Kamis, 03 April 2014

Latihan gabungan AL jadi momentum Indonesia




JAKARTA - Pengamat kajian strategis dari Universitas Pertahanan Indonesia, Anton Ali Abbas, menilai latihan militer bertajuk Multilateral Naval Exercise Komodo 2014 yang dilaksanakan sejak hari ini hingga Jumat (04/04) mendatang di perairan Anambas dan Natuna merupakan momentum bagi Indonesia untuk mengukuhkan kedaulatan wilayah.

"Belum lama ini pemerintah Indonesia mempersoalkan Cina yang mencaplok Natuna. Pihak TNI Angkatan Laut rencananya akan menerbitkan peta wilayah, terutama Natuna. Harapannya adalah menunjukkan kedaulatan bahwa ini wilayah Indonesia. Tinggal kita lihat bagaimana tanggapan Cina," kata Anton.

Bulan lalu, Asisten Deputi I, Bidang Dokrin Strategi Pertahanan, Kemenko Polhukam, Marsekal Muda TNI Fahru Zaini mengatakan Cina memasukkan sebagian wilayah perairan laut Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, ke dalam peta wilayah mereka.

Simulasi

Selanjutnya, Anton menyoroti motivasi sejumlah negara yang mengikuti latihan gabungan. "Sisi positifnya, latihan itu bisa mengurangi ketegangan di Laut Cina Selatan. Namun, dari sisi negatif, latihan itu dapat dipakai masing-masing negara untuk menunjukkan kesiapan mereka."

Saat dihubungi terpisah, Kepala Dinas Penerangan Komando Armada Barat Angkatan Laut RI Letnan Kolonel Agus Cahyono, menyatakan latihan gabungan bertujuan menyusun protokol kerja sama antarnegara dalam penanggulangan bencana, terutama yang terjadi di wilayah perairan.

Dalam salah satu simulasi, Agus mencontohkan, kapal-kapal dari berbagai negara berupaya menggelar operasi pencarian dan penyelamatan setelah sebuah anjungan pengeboran minyak lepas pantai di perairan Anambas dan Natuna meledak.

"Berdasarkan simulasi itu, dilakukan latihan evakuasi medis. Kemudian, latihan landing (pendaratan) helikopter antarkapal perang. Ini murni latihan bersama, multilateral, membentuk suatu protokol kemanusiaan sehingga kita bisa menanggulangi bersama suatu bencana jika suatu saat terjadi," kata Agus kepada BBC Indonesia.
Latihan itu diikuti sejumlah negara Asia Pasifik, semisal Indonesia, Cina, India, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Australia. Meski demikian, Rusia dan Amerika Serikat juga turut berpartisipasi dengan mengirimkan beberapa kapal perang.


 


BBC

Read more »

RI Siap Produksi Jet Tempur Pesaing F18, Harga Lebih Murah


F-18 milik AS (Foto: Reuters)
 
Jakarta -Industri strategis nasional bersama Kementerian Pertahanan sedang mengembangkan pesawat tempur tipe KFX/IFX. Dalam pengembangan dan produksi pesawat tempur ini Indonesia menggandeng Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

KFX/IFX sendiri merupakan varian jet tempur generasi 4,5. Pesaing pesawat ini adalah F18 buatan Amerika Serikat dan Dessault Rafale buatan Prancis. Produksi tipe IFX di dalam negeri menghemat pengeluaran anggaran karena harga jual lebih murah.

"Harga jauh lebih murah. Kedua ini target kita produsen juga. Hitungannya jauh lebih murah daripada beli. Yang paling utama. Pajak pembelian, pajak keuntungan, pajak lain-lain balik ke Indonesia yakni sebanyak 30% karena dibeli di dalam negeri," kata Kepala Bidang Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Said Didu di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (2/4/2014).

Said menjelaskan pengembangan pesawat tempur karya putra-putri Indonesia terus berjalan meskipun terjadi pergantian pemerintahan atau presiden.

"Kemarin Korea sudah putuskan ini akan dilanjutkan. Meski terhenti 2 tahun. Itu sudah jalan. Kemarin dia pilih seri 4,5," sebutnya.

Pesawat untuk varian Indonesia yakni IFX akan diproduksi di markas PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jawa Barat. Di tempat yang sama, Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisyahbana menjelaskan jet tempur KFX mulai diproduksi secara massal pada tahun 2020.

Saat ini tenaga ahli PTDI sedang mempersiapkan rancangan pesawat tempur generasi 4,5 tersebut.

"Diproduksi baru masuk tahun 2020. Persiapan banyak kita lakukan. Rancangan bangun dikembangkannya KFX/IFX. Kita rancang sesuai dengan kebutuhan TNI," kata Andi.
(feb/ang)




detiknews

Read more »

Ini Kelebihan Pesawat Baru "Racikan" Habibie


JAKARTA - Presiden ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disapa BJ Habibie meluncurkan buku barunya yang berjudul Tak Boleh Lelah dan Kalah.

Peluncuran buku tersebut dilakukan di Gedung Bank Indonesia, Thamrin, Jakarta. Dalam sambutannya, BJ Habibie menyebutkan bahwa buku berjudul Tak Boleh Lelah dan Kalah mengacu pada pengalaman hidupnya.

Salah satunya adalah curahan hati saat PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang selanjutnya berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) harus ditutup pada 2002.

Meski begitu, BJ Habibie menekankan bahwa dirinya akan melanjutkan keberlangsungan PTDI, yang telah mendapatkan momen kebangkitan pada awal 2012 lalu.

"PTDI akan saya lanjutkan dengan produksi pesawat yang lebih canggih dari N250. Saya dengan tim sedang merekayasa sebuah pesawat bernama R-80 yang dalam satu tahun lagi akan kami persiapkan supaya bisa mengudara pada 2017," ujar Habibie di Gedung BI, Jakarta, Selasa (1/4/2014).


Pesawat R-80 ini memiliki makna R dari kata Regional dan 80 adalah jumlah penumpang pesawat tersebut. Kelebihan pesawat dengan teknologi anyar ini adalah memiliki baling-baling yang dapat menentukan antara angin yang dingin dan angin panas yang berasal dari engine atau mesin.

Gunanya adalah terjadi campuran angin dingin dan angin panas sehingga bisa mendapatkan kecepatan yang lebih tinggi. Campuran angin dingin dan angin panas itu disebut bypass ratio. Semakin tinggi bypass ratio yang dimiliki, energi bahan bakar yang digunakan semakin irit.

"Airbus atau Boeing punya bypass ratio 12, semakin sedikit bypass ratio, maka makin sedikit tingkat efisiensi bahan bakarnya. R-80 memiliki bypass ratio 40, sasarannya kurang lebih 30 persen konsumsi bahan bakarnya lebih irit, lebih efisien," ujar Habibie.

Produksi pesawat terbang R-80 akan dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia. Produksi proyek pesawat ini diharapkan akan mampu mendongkrak nasionalisme rakyat Indonesia, berjalan lancar. "Saat ini saya sedang mempersiapkan ini bisa terbang tahun 2017. Yang bikin nanti Dirgantara Indonesia," kata Habibie.

 



Read more »

Rabu, 02 April 2014

Cintailah Industri Strategis Indonesia


Alutsista kebanggaan buatan dalam negeri


Alutsista kebanggaan buatan dalam negeri

Percepatan Minimum Essential Force (MEF) yang dibangun Kemenhan tidak hanya fokus impor dari luar negeri, tapi juga dengan produsen-produsen dalam negeri. Keseriusan Kemenhan bisa dilihat dnegan penandatangan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah industri alutsista dalam negeri yang dilakukan pada Maret 2012 silam.

“Jumlah kontraknya mencapai Rp 1,3 triliun,” ujar Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro saat itu.

Perusahaan yang dilakukan MoU adalah PT Dirgantara Indonesia, PT Palindo Marine, PT Pindad, PT Infra RCS Indonesia dan PT Sari Bahari. Selama ini kita telah mengetahui pengembangan BUMN Industri strategis seperti PT DI melalui kerjasama pembuatan alat militer bersama pihak produsen luar negeri seperti pesawat CN-295, CN-235, Helikopter Bell 412, Cougar EC-725, Fennec AS-555, dll.

Lalu ada PT Pindad dengan berbagai macam senjata ringan hingga ke kendaraan lapis baja roda biasa seperti Anoa, Komodo, Rantis 4×4 maupun roda rantai seperti rencana membuat MBT dan tank kelas ringan/sedang yang mampu menjadi andalan dalam kondisi geografis kita. Dalam MoU itu juga ada beberapa alutsista strategis seperti pembuatan Rocket FFAR, Radar/ECDIS, serta pembuatan peluru kendali.

Pembuatan FFAR atau Fin Folding Aerial Rocket ini buatan PT DI hasil Transfer of Technology (ToT) dari produsen asal Eropa, Lesca dengan bersandar lisensi dari Belgia. Ada dua tipe yang dikembangan PT DI yaitu RD 701 berbasis FFAR MK 4 dan RD 7010 berbasis MK 40. Saat ini untuk pengembangan sudah hampir 100%. Sedangkan hulu ledaknya sudah 100 persen buatan lokal dibantu Lapan dengan sistem Doublebase atau basis ganda, sehingga FFAR buatan dalam negeri bisa setara dengan produk-produk luar.

Rocket FFAR buatan dalam negeri – Hulu ledak 100% komponen lokal


Spesifikasi

Diameter : 70 mm (2.75 inchi)
Panjang : 120 cm
Berat : 8.4 Kg
Jarak efektif : 3,400 m
Berat Warhead : 2.7 Kg

Untuk radar/ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) atau sistem informasi navigasi laut sesuai dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga sudah dibuat oleh PT Infra RCS Indonesia. Untuk ECDIS ini murni hasil anggaran pengembangan dari PT Infra. Selain itu PT Infra juga telah mengembangkan Electronic Support Measures (ESM) dan rencana pengembangan bersama WECDIS dengan TNI AL.

INFRA

Selain Infra, ada juga dari BUMNIS yaitu PT. LEN Industri seperti Radar Processing dan Display Console untuk teknologi Modern radar dan Legacy radar. Selain Radar/ECDIS PT LEN juga mengembangkan atau memproduksi Combat Management System (CMS), Transoder TPO TLM-01 (untuk kapal selam), Len Cryptosys (Modem Enkripsi asli buatan dalam negeri), peralatan komunikasi radio portable (Manpack)/Base Station/Vehicle, dll.

Surveillance & Reconnaissance Device


peralatan komunikasi radio portable (Manpack), Base Station, Vehicle


Sedangkan Peluru kendali, berdasarkan Rencana Strategis 2010-2014 Konsorsium Roket untuk TNI AD memerlukan RX-100 yang Alhamdulillah telah behasil yaitu R-Han 122 (a) tinggal uji tabel tembak, TNI AL RX-122 sama yaitu R-Han 122b dengan jarak dibawah 40 km-tinggal uji Tabel dan RX-320 pengembangan bersama litbang TNI AL dengan jarak 70 Km atau lebih.
sotong 42



Sotong. Image: ryanmesin.wp


Ranjau Laut

Smart Bomb – Dislitbang
RX-320 – sejenis Exocet dengan jarak 180 km



Untuk RX-320 ini direncanakan untuk mengganti Exocet dan telah dilengkapi Infrared Seeker Head. Dan terakhir untuk TNI AU ada RX-70 dengan jangkauan 7.9 km dan ini juga sudah dikembangkan untuk dicantel di pesawat tempur kita.

Diharapkan Alutsista ringan maupun kelas berat ini bisa mengisi tiga matra TNI agar terciptanya MEF pertama bisa diwujudkan. Untuk MEF kedua ada rencana pengembangan dalam negeri juga seperti Tank Medium, APC Amphibious, RX-320 sejenis Exocet dengan jarak 180 km, PSU kelas sedang, Kapal Selam bersama DSME, Kapal Perang PKR/Frigate bersama DSNS Belanda, dll.Cintailah produk-produk dalam negeri



Read more »

Selasa, 01 April 2014

AMX-13 Retrofit Pindad itu Mulai Berjalan

BANDUNG: Setelah ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan, Pindad tak membuang waktu. Perusaan senjata asal Bandung ini segera menggelar uji coba tank AMX-13 hasil Retrofit mereka. Mulai hari ini, 1 april 2014, Tank ringan itu akan diujikan berjalan ke kawasan Sukabumi dan Cianjur untuk melihat olah gerak hasil retrofit. Selain olah gerak, nantinya juga akan dilakukan uji tembak dalam waktu dekat.




Proyek retrofit AMX-13 ini mulai berjalan sejak akhir 2011 lalu. Seharusnya di Tahun 2013 ini Pindad telah melakukan produksi Retrofit AMX. Namun dalam perjalanannya, sejuta rintangan menghambat. Dan akhirnya, pada awal 2014, sebuah prototype bisa diselesaikan.


AMX-13 hasil retofit ini memiliki tampang yang sedikit berbeda dengan slinya. Untuk hull misalnya, terpaksa ditambah panjang sekitar 20cm untuk mengakomodir mesin anyar. Mesinnya sendiri memakai produk Navistar dari Amerika Serikat dengan daya sebesar 400HP.





Sementara pada bagian persenjataan, terpasang meriam 105mm. Selain itu, untuk meningkatkan kemampuan tempur, akan dipasang pula Fire Control System yang kabarnya bikinan Belgia. Selain itu turut dipasang pula Laser Range Finder serta kamera Thermal.









arc

Read more »

Ekspor S-400 ke China, Rusia Beri Lampu Hijau





Presiden Rusia, Vladimir Putin, memberikan lampu hijau untuk penjualan sistem pertahanan udara Rusia terbaru S-400 ke China, surat kabar Kommersant mengutip seorang sumber yang dekat dengan Kremlin. Kommersant mengklaim bahwa sistem pertahanan udara S-400 akan memberikan keunggulan besar bagi Beijing atas wilayah udara di Selat Taiwan dan pulau-pulau lainnya di Laut China Timur.


Di saat yang sama, direktur dari Federal Service for Military-Technical Cooperation Rusia, Alexander Fomin mengatakan bahwa negosiasi untuk penjualan S-400 ke China masih berlangsung. Keputusan untuk menjual S-400 ini dibuat pada awal 2014 lalu. Negoisasi masih membahas mengenai berapa banyak S-400 yang akan China beli beserta harganya. Namun, meskipun kesepakatan akan ditandatangani kedua belah pihak dalam waktu dekat, China baru akan mendapatkan S-400 mereka setelah tahun 2016, yaitu setelah Rusia memenuhi pasokan S-400 untuk dalam negeri.


Sejak 2011 lalu, China menunjukkan niatnya untuk mendapatkan sistem pertahanan udara S-400. Dua tahun lalu, Rusia juga berbicara dengan beberapa negara yang tertarik membeli sistem rudal tersebut, namun negosiasi terpaksa ditunda karena Rusia harus memenuhi terlebih dahulu pasokan S-400 dalam negerinya. Hal ini dikatakan oleh seorang pejabat di agen ekspor pertahanan Rusia "Rosoboronexport" kepada surat kabar Kommersant pada Januari lalu, sembari menegaskan bahwa ekspor S-400 belum bisa dilakukan hingga tahun 2016.


Berbicara mengenai kesepakatan penjualan S-400 dengan China, pejabat-pejabat keamanan Rusia mengkhawatirkan penjualan tersebut tidak hanya akan mengganggu pasokan S-400 dalam negeri Rusia, tetapi yang lebih parah, China juga bisa mencuri teknologi S-400 untuk mereka kembangkan sendiri. Namun produsen S-400 Almaz-Antey membantahnya dengan mengatakan bahwa pasokan S-400 dalam negeri Rusia tidak akan terganggu. Pada bulan Januari lalu, Moskow juga mengumumkan akan membangun tiga parik baru untuk membangun lebih banyak sistem pertahanan udara S-400 dan sistem rudal lainnya.


Meskipun belum jelas berapa banyak S-400 yang akan diperoleh China, sumber Kommersant mengatakan bahwa China ingin membeli S-400 untuk mencukupi kebutuhan 2 hingga 4 batalyon. Angkatan Darat Tentara Pembebasan Rakyat sebelumnya telah mendapatkan sistem pertahanan udara lainnya dari Rusia dan sistem pertahanan udara yang mereka buat sendiri yang mereka kerahkan untuk membela Beijing dan Shanghai, yang menurut kalkulasi di atas kertas, jika Beijing sudah dilengkapi dengan S-400 maka Beijing akan mampu mengontrol wilayah udara Taiwan dan pulau Diaoyutai yang disengketakan dengan Jepang.



S-400 Triumph SA-21 adalah sistem rudal permukaan ke udara jarak jauh yang diproduksi oleh Almaz-Antey, Rusia. S-400 ditujukan untuk mencegat serangan dari udara mulai dari pesawat, helikopter, rudal balistik, UAV dan lain-lain dengan jangkauan maksium 400 km dan di ketinggian hingga 30 km. 




Read more »

AD Thailand Segera Impor Sistem Peluncur Roket China




Angkatan Darat Kerajaan Thailand akan membeli dua sistem peluncur roket jenis baru dari China, Kanwa Defense Weekly yang berbasis di Kanada melaporkan. Menurut sumber China, Thailand segera akan mengimpor sistem peluncur roket WS-1B dan WS-32 dari China, yang masing-masing namanya akan diganti dengan DTI-1 dan DTI-1G.

Selain rencana pembelian sistem peluncur roket, menurut laporan tersebut, Thailand juga telah menandatangani kontrak dengan China untuk pengintegrasian sistem peluncur roket DTI-1G dengan Sistem Navigasi Satelit Beidou China. Pengintegrasian dengan sistem satelit akan lebih meningkatkan akurasi DTI-1G terhadap target.
Thailand awalnya berencana untuk merakit sendiri sistem peluncur roket DTI-1G di dalam negeri di bawah lisensi dari Beijing. Namun sekarang tampaknya Angkatan Darat Thailand akan membeli terlebih dahulu 1 unit DTI-1G langsung dari China, baru kemudian merakit yang lainnya di dalam negeri.
WS-1B adalah MLRS (Multiple Launch Rocket System) 302 mm buatan China yang dirancang dan diproduksi oleh China National Precision Machinery Corporation (CPMIEC), yang berbasis di Beijing, China. WS-1B merupakan versi upgrade dari WS-1 yang jangkauannya telah ditingkatkan sejauh 80 km (WS-1: 100 km, WS-1B: 180 km).
WS-32 adalah MLRS 300 mm buatan China yang menggabungkan teknologi sistem bimbingan dan kontrol yang canggih demi meningkatkan akurasinya. Sistem peluncur roket ini dipasang pada chasis belakang truk 6x6 dengan empat tabung dalam dua baris. W-32 memiliki jangkauan efektif antara 60-150 km. 


Read more »

Ini Wujud Tank Siluman di Masa Depan

Tank konsep PL-01.
Tank konsep PL-01 Prototipe ini akan berjalan sepenuhnya pada 2016..
Pertarungan mesin perang makin seru. Jika saat ini tank buatan Jerman, Leopard 2, dianggap sebagai tank canggih dunia, negeri Kanselir itu segera mendapat saingan dari tetangganya.

Polandia, yang berbatasan langsung dengan Jerman, dilaporkan tengah mengembangkan konsep tank masa depan yang lebih canggih, PL-01.

Melansir Slash Gear, Selasa 1 April 2014, Pusat Penelitian dan Pengembangan untuk Peralatan Mekanik (OBRUM) Polandia mengembangkan tank PL-01 yang berbobot 35 ton dan 3 awak. 

Tank ini memiliki kemampuan layaknya pesawat siluman, dapat menghindari serangan peluru kendali dan tak dapat dideteksi dengan sensor inframerah serta sensor visual lainnya. 

Kuncinya yakni pada kulit luar PL-01 yang dilapisi panel suhu yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Panel kamuflase termal itu berfungsi layaknya bunglon, yang mampu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan untuk mengelabui sensor inframerah yang dilancarkan musuh. 

Panel luar tank itu memproses sensor infra merah yang dipasang di sekitar pendeteksi tangki dan kemudian menampilkan pola tertentu pada tank. 

Dengan demikian, tank bisa mengelabui sensor inframerah. Pengelabuan itu juga berkat dukungan pendinginan dan penyebaran gas buang dari mesin diesel house power 940.

Fitur canggih lain terdapat pada menara meriam yang mampu mengangkut peluru secara otomatis. Pada menara meriam ini juga terdapat berbagai fitur canggih, sistem peluncuran peluru proteksi aktif, dan pemantauan posisi panorama pada malam hari.

Operasi ujung meriam juga dapat bergerak 10 derajat ke bawah dan 20 derajat ke atas. Masih pada bagian menara meriam, terdapat stasiun senjata yang dikendalikan secara remote. Kulit tank ini berlapis baja. 

Tank ini juga dilengkapi dengan material penyerap radar, serta peluncur granat pada bagian menara meriam. Disebutkan prototipe ini akan berjalan sepenuhnya pada 2016



Read more »

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *