya, melihat burung-burung putih yang indah atau taman-taman indah dan pemandangan yang menakjubkan, namun tidak seorangpun di sekitarnya yang melihatnya. Kejadian itu dialami sebagian orang-orang shalih. Mereka menggambarkan sendiri apa yang mereka lihat pada saat sakaratul maut tersebut dalam keadaan sangat berbahagia, sedangkan orang-orang di sekitar mereka tampak terkejut dan tercengang saja.
Bagaimana kita menyambut kematian?
Saudara tercinta, sambutlah sang kematian dengan hal-hal berikut :
  • Dengan iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan takdir baik maupun buruk.
  • Dengan menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya di masjid secara berjama’ah bersama kaum muslim dengan menjaga kekhusyu’an dan merenungi maknanya. Namun, shalat wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjid.
  • Dengan mengeluarkan zakat yang diwajibkan sesuai dengan takaran dan cara-cara yang disyari’atkan.
  • Dengan melakukan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala.
  • Dengan melakukan haji mabrur, karena pahala haji mabrur pasti surga. Demikian juga umrah di bulan Ramadhan, karena pahalanya sama dengan haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah, yakni setelah melaksanakan yang wajib. Baik itu shalat, zakat, puasa maupun haji. Allah menandaskan dalam sebuah hadits qudsi, “Seorang hamba akan terus mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintai-Nya”
  • Dengan segera bertobat secara ikhlas dari segala perbuatan maksiat dan kemungkaran, kemudian menanamkan tekad untuk mengisi waktu dengan banyak memohon ampunan, berdzikir, dan melakukan ketaatan.
  • Dengan ikhlas kepada Allah dan meninggalkan riya dalam segala ibadah, sebagaimana firman Allah yang artinya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah [98] : 5)
  • Dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya.  Hal itu hanya sempurna dengan mengikuti ajaran Nabi, sebagaimana yang Allah firmankan yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (QS. Ali Imran [3] : 31)
  • Dengan mencintai seseorang karena Allah dan membenci seseorang karena Allah, berloyalitas karena Allah dan bermusuhan karena Allah. Konsekuensinya adalah mencintai kaum mukmin meskipun saling berjauhan dan membenci orang kafir meskipun dekat dengan mereka.
  • Dengan rasa takut kepada Allah, dengan mengamalkan ajaran kitab-Nya, dengan ridha terhadap rezeki-Nya meski sedikit, namun bersiap diri menghadapi Hari Kemudian. Itulah hakikat dari takwa.
  • Dengan bersabar menghadapi cobaan, bersyukur kala mendapatkan kenikmatan, selalu mengingat Allah dalam suasana ramai atau dalam kesendirian, serta selalu mengharapkan keutamaan dan karunia dari Allah. Dan lain-lain

(dicuplik dari Misteri Menjelang Ajal, Kisah-Kisah Su’ul Khatimah dan Husnul Khatimah, penerjemah Al Ustadz Abu ‘Umar Basyir hafizhahullah). Semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada sanak keluarga beliau dan para sahabat beliau





Infometafisik.com

Read more »

[Foto] Puncak Latihan Angkasa Yudha 2013

Puncak latihan Angkasa Yudha 2013 digelar di Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (31/10/2013). Latihan ini dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan tempur personel TNI AU.

Para prajurit TNI AU mengikuti latihan Angkasa Yudha 2013.

Para prajurit TNI AU berlatih melumpuhkan musuh.

Para prajurit TNI AU berlatih menyergap musuh.

Para prajurit TNI AU berlatih mengepung musuh.

Aksi prajurit TNI AU saat turun dari helikopter.



detik

Read more »

[Foto] Puluhan Pesawat Tempur TNI Unjuk Gigi di Natuna

Puncak latihan Angkasa Yudha 2013 TNI AU digelar di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (31/10/2013). Dalam latihan ini TNI AU mengerahkan puluhan pesawat tempur mereka.

Salah satu pesawat TNI AU bermanuver di atas perairan Natuna.

Salah satu pesawat tempur TNI AU melakukan atraksi.

Latihan Angkasa Yudha 2013 melibatkan 21 pesawat tempur TNI AU.

TNI AU berlatih menaklukkan musuh.

Latihan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan tempur TNI AU.




detik

Read more »

Dimana Nabi Muhammad Sekarang?



Pertanyaan ini termasuk salah satu topik andalan yang lumayan sering dilontarkan oleh para kristen penghujat Islam dalam berbagai forum debat di internet dengan macam-macam maksud dan tujuan. Namun pada prinsipnya, dan inilah yang sebenarnya, pertanyaan itu semata-mata cuma untuk menghibur diri sendiri dalam rangka mempertahankan keyakinan mereka yang mudah goyah. Itu sebabnya mengapa mereka merasa perlu untuk terus menerus mencari alasan pembenaran agar ajaran kristen tampak seolah-olah lebih baik dan lebih benar dibandingkan dengan ajaran Islam.

Dengan mengangkat topik ini, bagaimana kristen tidak tampak lebih baik dan lebih benar? Seperti yang mereka yakini, saat ini Yesus sudah berada di sorga dan mereka yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dijamin pasti akan masuk sorga!

Sedangkan umat muslim? Ke mana semua mereka setelah mati nanti? Jangankan masuk sorga, sedangkan nabi besar yang mereka ikuti saja, setelah wafat tidak jelas di mana keberadaannya. Bagamana pula dengan nasib umatnya sendiri kelak?




Dimana nabi Muhammad sekarang?
————————————————————————————————–
Untuk memahami jawaban yang benar menurut petunjuk Al-Qur’an dan Hadits, sebenarnya mereka perlu mengetahui dengan baik bahwa dalam ajaran islam, jasad dan ruh para Nabi dan Syuhada tidak pernah mati, dan tidak pula pernah rusak oleh tanah.
————————————————————————————————–
1. FAKTA AL-QUR’AN

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu HIDUP disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.” (QS. Ali-Imran[3]:169).

2. FAKTA AL-HADITS

”Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi.”  [Kitab Shahih Sunan Abu Dawud hal. 196 hadits no. 925 oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani].

Abdullah bin Umar: Rasulullah SAW bersabda,” Mu’adzin al-muhtasibin (yang mengharap pahala disisi Allah) seperti seorang syahid yang berlumuran darah. Apabila dia mati jasadnya tidak dimakan belatung didalam kuburnya”  [Kitab At-targhib wat Tarhib Diriwayatkan oleh Mundziri, hal. 181. No.24] Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang berhubungan dengan hal ini.

3. FAKTA MEDIA PUBLIK
Jika kristen bertanya, apakah fakta-fakta di atas dianggap sudah menjawab pertanyaan di mana nabi Muhammad sekarang? Jawabnya, tentu saja sudah! Tapi kalau masih belum faham juga, maka begini penjelasan yang lebih spesifik:
  • Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam saat ini berada di Madinah, di dalam maqamnya yang dimuliakan oleh manusia, oleh para malaikat, dan oleh Allah sendiri. Beliau hidup dan senantiasa dipenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran[3]:169 di atas.
  • Setiap hari para malaikat bumi mendatangi maqam nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menyampaikan salam (syalawat) dari umatnya di seluruh penjuru dunia. Ini sesuai dengan sabda beliau, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala memiliki Malaikat- Malaikat yang terbang ke berbagai tempat di bumi menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” [Shahih HR Imam Ahmad]
  • Setiap saat ruh dan jasad nabi Muhammad Shallallhu Alaihi Wasallam menjawab semua syalawat dari umatnya. Ini sesuai dengan sabda beliau, “Tidak ada yg menyampaikan salam dari umatku, kecuali Allah akan mengembalikan ruhku (kepada Jasad ku di madinah ) dan menjawab salamnya ” [Shahih HR Abu Daud]
  • Sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam saat melaksanakan ibadah Haji & Umrah, maka menjelang kiamat nanti nabi Isa Alaihisallam yang kembali ke bumi akan datang mengucapkan salam di maqam nabi Muhammad Shallalhu Alaihi Wasallam. Hal ini dinubuatkan dalam sabda beliau, “Sungguh Isa Ibn Maryam akan turun dan melalui Madinah dalam perjalanan haji dan jika dia mengcapkan salam kepadaku, pasti aku akan menjawabnya.” [HR Al-Hakim, beliau mengatakan sahih]
  • Hingga kini dan sampai kiamat nanti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam masih mengunjungi orang-orang tertentu melalui mimpi, sebagaimana sabda beliau,  “Barangsiapa yang pernah melihat aku dalam mimpinya, berarti dia benar-benar melihatku. Sesungguhnya syaitan tidak bisa menjelma dengan rupaku.“ [Jami’u As-Soghir Imam Suyuthi, Musnad Imam Ahmad, Sahih Al-Bukhari, Sunan At-Tirmidzie, hadis ini sahih] atau diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: “Barangsiapa yang pernah melihat aku dalam mimpinya, berarti dia akan dapat melihatku di dalam keadaan sadar. Sesungguhnya tidak mampu syaitan menjelma dengan rupaku .“ [Jami’u As-Soghir Imam Suyuthi, Sahih Al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, hadis sahih]
Sampai di sini, boleh jadi timbul pertanyaan baru; benarkah ada manusia yang pernah memimpikan bertemu dengan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam? Jawabnya, ada! Tapi kisah-kisah seputar ini sangat jarang diliput oleh media untuk dipublikasi secara luas. Kendati demikian, tidak ada salahnya bila kita menyimak juga penjelasan dari sumber-sumber yang layak dipercaya seperti di antaranya di sini, atau di sini.

Meski begitu, berbekal mimpi indah bahwa Yesus yang mereka tuhankan “masih hidup” di sorga dan sudah menjanjikan masuk sorga bagi mereka, tidak sedikit kristen yang kemampuan olah pikirnya tidak cukup baik untuk mencerna penjelasan Al-Qur’an dan Hadits seperti di atas, masih tetap saja “nyosor” dengan pertanyaan klise seperti misalnya, “Karena sudah dimakamkan (atau disemayamkan di maqam), artinya nabi anda mati, kan?”

Ini juga salahsatu ketidakfahaman mereka tentang makna atau definisi “maqam” dalam Islam. Menurut perbendaharaan kata bahasa asli Al-Qur’an dan Hadits, yaitu Arab, secara ringkas maqam dapat diartikan sebagai station, tempat, posisi atau koordinat, atau peringkat dalam tatanan melodi. Selanjutnya tentang maqam ini, silahkan lihat juga:
  • Di dalam Kamus al-Munawwir (Arab-Indonesia), A.W. Munawwir (1984) menyebutkan, bahwa kata maqaam berasal dari kata qaa-ma, ya-quu-mu, qi-yaam, yang berarti ‘naik/meningkat, berdiri, bangkit, bangun, berangkat’.
  • Dalam A Dictionary of Modern Written Arabic, Hans Wehr (1974) mengartikan maqaam dengan ‘site, location, position, place, spot, situation, station, standing, rank, dignity.’
  • Sedangkan dalam Ensiklopedi Islam, Cyril Classe- (1999) memberi arti maqam dengan “tempat berdiri”, sebuah stasiun spiritual, semisal kesalehan sikap atau sebuah sikap yang muncul sebagai corak jiwa yang dominan.
Semoga setiap umat Islam yang turut membaca penjelasan ini, Insya Allah, kelak akan mendapat perkenan Allah untuk berjumpa dengan Baginda Nabi Besar Muhammad Sholallahu alaihi wassalam sebagaimana yang senantiasa menjadi kerinduan umat Islam di seluruh dunia.
Amin, Allahuma Amiin.

Read more »

Militer Angkatan Udara dan Laut Australia Awasi Indonesia dari Pos di Cocos Island


http://www.eclipsetours.com/wp-content/uploads/2012/01/cocosmap1.gif

Agen mata-mata elektronik Australia, Defence Signals Directorate (DSD), mencegat komunikasi militer dan Angkatan Laut Indonesia melalui stasiun pendengaran rahasia yang berada di daerah terpencil di Kepulauan Cocos. Menurut mantan pejabat pertahanan Australia, DSD mengoperasikan pencegatan sinyal dan fasilitas pemantauan yang berada di wilayah Samudera Hindia Australia, 1100 kilometer barat daya Jawa.

Menurut media Australia, Sydney Morning Herald edisi 1 November 2013, stasiun pemantauan ini tidak pernah diakui secara terbuka oleh pemerintah Australia, atau dilaporkan di media, meskipun beroperasi selama lebih dari dua dekade.

Lebih terkenal sebagai Shoal Bay Receiving Station dekat Darwin, fasilitas di Cocos Island dilaporkan sebelumnya merupakan bagian penting dari upaya pengumpulan sinyal intelijen Australia yang menargetkan Indonesia. Fasilitas ini meliputi radio pemantauan dan peralatan pencari arah dan dan stasiun satelit bumi.

Departemen Pertahanan Australia tidak akan mengomentari soal fasilitas itu dan hanya mengatakan bahwa Kepulauan Cocos adalah tempat "stasiun komunikasi" dan itu "merupakan bagian dari jaringan yang lebih luas komunikasi bidang Pertahanan."

Mantan perwira Departemen Pertahanan Australia telah mengkonfirmasi bahwa stasiun itu adalah fasilitas Defence Signals Directorate (DSD) yang dikhususkan untuk mengawasi maritim dan militer, khususnya angkatan laut, angkatan udara, dan komunikasi militer Indonesia.

Profesor dan ahli bidang intelijen di Australian National University, Des Ball mengatakan, fasilitas itu dioperasikan dari jarak jauh, dari kantor pusat DSD di Bukit Russell di Canberra.

Sinyal yang dicegat lalu dienkripsi dan diteruskan ke Canberra. Persiapan untuk mendirikan fasilitas di Cocos itu dimulai pada akhir 1980-an.

Stasiun intelijen sinyal di Cocos Island merupakan bagian dari upaya spionase Australia yang lebih luas yang diarahkan terhadap Indonesia. Seperti dilansir Fairfax Media, Kamis 31 Oktober 2013, program ini mencakup pusat pengawasan rahasia DSD yang terletak di Kedutaan Besar Australia di Jakarta.





indonesiabim.blogspot.com

Read more »

Hibah Kapal Selam Rusia, Menunggu Kepastian

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan pemerintah sedang menunggu kepastian hibah kapal selam dari Rusia. “Saat ini kami menunggu surat resmi dari Rusia,” ujar Purnomo kepada wartawan di Landasan Udara Ranai, Natuna, Rabu, 30/10/2013.

Surat itu, dia melanjutkan, berisi kepastian berapa kapal selam yang akan dihibahkan Rusia. Termasuk bagaimana keadaan fisik kapal selam itu dan seberapa banyak perbaikan yang diperlukan. Sebab dalam hibah alat utama sistem persenjataan, negara pemberi pasti menyaratkan seberapa besar perbaikannya. “Tapi katanya masih bagus kondisinya,” kata dia.

Soal berapa pagu anggaran untuk biaya ‘up-grade’ kapal selam ini, Purnomo belum mau menjawab, sebab saat ini yang ditunggu oleh pemerintah adalah kepastian jadi atau tidaknya hibah kapal selam dari Rusia.

Menurut informasi awal yang Purnomo peroleh dari Duta Besar Rusia di Indonesia, negara Beruang Merah itu akan menghibahkan 10 kapal selam jenis Killo Class, namun hal itu bisa saja berubah. “Sebab negara tetangga, Myanmar juga mendapat satu (kapal selam) hibah dari Rusia.”

Purnomo sendiri menyatakan bahwa TNI memerlukan hibah kapal selam dari Rusia itu. Sebab, kapal selam merupakan alutsista strategis untuk menjaga arus laut kepulauan Indonesia. Saat ini Indonesia baru punya dua unit kapal selam, KRI Cakra dan KRI Nanggala. Pemerintah telah memesan tiga unit kapal selam Changbogo dari Korea Selatan. “Kami butuhnya lebih dari lima itu,” kata Purnomo.

Terlebih, dia melanjutkan, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Marsetyo menyatakan bahwa dia membutuhkan kapal selam yang mampu meluncurkan rudal dari bawah permukaan air ke udara. Kemampuan itu merupakan salah satu kelebihan kapal selam Killo Class milik Rusia.
Kapal Selam Kilo Class Proyek 877 EKM, Angkatan Laut Iran

Sebelumnya, Sumber Tempo di Kementerian Pertahanan menyebutkan bahwa pemerintah Rusia tak serius menghibahkan kapal selam. Buktinya, perwakilan Indonesia yang dipimpin KSAL Laksamana Marsetyo tak mendapat jawaban yang pasti soal hibah ini saat bertandang ke Rusia.

Menurut Sumber Tempo, pemerintah Rusia mengaku tak punya rencana untuk memberikan hibah kapal selam ke Indonesia. Bahkan Sumber Tempo menyebut KSAL Indonesia tak bisa bertemu dengan KSAL Rusia.

Menanggapi hal ini, Menteri Purnomo tak mau berkomentar berlebihan. Dia mengaku tak tahu persis apa yang terjadi di sana. Menurut dia, setiap pejabat pasti punya kesibukan masing-masing. Bisa saja KSAL Rusia sedang sibuk hingga tak bisa temui perwakilan Indonesia.

Bahkan Purnomo menyebut perwakilan Indonesia sudah bertemu dengan pejabat penting Rusia. Termasuk pihak yang mengurus segala urusan jual-beli senjata Rusia, Rosoboron. “Pokoknya tunggu dulu surat resmi dari Rusia”. 




(Tempo.co).

JKGR

Read more »

Siapa Saja yang Akan Masuk ke Dalam Surga?


Siapa Saja yang Akan Masuk ke Dalam Surga?

Dari beberapa perbicangan dengan sahabat, ada satu pertanyaan yang sangat menarik untuk dibahas: 'Siapa saja yang akan masuk ke dalam surga?'.
Dengan memperhatikan ayat-ayat al-Qur'an dipahami bahwa surga merupakan janji niscaya Allah Swt yang diperuntukkan bagi orang-orang "muttaqin", "mu'min" dan orang-orang yang patuh terhadap seluruh titah Allah Swt dan Rasulullah Saw. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang bahagia sejati dan orang-orang yang berjaya.

Dengan menyimak perintah-perintah Allah Swt dan Rasulullah Saw kita jumpai bahwa di antara perintah-perintah Allah Swt dan Rasul-Nya adalah ketaatan terhadap wali amr, mengenal imam dan menunaikan hak-hak Ahlulbait As. Tanpa syak bahwa mereka yang tidak memiliki keyakinan dalam hati, lisan dan tidak mentaati Allah Swt, Rasulullah Saw, Qur'an dan Ahlulbait As sesungguhnya bukan mukmin sejati. Dan janji niscaya Allah Swt berupa surga ini tidak akan mereka dapatkan. 

Lantaran al-Qur'an menyatakan: "Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar." (Qs. Al-Buruj [85]:11) Sejatinya surga atau neraka merupakan refleksi keyakinan dan amalan yang kita miliki di dunia. Sesuai dengan redaksi al-Qur'an, "In ahsantum ahsantum lii anfusikum wain asa'tum falaha." (Sekiranya engkau berbuat kebajikan maka kebajikan itu untuk dirimu sendiri. Sekiranya engkau berbuat keburukan maka baginya keburukan itu).

Keharusan mengikut secara totalitas imam dan Ahlulbait lebih tinggi dari sekedar klaim kecintaan terhadap mereka. Hal ini bukan semata-mata dapat ditemukan dalam mazhab Syiah. Rahasia masuknya seseorang ke dalam surga pada pengenalan dan makrifat kepada imam terletak pada akar pemahaman kunci seperti: makna Imam, keharusan taat kepada imam, keharusan adanya imam, kebutuhan terhadap imam dalam mengenal kebahagiaan dan sebagainya.

Singkat kata, barang siapa tidak sampai kepadanya hakikat dan tidak bersikap acuh-tak-acuh dalam mencari kebenaran serta tidak termasuk dari golongan muqassir maka sesungguhnya ia tidak layak untuk dikirim ke neraka. Karena neraka merupakan kediaman para pendosa bukan bagi mereka yang tidak mengenal kebenaran dan bukan juga bagi mereka yang belum sampai kebenaran kepadanya.

Surga merupakan janji niscaya Allah Swt,[1] sekarang masalah yang mengemuka adalah siapa yang termasuk dari orang-orang yang dijanjikan Allah Swt baginya surga ini? Dengan mengkaji sekumpulan ayat-ayat terkait dengan penghuni surga dapat disimpulkan bahwa, "Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat tinggal yang bagus di surga ‘Adn." (Qs. Al-Taubah [9]:72) Untuk masuk ke dalam surga terdapat sebuah syarat dan syarat itu adalah beriman (mukmin). Itu saja. Lalu siapa yang disebut sebagai mukmin? Apakah ekspresi bahasa dua kalimat syahadat dalam membuahkan iman dan tergolong ke dalam orang-orang beriman sudah memadai?

"Barang siapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar." (Qs. Al-Nisa [4]:13) Penghuni surga dari orang-orang beriman adalah mereka yang mentaati Allah Swt dan Rasulullah Saw secara totalitas. Lalu bagaimana ketaatan kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw itu?

Hal ini dapat ditelusuri pada ayat-ayat al-Qur'an yang menyebutkan bahwa ketaatan ini terdiri dari dua bagian: Ketaatan ideologis (i'tiqâdi) dan ketaatan praktis ('amali)

"Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar." (Qs. Al-Buruj [85]:11) Barang siapa yang beriman, memiliki keyakinan dan mengamalkan apa yang diyakininya maka ia akan menjadi penghuni surga.

Karena itu, sepanjang kita tidak mentaati Rasulullah Saw kita tidak termasuk sebagai orang yang taat dan patuh. Dan ketaatan juga termasuk ketaatan hati dan keyakinan di samping dipraktikkan pada tataran perbuatan. Apabila satu saja perintah atau perbuatan Rasulullah Saw tidak kita yakini atau tidak kita kerjakan maka kita belum termasuk sebagai orang yang taat dan patuh secara totalitas.

Apa yang menjadi buah iman dan amal shaleh?
Dalam perspektif al-Qur'an, kombinasi indah dan penuh hikmah antara iman dan amal shaleh ini menghasilkan buah takwa dan orang-orang bertakwa adalah penghuni surga: "Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya." (Qs. Ali Imran [3]:15)

Dari apa yang telah dibahas kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa:
Mutiara kebahagiaan adalah ketakwaan dan ketakwaan adalah ketaatan totalitas terhadap seluruh perintah Allah Swt dan Rasulullah Saw. Kendati ketakwaan memiliki tingkatan dan derajat. Dan tingkatan yang paling rendahnya adalah menunaikan segala yang diwajibkan dan menghindar dari segala perbuatan dosa. Dengan demikian, pertama-tama kita harus berupaya untuk mengamalkan seluruh kewajiban dan perintah-perintah secara totalitas.

Di antara perintah Rasulullah Saw adalah keharusan mengenal dan mentaati para khalifah dan imam sejati pasca beliau.[2] Dan tanpa ragu bahwa mereka yang tidak memiliki keyakinan dalam hati, lisan dan tidak mentaati Allah Swt, Rasulullah Saw, Qur'an dan Ahlulbait As sesungguhnya bukanlah ahli iman dan amal saleh dan tidak memiliki derajat ketakwaan.

Salah satu poin penting yang harus disebutkan di sini adalah apa yang diserukan al-Qur'an pada ayat 59 surah al-Nisa (4) terkait ketaatan kepada "wali amr" yang bersifat mesti dan wajib. Kewajiban ini pun sejajar dan sederet dengan kewajiban taat kepada Allah Swt.

Kiranya kita perlu menyebutkan hal ini bahwa "wali amr" yang ketaatan kepadanya sejajar dengan ketaatan kepada Allah Swt haruslah seorang yang maksum dan siapa saja yang naik takhta kekuasaan tidak dapat disebut sebagai "wali amr"; karena apabila "wali amr" bukan seorang maksum maka boleh jadi titahnya tidak sejalan dengan titah Allah dan Rasul-Nya. Apabila demikian maka perintah untuk mentaati Allah Swt dan mematuhi wali amr akan berujung pada berkumpulnya dua hal yang bertentangan satu dengan yang lain dan tentu saja perkara ini mustahil adanya.

Terkait dengan kebahagiaan dan peran iman terhadap masalah imâmah dalam menciptakan kebahagiaan seperti yang disinggung sebelumnya berikut ini kami akan mengajak Anda untuk membahas bagaimana performa dan pengaruh imam dalam memercikkan kebahagiaan kepada seseorang atau masyarakat, menjadi penghuni surga atau nerakanya seseorang.[3]

Kebahagiaan dan pengaruh keyakinan kepada imam
Pada bagian ini, kami mengajak Anda untuk membahas apa yang telah disebutkan sebelumnya terkait dengan definisi kebahagiaan, kemenangan, kesuksesan di dunia dan akhirat demikian juga pengenalan pengaruh keyakinan kepada imam dan imamah dalam menemukan kebahagiaan dan kemenangan.

A.  Apa itu kebahagiaan?
Setiap orang memiliki definisi yang beragam tentang kesuksesan dan kebahagiaan. Akan tetapi nampaknya keragaman definisi ini tidak memberikan keuntungan bagi mereka yang mencari hakikat.

Oleh karena itu, sebaiknya kita mencari penafsiran dan definisi hakiki dari apa yang diinginkan Allah Swt terkait perbedaan kelompok "orang-orang yang beruntung" dan "orang-orang yang merugi."

Tatkala Tuhan ingin mencirikan seorang manusia yang berjaya dan sukses semisal Nabi Ibrahim As, Dia mengintrodusirnya dengan karakteristik seperti ini, "Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk pengikut Nuh. (Dengan tanda-tanda) Ketika ia datang kepada Tuhan-nya dengan hati yang suci." (Qs. Shaffat [37]:83-84) Dan juga di antara doa Nabi Ibrahim As adalah: "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak lagi berguna. . kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang suci.” (Qs. Al-Syuara [26]:87-89)

Apa yang dapat kita petik dari penegasan al-Qur'an ini terkait dengan hati yang suci adalah bahwa orang yang sukses, berjaya, dan bahagia adalah orang yang sedemikian hidup di dunia sehingga tatkala ia bersua dengan Tuhan ia berbekal dengan hati yang suci. Dan menariknya bahwa pada kelanjutan ayat di atas kita jumpai, "Dan (pada hari kiamat) di dekatkanlah surga (yang telah menghiasi dirinya) kepada orang-orang yang bertakwa." (Qs. Al-Syuara [26]:90) Pesan ayat ini adalah bahwa dengan memiliki hati yang suci (qalbun salim) kita bisa mencapai derajat takwa dan ganjaran orang-orang yang bertakwa adalah surga.

Sebagai hasilnya: Kebahagiaan, kejayaan, kemenangan bermakna upaya dan usaha untuk mendapatkan hati yang suci! Pemilik kebahagiaan sejati adalah orang yang memiliki hati yang suci. Kebahagiaan seiring sejalan dengan kesucian dan keselamatan hati.

B. Pengaruh keyakinan terhadap masalah imamah dalam mencapai kebahagiaan
Para perawi dan penulis Ahlusunnah menukil riwayat penting berikut ini dimana sebagian dari riwayat tersebut disebutkan demikian bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada Ali As:
"Umat Musa terbagi menjadi 71 firqah dimana (hanya) satu firqah yang selamat dan selebihnya akan memasuki neraka; Umat Isa terbagi menjadi 72 firqah dimana (hanya) satu firqah yang selamat dan selebihnya akan memasuki neraka; dan umatku akan terbagi menjadi 73 firqah dimana (hanya) satu firqah yang selamat dan selebihnya akan memasuki neraka. Imam Ali As bertanya: "Wahai Rasulullah! Siapa gerangan firqah yang mendapatkan keselamatan (firqah al-najah) itu? Rasulullah Saw bersabda: " (Yang selamat) adalah yang berpegang teguh kepada jalanmu dan jalan Syiahmu."[4]

Buraidah Aslami (yang merupakan sahabat Rasulullah Saw dalam pandangan Ahlusunnah) menukil dari Rasulullah Saw bahwa yang dimaksud dengan al-shirat al-mustaqim (jalan lurus) pada ayat "Ihdina al-Shirat al-mustaqim" adalah Muhammad dan keluarga Muhammad.[5]

Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang ingin seperti angin kencang, menyalip kencang melintasi jalan (jembatan) dan masuk ke dalam surga tanpa hisab maka ia mesti menerima wilayah wali, wasi dan khalifahku atas keluargaku (wilayah) Ali bin Abi Thalib."
Dan barang siapa yang ingin masuk ke dalam neraka jahannam "Maka tinggalkanlah wilayahnya. Demi keagungan Tuhanku, aku bersumpah bahwa sesungguhnya ia adalah gerbang Tuhan (babUllah), dan sesungguhnya ia adalah al-shirat al-mustaqim (jalan lurus), dan sesungguhnya tentang wilayahnya yang akan ditanyakan kelak oleh Allah Swt pada hari Kiamat."[6]

Amalan perbuatan siapa yang dikabulkan?
Wilayah merupakan syarat untuk diterimanya ibadah!

Sesuai dengan riwayat yang berulang kali dinukil oleh Ahlusunnah, asas dan syarat Tuhan dalam menerima amal perbuatan manusia adalah penerimaan mereka terhadap wilayah Ali bin Abi Thalib As!

Rasulullah Saw bersabda: "Memandang wajah Ali bin Abi Thalib adalah ibadah. Mengingatnya adalah ibadah. Iman seseorang hanya akan diterima dengan (dasar) kecintaan kepadanya dan kebencian terhadap musuh-musuhnya."[7]

Yang dapat disimpulkan dari riwayat ini adalah bahwa syarat diterimanya iman (apatah lagi ibadah) adalah wilâyah (menjadikannya sebagai wali) dan barâ'at (menolak orang-orang yang memusuhinya).

Lagi ulama Ahlusunnah menukil bahwa:
"Rasulullah Saw bersabda: "Wahai Ali! Apabila ada seseorang beribadah kepada Tuhan seukuran usia Nabi Nuh As, memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu emas itu ia infakkan di jalan Allah, dan sepanjang hidupnya ia berjalan kaki untuk menunaikan haji, dan kemudian ia mati dalam keadaan teraniaya di antara Shafa dan Marwah, namun ia tidak menerima wilayahmu! Maka sekali-kali ia tidak akan pernah mencium semerbak bau surga dan memasuki surga."[8]

Adapun pembahasan ihwal apakah non-Syiah akan memasuki neraka atau tidak merupakan pembahasan yang akan kami singgung secara global sebagai kelanjutan pembahasan di atas.
Orang-orang yang tidak beriman terhadap agama Islam terdiri dari dua kelompok:

1. Kelompok yang dikenal dengan terma jahil muqassir dan kafir: Artinya Islam telah sampai kepada mereka dan mereka pun tahu tentang hakikat Islam, akan tetapi ia tidak siap menerimanya lantaran keras kepala dan pembangkangan. Kelompok ini layak untuk mendapatkan azab dan keabadian dalam neraka.

2. Kelompok yang dikenal dengan terma jahil qasir: Artinya Islam atau pesan Islam tidak sampai kepada mereka atau Islam yang disampaikan kepada mereka sangat mentah dan bukan Islam yang sebenarnya. Orang-orang ini memandang Islam sejajar dan sederet dengan agama-agama seperti Kristen, Yahudi, Hindu dan Budha. Orang-orang yang termasuk dalam kelompok ini lantaran kejujuran mereka dalam agamanya adalah tergolong orang-orang yang selamat.

Sesuai dengan pandangan Islam apabila orang-orang seperti ini jujur dalam agama dan ajarannya – yang bersandar pada fitrah - misalnya tidak suka berkata dusta, menentang perbuatan tidak manusiawi maka mereka adalah orang-orang yang selamat dan orang-orang yang berharap pada rahmat Ilahi.

Pembahasan ini terkait dengan para ilmuan yang bertauhid dan para pengenal Tuhan yang belum mengenal Islam sebagaimana mestinya dan orang-orang Ahlusunnah yang belum lagi mengenal Syiah sebagaimana seharusnya juga dapat diberlakukan.

Pendeknya, barang siapa yang belum sampai baginya kebenaran dan ia juga tidak memandang remeh dalam mencari hakikat tidaklah layak mendapatkan azab; karena azab adalah bagi para pendosa bukan bagi orang yang tidak mengenal hakikat dan kebenaran dan kebenaran belum lagi sampai kepada mereka.[]


[1]. "Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa." (Qs. Al-Ra'ad [13]:35)   
[2]. "Athiu'Llah wa Athi'urasul wa Ulil Amri minkum," (Qs. Al-Nisa [4]:59); Qul laa as'ulukum 'alaiha ajran illa al-mawaddah fii al-qurba", (Qs. Al-Syura [42]:23); "Man kuntu mawla fahadza Aliyun Mawla," al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, jil. 3, hal. 109.  
[3]. Namun terkait dengan pembahasan kebutuhan manusia terhadap imam menuntut pembahasan yang lebih jeluk, dan hal tersebut tidak terpenuhi dengan artikel semacam ini, karena itu rincian pembahasan ini akan kami alokasikan pada waktu yang lain.  
[4]. Al-Ishâba fii Tamyyizz al-Shahâbah, Asqalani, jil. 2, hal. 174.  
[5]. Rasyfatu al-Shad, Sayid Syihabuddin Syafi'i, hal. 25; Yanâbi' al-Mawaddah, Syaikh Salman Hanafi, hal. 114.  
[6]. Syawâhid al-Tanzil, Huskani, jil. 1, hal. 59 & 90.  
[7]. Manâqib Khawarazmi, hal. 19 dan 212; Kifâyat al-Thâlib, Ganji Syafi'i, hal. 214.
[8]. "Tsumma lam yuwalikum ya Ali lam yasyumm raihata al-jannah wa lam yadkhuluha." Khatib Khawarazmi, Maqtal al-Husain As, Khawarazmi, jil. 1, hal. 37.




Infometafisik.com - 

Read more »

Kisah Nyata di Amerika Serikat , Bukti keutamaan "Ayat Kursi"


Kisah Nyata di Amerika Serikat , Bukti keutamaan "Ayat Kursi"

 Ini kisah nyata dari Amerika (US) sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal Asia yang mengenakan jilbab.

Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman . Suasana jalan setapak sepi . Ia melewati jalan pintas.

Di ujung jalan pintas itu, dia melihat ada sosok pria setengah mabuk. Ia menyangka pria itu seorang warga Amerika . Tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya.

Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimah Allah. Kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca Ayat Kursi berulang-ulang seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah swt. Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa. Sekilas ia melirik ke arah pria itu. Orang itu asik dengan rokoknya, dan seolah tidak mempedulikannya.

Keesokan harinya , wanita itu melihat berita kriminal, seorang wanita melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam. Dan wanita itu melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya di lorong gelap itu. Karena begitu ketakutan, ia tidak melihat jelas pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan pintas tersebut.

Hati muslimah ini pun tergerak karena wanita tadi melintas jalan pintas itu hanya beberapa menit setelah ia melintas di sana. Dalam berita itu dikabarkan wanita itu tidak bisa mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca, dari beberapa orang yang dicurigai polisi.

Muslimah ini pun memberanikan diri datang ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan kepada wanita tersebut, karena ia menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas.

Melalui kamera rahasia, akhirnya muslimah ini pun bisa menunjuk salah seorang yang diduga sebagai pelaku. Ia yakin bahwa pelakunya adalah pria yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok .

Melalui interogasi polisi akhirnya orang yang diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannyaa. Tergerak oleh rasa ingin tahu, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi.

Muslimah : “Apa Anda melihat saya? Saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kauperkosa itu? Mengapa Anda hanya menggangunya tapi tidak mengganggu saya? Mengapa Anda tidak berbuat apa-apa padahal waktu itu saya sendirian?”

Penjahat : “Tentu saja saya melihatmu malam tadi. Anda berada di sana malam tadi beberapa menit sebelum wanita itu. Saya tidak berani mengganggu Anda. Aku melihat ada dua orang besar di belakang Anda pada waktu itu. Satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda.”

Muslimah itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Hatinya penuh syukur dan terus mengucap syukur. Dengkulnya bergetar mendengar penjelasan pelaku kejahatan itu, ia langsung menyudahi interview itu dan minta diantar keluar dari ruang itu oleh polisi.

***

Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah Subhanahu wa ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain.

Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar berkata, ”Yang paling baik digunakan untuk melawan jin yang masuk ke dalam tubuh manusia adalah dzikrullah (dzikir kepada Allah) dan bacaan Al Qur`an. Dan yang paling besar dari itu ialah bacaan ayat kursi, karena sesungguhnya orang yang membacanya akan selalu dijaga oleh penjaga dari Allah, dan ia tidak akan didekati oleh setan sampai Subuh, sebagaimana telah shahih hadits tentang itu”.



Infometafisik.com

Read more »

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *