Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Mei 2015

Kapal Perang Turki Bergerak ke Aceh

Kapal perang Turki
Kapal perang Turki


Pemerintah Turki mengirimkan kapal perangnya menuju perairan sekitar Aceh. Pengiriman itu dimaksudkan untuk menyelamatkan para pengungsi Rohingya yang terombang ambing di sekitar Asia Tenggara.
“Pemerintah telah menginstruksikan kapal perangnya berlayar menuju Asia Tenggara untuk bergabung dengan utusan internasional dalam membantu pengungsi Rohingya,” ujar Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, demikian dikutip dari Kantor Berita China Xinhua, Jumat (22/5).
Tak hanya itu, pemerintah Turki juga menyumbangkan dana sebesar USD 1 juta sebagai bantuan kemanusiaan terhadap pengungsi Rohingya dan Bangladesh. Bantuan ini diserahkan melalui lembaga PBB untuk pengungsi.
Pengungsi Rohingya
Pengungsi Rohingya

“Turki juga akan mencoba kemungkinan membantu operasi kemanusiaan untuk memastikan tersampaikannya bantuan kemanusiaan terhadap Rohingya dan Bengalis yang terombang ambing di laut lepas,” demikian pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Turki.
Seperti diketahui, ratusan pengungsi Rohingya dilaporkan memasuki perairan Thailand sejak awal bulan ini. Keberadaan mereka menyusul pengungsi lainnya yang terdampar di wilayah Indonesia.
PBB memperkirakan masih ada ribuan pengungsi yang terombang ambing di lautan setelah ditinggalkan begitu saja oleh pihak yang memfasilitasi mereka untuk keluar dari Myanmar. Dari data yang ada, lebih dari 25 ribu etnis Rohingya keluar dari negerinya selama tiga bulan terakhir.



Merdeka.com

Read more »

Menulis di Atas Pasir, Memahat di Atas Batu


Menulis di atas pasir
Menulis di atas pasir – Inspirasi
Bagaimana cara kita menyikapi orang yang menyakiti kita? Apakah kita pendam perasaan dendam untuk kemudian kita lampiaskan saat kesempatan itu tiba? Mari kita tengok kisah motivasi untuk memaafkan kesalahan dan mengingat-ingat kebaikan.
.
Dalam suatu perjalan melintasi gurun pasir, sepasang suami istri bertengkar. Suaminya menghardik dengan keras. Istri yang kena hardik, merasa sakit hati. Tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir:HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi. Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis di sebuah batu: HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Suami bertanya:
“Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu ?”

Istrinya sambil tersenyum menjawab :
“Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu dan aku bisa melupakannya. Dan bila sesuatu yang baik dan luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya di atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin waktu dan akan kuingat selamanya.”
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangat menyakitkan, oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masalah yang lalu. Yang terpenting dari pelajaran di atas, adalah : “Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR untuk semua hal yang MENYAKITKAN dan selalu MENGUKIR DI ATAS BATU untuk semua KEBAIKAN.




www.jagatmotivasi.com

Read more »

Sabtu, 17 Januari 2015

Tulisan Salim A. Fillah Ini Menyentak Nurani Muslim Indonesia

 
 
Islamedia.co - Sebuah tulisan yang menyentak nurani umat Islam Indonesia menyebar melalui broadcast sosial media Blackberry Messenger dan WhatsApp. Tulisan yang ditulis oleh Salim A. Fillah, Ustadz muda dan penulis buku-buku Islam ini, menuturkan apa yang disampaikan oleh seorang Ulama Palestina, Syaikh Dr. Abu Bakr Al 'Awawidah tentang Peradaban Islam yang silih berganti dipimpin dari bangsa satu ke bangsa yang lain. Hingga menceritakan siapa kelak yang akan memimpin peradaban Islam selanjutnya dan membebaskan Al-Aqsha. Wakil Ketua Rabithah 'Ulama Palestina itu, seperti disebut Salim, menyitir hadist RasululLah bahwa pemimpin peradaban itu berasal dari Timur. 
 
Berikut tulisan lengkap yang dikutip Islamedia.co setelah konfirmasi langsung dari penulisnya melalui media sosial WhatsApp 4 Nopember 2014:
 
Suatu saat kami duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al 'Awawidah, Wakil Ketua Rabithah 'Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, "Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa 'Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?"

Beliau tersenyum. "Tidak begitu ya Ukhayya", ujarnya lembut. "Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama & kejayaan itu."

"Pada kurun awal", lanjut beliau, "Allah memilih Bangsa 'Arab. Dipimpin RasuluLlah, Khulafaur Rasyidin, & beberapa penguasa Daulah 'Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka."

"Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah 'Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak 'Ulama & Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia."

"Lalu ketika Bangsa Persia berpaling & menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya."

"Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk."

"Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; 'Utsman Orthughrul & anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih."

"Ketika Daulah 'Aliyah 'Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini."

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. "Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek", katanya sedikit tertawa, "Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini."

"Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para 'Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah 'Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah 'Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke", ujar beliau terkekeh.

"Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam."

"Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaaLlah."

Ah.. Campur aduk perasaan, tertusuk-tusuk rasa hati kami di Jogokariyan mendengar ini semua. Ya Allah, tolong kami, kuatkan kami..

Ustadz Salim A. Fillah

Read more »

Rusia Larang Media Edarkan Kartun Nabi Muhammad

 
Badan Pengawas Telekomunikasi, IT, dan Komunikasi Massa Federal Rusia (Roscomnadzor) memperingatkan media untuk tidak menerbitkan dan mengedarkan karikatur bertema reliji.

"Dilarang mencetak dan mendistribusikan karikatur bertema agama dapat dianggap menyinggung atau merendahkan denominasi agama dan asosiasi," demikian penjelasan Roskomnadzor seperti termuat dalam situsnya.

"Menghasut kebencian terhadap satu etnis dan agama merupakan pelanggaran hukum langsung," lanjut pengumuman itu.

Roscomnadzor merasa perlu mengingatkan semua media di Rusia, menyusul pencetakan besar besaran edisi khusus Charlie Hebdo, majalah penista agama atas nama kebebasan berbicara, sebanyak lima juta eksemplar dan didistribusikan ke 25 negara.

Tidak ada penjelasan apakah Rusia termasuk salah satu negara yang kebagian mendistribusikan edisi khusus Charlie Hebdo. Edisi khusus ini dicetak dan dipasarkan sepekan setelah serangan mematikan ke kantor majalah itu.

Sampul depan edisi khusus bergambar karikatur Nabi Muhammad mengucapkan Jes Suis Charlie, atau Saya adalah Charlie. Di Eropa Barat, kartun laris manis, di belahan dunia lainnya 1,5 miliar pemeluk Islam marah.

Tahun 2006, Kejaksaan Moskwa dan sejumlah republik di Rusia mengambil langkah pencegahan terhadap kemungkinan pencetakan ulang kartun Nabi Muhammad yang terdapat dalam surat kabar Jyllands-Posten.

Kartun ini menimbulkan kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Moskwa tidak ingin kartun itu dicetak ulang dan diedarkan di Rusia, karena akan menimbulkan kemarahan jutaan Muslim Rusia.

Dua tahun kemudian Newsweek edisi Rusia menerima teguran keras ketika mencetak ulang kartun Nabi Muhammad.

Roscomnadzor mengatakan larangan ini merupakan solidaritas tanpa syarat terhadap Muslim Rusia, dan segala bentuk penistaan yang dapat menimbulkan tindakan ektremisme dan terorisme.

Read more »

Selasa, 13 Januari 2015

Telinga dan Tangan Ibu


Telinga dan Tangan Ibu – Berada bersama ibu begitu menenangkan. Sebab rasanya ibu tak pernah lelah menjadi ‘telinga terbaik’ bagi setiap cerita yang mengalir deras dari mulut saya, setiap kali sampai di rumah, selesai beraktifitas seharian. Ibu tak perlu bertanya apapun, saya akan duduk manis berlama-lama di kamarnya, menumpahkan segala yang telah memenuhsesakkan dada ini. Saya tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa celoteh saya saat itu bisa jadi akan menambah lelah dan memberatkan beban yang sudah menggelantung di pundak ibu. Tapi senyumnya tetap melipur hati, seolah letih itu tak ada.
Telinga dan Tangan Ibu
Telinga dan Tangan Ibu [revolusi-batin]

Hari itu, saya begitu tergesa sampai di sekolah, hampir saja terlambat. Pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya, saya telah ikut sibuk membereskan banyak sekali barang. Sekitar pukul tujuh, saya dan ibu telah berada di sebuah lobby hotel terkenal di Jakarta. Hari itu, untuk yang pertama kalinya, saya berhadapan dengan sekian banyak turis yang berseliweran dengan wajah-wajah penuh antusias memandangi, melihat-lihat, dan bercakap-cakap dengan kami-para penjaja barang dagangan di stand bazaar. Kali itu, saat yang istimewa bagi ibu, hari pertama menjadi peserta bazaar yang dihadiri para turis maupun pekerja asing. Saya pun tak kalah semangatnya, sepanjang siang di sekolah tak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri, sampai teman sebangku saya-Rani namanya-rasanya sudah begitu bosan mendengar celotehan saya tentang pengalaman pagi itu. Menyaksikan dan terkikik geli mendengar ibu bercakap-cakap dengan para pembeli. Ngawur, tapi tetap saja ngotot. Padahal ibu tak bisa berbahasa Inggris.
Saya rasa Allah telah menganugerahkan ibu sepasang ‘tangan ajaib’. Saya ingat, belasan tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD, rumah kami penuh dengan pernak-pernik. Saat itu, puluhan gulung pita berwarna-warni menumpuk di sudut kamar. Berjejeran pula berlembar-lembar karton tebal, busa, serta tumpukan kain. Saat itu, saya selalu senang memandangi dan bermain-main di ‘pojok berantakan’ milik ibu. Kedua tangannya telah menghasilkan barang-barang yang begitu menarik di mata saya. Saat itu, saya dengan gembira menyambut tawaran ibu untuk menjadi ‘asistennya’. Dan saya pun asyik bergumul dengan plastik-plastik kecil, membukanya kemudian memasukkan pita rambut warna-warni hasil karya ibu, dan menjepitnya dengan stapler. Hanya itu. Ibu tak memperkenankan saya untuk menyentuh ‘tempat foto’ cantik buatannya, yang digantung berjejer di dinding kamar. Belum lagi tumpukan souvenir pesta pernikahan, entah ada berapa ratus. Kegembiraan saya berada di antara benda-benda menarik itu seperti membuat saya lupa, bahwa saya sering menemukan ibu terkantuk-kantuk duduk di ‘meja operasi’nya sampai tengah malam, menyelesaikan pesanan.
Ibu telah menghabiskan entah berapa bagian waktu dalam hidupnya untuk menjadi ‘ember’ ternyaman bagi diri saya. Di sanalah saya menumpahkan segala macam hal yang sering membuat ibu tersenyum geli, tertawa, atau mungkin juga turut bersedih atas apa yang saya alami. Ajaibnya, kini saya tak lagi perlu memulai percakapan itu. Sepertinya ibu telah mengetahui segala isi hati saya, tanpa perlu saya ungkapkan. Begitukah seorang ibu? Saya sempat berpikir, tak usahlah lagi menceritakan segala hal padanya. Mungkin itu hanya akan menambah lelahnya. Saya memutuskan untuk berhenti berceloteh pada ibu, toh saya sudah dewasa, dan tak lagi pantas memberatkannya dengan hal-hal tak penting macam celotehan itu. Namun hari itu, ibu menelpon saya ke kantor dan menegur saya, “Ta, kapan kamu ke rumah? Kita kan udah lama nggak cerita-cerita…”
Ibu tak hanya pendengar setia bagi celoteh anaknya, namun ia juga telah memberi dan mengajarkan saya banyak hal melalui kedua ‘tangan ajaib’nya. Ia mengajarkan saya untuk selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, melalui mimik wajah serta kalimat-kalimatnya menanggapi setiap perkataan yang saya ucapkan. Saya belajar, bahwa setiap perhatian kecil yang diberikan kepada seorang anak, maka yang tersimpan padanya adalah sebuah kasih sayang besar dan keyakinan bahwa ia disayangi. Saya belajar, bahwa kedua tangan anugerah Allah ini, adalah modal bagi kerja keras yang harus dilakukan demi orang-orang tercinta, keluarga. Entah apapun yang dapat diperbuat.
Saya tak heran, betapa banyak teman dan relasi bisnis yang ibu miliki sekarang. Banyak pula kerabat dekat yang betah berlama-lama mengobrol dengan ibu. Tak sedikit orang yang mengagumi ‘bakat’ yang mereka katakan terhadap keterampilan yang ibu miliki. Ibu menyebutnya hobi, tapi saya memahaminya sebagai cara ibu bersenang-senang dengan ‘tuntutan’ padanya untuk membantu ayah membiayai keluarga. Seringkali lelah membayang dalam raut wajah ibu, namun tak jarang saya mendapatinya berbinar kala ‘tangan ajaib’nya telah berhasil ‘menciptakan’ karya baru.
Sekarang ini, adalah giliran saya untuk menjadi ‘telinga terbaik’ bagi ibu sampai hari tuanya nanti, dan mempersembahkan hasil yang dapat saya raih dari kedua belah tangan ini untuk membahagiakannya.


Sumber: Eramuslim:Jagat Motivasi

Read more »

Selasa, 11 November 2014

Cocokologi


Oleh: Akmal Sjafril

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ini adalah cabang ilmu baru. Dengan menggunakan ilmu ini, maka segala hal bisa dicocok-cocokkan dengan Al-Qur’an, sumber hukum paling utama dalam ajaran Islam. Dimulai dari musibah.

Mengapa harus mulai dari musibah? Ya, karena musibah adalah suatu hal yang dapat dengan mudah menyentuh hati manusia. Selain itu, musibah juga secara otomatis mengingatkan manusia kepada Sang Pencipta. Bahkan orang ateis pun – konon – ketika berada dalam situasi genting, akan kelepasan ngomong “Ya Tuhan!” Kalau seorang ateis pun bisa begitu, apalagi rakyat Indonesia yang dikenal sangat religius ini.

Meletusnya Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu jelas membuat semua orang kaget. Letusannya pun tak tanggung-tanggung. Angin yang bertiup ke arah Barat menyapu Yogyakarta, Solo dan sekitarnya dengan abu vulkanik. Beberapa bandara terpaksa ditutup karena tak ada pilot waras yang mau menerbangkan pesawatnya di tengah hujan abu vulkanik yang demikian dahsyat.

Marilah kita mulai mencocokkan. Meletusnya Gunung Kelud terjadi pada tanggal 13 Februari 2014 sekitar pukul 22:49 WIB. Data inilah yang akan jadi landasan berpijak kita.

Paling tidak, ada dua metode yang lazim digunakan dalam ilmu Cocokologi ini. Pertama, cocokkan hari dan bulan kejadian dengan surah dan ayat dalam Al-Qur’an. Kedua, cocokkan jam dan menit kejadian dengan surah dan ayat dalam Al-Qur’an. Mudah, bukan? Mari kita coba!

Dengan metode pertama, kita temukan ayat ke-2 dalam surah ke-13 sebagai berikut:

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu. (QS. Ar-Ra’d [13]: 2)

Dengan membaca kandungan ayat di atas, jelaslah bahwa musibah meletusnya Gunung Kelud (dan kejadian-kejadian sesudahnya, termasuk hujan abu) semestinya mengingatkan kita kepada kebesaran Allah s.w.t. Mungkin manusia selama ini sudah terlampau jauh melupakan kuasa-Nya, sehingga Allah s.w.t menegur manusia dengan cara yang tidak kita sangka-sangka.

Beralih kepada metode kedua, kita cek ayat ke-49 dalam surah ke-22 sebagai berikut:

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu”. (QS. Al-Hajj [22]: 49)

Senada dengan ayat sebelumnya, ternyata musibah seputar Gunung Kelud memang berfungsi sebagai peringatan yang nyata bagi seluruh manusia. Di sini, Gunung Kelud seolah-olah ‘bekerja’ menyerupai Nabi Muhammad s.a.w. Sebab, yang diperintahkan untuk angkat bicara dan memberi peringatan kepada manusia dalam ayat di atas sesungguhnya adalah Nabi Muhammad s.a.w. Tapi analogi ini bolehlah kita terima.

Dengan menggunakan kedua metode berdasarkan ilmu Cocoklogi di atas, memang nampaknya sangat pas. Musibah meletusnya Gunung Kelud ini adalah sebuah peringatan bagi manusia yang sudah melampaui batas. Saatnya kita bertaubat. Namun tidak ada salahnya kita memberikan sejumlah pengujian kepada metode yang ‘masih bayi’ dan serba baru ini.

Pertama, kedua ayat di atas sebenarnya berbicara tentang hal yang sangat umum. Kebesaran Allah s.w.t pada QS. 13:2 dan peringatan kepada manusia pada QS. 22:49 adalah hal yang umum yang sebenarnya berlaku dalam segala kondisi. Karena itu, patutlah kita bertanya: apa bedanya musibah yang satu ini dengan musibah yang lain? Mengapa harus menunggu musibah pada tanggal 13 Februari pukul 22:49 WIB dulu baru kita mengingat kebesaran Allah dan memperhatikan peringatan dari-Nya? Kalau musibah terjadi pada tanggal lain dan jam lain, apakah kita tidak perlu melakukan hal yang sama? Jika semua musibah semestinya mengingatkan kita pada kebesaran Allah dan peringatan dari-Nya, maka apa istimewanya musibah kali ini?

Kedua, dengan berpegang pada kedua metode Cocokologi tadi, maka sebenarnya kita pun dapat menyimpulkan adanya waktu-waktu saat musibah tak mungkin terjadi. Berdasarkan metode pertama, musibah takkan terjadi pada setiap tanggal 1 Agustus, 1 September, 1 Oktober, 1 November dan 1 Desember. Sebab, tanggal-tanggal ini akan merujuk pada ayat ke-8, 9, 10, 11 dan 12 dalam surah pertama. Padahal, semua orang tahu bahwa Surah Al-Fatihah hanya tujuh ayat!

Berdasarkan metode kedua, kita dapat simpulkan pula bahwa musibah takkan terjadi antara jam-jam tertentu. Jam-jam ‘bebas musibah’ itu adalah pukul 00:00-00:59 (karena tak ada surah ke-0), pukul 01:08-01:59 (karena surah ke-1 hanya sepanjang tujuh ayat), dan pukul 14:53-14:59 (karena surah ke-14 hanya sepanjang lima puluh dua ayat).

Selain itu, dapat pula kita simpulkan bahwa mulai dari surah ke-32 (As-Sajdah) hingga ke-114 (An-Naas) tidak dapat dimanfaatkan untuk mencari hikmah dari musibah apa pun. Sebab, metode pertama maksimal hanya sampai surah ke-31 (Luqman), dan metode kedua maksimal hanya sampai surah ke-23 (Al-Mu’minuun).

Ketiga, dengan sedikit pengujian, kita dapat melihat bahwa poin kedua di atas tidak terbukti benar. Sebab, nyatanya ada juga musibah yang terjadi pada tanggal 1 Agustus. Misalnya, pada tahun 2012, banjir besar terjadi di Ambon, mengakibatkan berbagai kerusakan akibat banjir, longsor, dan juga menimbulkan korban jiwa dan sejumlah masyarakat harus mengungsi. Dengan menggunakan metode pertama dalam ilmu Cocokologi, maka musibah yang satu ini menjadi tak bermakna. Adapun metode kedua tidak dapat digunakan, karena tidak mudah menetapkan jam dan menit ketika banjir terjadi.

Pada tanggal 28 Januari 2014 yang lalu, terjadi bencana longsor di Jombang. Waktu kejadiannya adalah pada pukul 01:30 WIB. Dengan menggunakan metode kedua, penafsiran akan menemukan jalan buntu, karena tidak ada QS.1:30. Adapun dengan menggunakan metode pertama, kita akan sampai pada ayat sebagai berikut:

Thaa Siin Miim. (QS. Al-Qashash [28]:1)

Tentu saja penafsiran ini pun problematis, sebab hingga detik ini tak ada yang dapat secara meyakinkan memberikan pemaknaan terhadap ayat-ayat semacam ini. Ayat-ayat seperti ini disebut sebagai ayat-ayat mutasyabihat, yaitu yang maknanya tidak diketahui secara pasti. Untuk menafsirkan yang semacam ini, “Wallaahu a’lam” adalah jawaban yang paling tepat.

Keempat, kita perlu mengingat juga bahwa ilmu Cocoklogi ini bergantung pada dua hal: kalender Gregorian dan zona waktu. Kedua-duanya adalah hasil kesepakatan manusia. Belum lama ini bahkan ada wacana untuk menyatukan seluruh wilayah Indonesia ke dalam satu zona waktu. Artinya pula, jika ada kesepakatan lain, kita bisa saja membagi wilayah Indonesia ini menjadi lima, enam atau tujuh zona waktu. Andaikan Zona WIB terbagi dua, dan Gunung Kelud berada pada wilayah yang lebih di timur, maka anggaplah ada perbedaan waktu setengah jam dengan wilayah yang di barat. Maka, waktu kejadian tidak akan menjadi 22:49, melainkan 23:19.

Jika kita mengecek ayat ke-19 dalam Surah ke-23, kita akan temukan ayat yang justru sama sekali tidak berbicara tentang musibah. Dalam ayat ini, Allah berfirman:

Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan. (QS. Al-Mu’minuun [23]: 19)

Kelima, kita pun perlu bersikap kritis. Siapakah ulama yang mendukung ilmu Cocokologi ini? Jika memang ilmu ini sangat tepat untuk mengungkap hikmah di balik berbagai peristiwa, mengapa ia hanya beredar melalui broadcast, e-mail, dan media sosial? Mengapa tak ada nasihat resmi dari MUI, MIUMI, DDII, atau Ikadi yang menggunakan ilmu ini?

Keenam dan terakhir, kita pun perlu mewaspadai pengembangan dari ilmu Cocokologi ini. Jangan-jangan, kelak akan digunakan pula untuk meramal masa depan anak. Tanggal dan waktu kelahiran anak dicocok-cocokkan dengan Al-Qur’an untuk meramal pekerjaan yang tepat baginya, atau semacamnya. Atau tanggal dan waktu kelahiran dicocok-cocokkan dengan calon suami atau istri, untuk mengetahui cocok-tidaknya mereka untuk menjadi pasangan sehidup-semati.

Betapa tipis jarak antara iman dan syirik.

Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Facebook Akmal Sjafril : Lampu Islam

Read more »

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *