Selasa, 03 Juni 2014

[Latgab 2014] TNI Simulasikan Perang Ranjau Laut

KRI Pulau Rupat berhasil memandu unsur Kogaslagab keluar dari medan ranjau

  Sebanyak 23 kapal perang RI yang terlibat dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2014 disimulasikan menghadapi peperangan ranjau laut yang disebar oleh musuh di sekitar perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).

Kadispen Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Letkol Laut (KH) Abdul Kadir di Surabaya, Senin menjelaskan ke-23 kapal perang tersebut tergabung dalam Komando Tugas Laut Gabungan (Kogaslagab) Latgab TNI 2014 itu harus menunggu operasi pembersihan oleh kapal buru ranjau KRI Pulau Rengat-711 yang berada di garis depan formasi tempur.

"Dalam skenario latihan, puluhan ranjau laut telah disebar oleh pihak musuh untuk menghambat gerak laju kapal perang menuju daerah sasaran. Dengan kemampuan khusus peperangan ranjau yang dimilki, KRI Pulau Rupat berhasil memandu unsur Kogaslagab keluar dari medan ranjau," katanya.

Namun, kata dia, bahaya belum berakhir, karena beberapa saat kemudian radar KRI Sultan Hasanudin-366 dan KRI Sultan Iskandar Muda-365 mendeteksi adaya ancaman bahaya serangan dari udara. Suara sirine meraung-raung dari seluruh kapal perang dan seluruh personel serta persenjataan penangkis serangan uudara (PSU) siap menyambut serangan udara dari pesawat musuh.

"Dua kapal perang korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) tersebut berhasil mengunci sasaran udara melalui radar senjata LIROD MK2. Radar tersebut memandu senjata meriam antiserangan udara kaliber 2 x 20 MM yang mengikuti setiap pergerakan target yang telah terkunci," kata dia.

Ia menjelaskan bahwa meriam PSU dari seluruh kapal Kogaslagab memuntahkan ribuan butir peluru sehingga pesawat musuh tidak dapat menghindar dan berhasil dihancurkan.

Menurut dia, aksi pertempuran melewati medan ranjau dan pertahanan udara tersebut merupakan salah satu rangkaian Latgab TNI tahun 2014.
  





Read more »

Senin, 02 Juni 2014

2020 Perang Beralih ke Asia Pasifik ! Bagaimana dengan Indonesia?

 
(“Zona Perang” AS dari Timur Tengah Kini Berfokus ke Kawasan”)
Kunjungan Presiden AS, barack Obama disambut Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (photo: AP)

Kunjungan Presiden AS, barack Obama disambut Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (photo: AP)

“Worst Case Scenario:
Are You
Ready To War
Indonesia”


“Belum ada negara ASEAN yang punya kemampuan seperti Indonesia.!” Ya, inilah yang dikatakan Prof. Ann Marie Murphy, seorang peneliti senior di Weatherhead East Asia Institute, Univ. Columbia.
Langkah pemerintah Amerika Serikat mengubah fokus mereka ke Asia akan semakin membebani Indonesia sebagai negara berpengaruh di ASEAN. Indonesia dituntut memainkan peranan pendorong dan penyeimbang berbagai konflik di Asia.
Menurut Murphy, Indonesia akan memiliki peran penting dalam menyokong ASEAN dari belakang.
“AS menurunkan 60 persen kekuatan Angkatan Lautnya ke Asia. Sebanyak 500 tentara AL AS akan tugas bergilir di Darwin, totalnya akan berjumlah 2.500 tentara dalam beberapa tahun ke depan,”.
image002
Prof. Ann Marie Murphy, Peneliti senior di Weatherhead East Asia Institute, Univ. Columbia.

Adu kepentingan kemudian terjadi di tubuh ASEAN. Salah satu contohnya adalah dengan tidak tercapai komunike dalam KTT ASEAN tahun 2012 lalu. Saat itu, Kamboja yang menjadi ketua ASEAN menolak komunike yang mendesak China menyelesaikan konflik perairan tersebut.
Seperti telah diketahui bahwa Kamboja adalah salah satu sekutu China di Asia Tenggara. Dalam buntunya situasi ini, kata Murphy, Indonesia menunjukkan peran pentingnya. Peran Indonesia terpenting adalah menjembatani antara kepentingan China dan ASEAN dalam konflik Laut China Selatan (LCS).
“Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa melakukan shuttle diplomacy,” jelas Murphy. Kala itu, Natalegawa secara maraton mengunjungi negara-negara ASEAN untuk menyatukan suara. “Berkat kerja keras Indonesia, ASEAN akhirnya satu suara dengan menelurkan beberapa poin kesepakatan soal Laut China Selatan. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia masih punya pengaruh kendati tidak menjabat ketua ASEAN,” Murphy menegaskan.
Peran inilah yang diharapkan dapat dimainkan Indonesia saat AS masuk ke Asia. Murphy mengatakan, ketua-ketua ASEAN berikutnya belum bisa menyamai kepemimpinan Indonesia, terlebih di tengah adu kepentingan negara-negara besar di Asia.
image003

“Kepemimpinan ASEAN berikutnya, yaitu Brunei, Laos dan Myanmar, masih perlu bantuan Indonesia. Mereka belum bisa menyatukan negara-negara yang adu kepentingan di Asia, seperti India, China dan Jepang. Ini bukan tugas yang mudah bagi Indonesia,” (seperti Presiden Filipina yang berkata, “SBY “Indonesia” adalah kakak bagi Asean” ? mantaabb! ) hmm..kakak keduanya Asean siapa ya kira kira?

AS Tempatkan Pasukan di Sonotan!

Sebanyak 200 pasukan Amerika Serikat telah tiba di Australia sejak April 2012 lalu sebagai gelombang pertama dari 2.500 pasukan yang direncanakan sampai tahun 2017 mendatang.
“Penempatan pasukan AS di Darwin ini merupakan evolusi dari berbagai kegiatan dan pelatihan Militer kedua negara dalam kerja sama militer yang sudah dibuat sebelumnya”.
Rencananya AS akan menempatkan sebanyak 2.500 prajuritnya di Australia pada 2017 nanti. Penempatan ribuan pasukan AS di Darwin ini menunjukkan pergeseran strategi global yang sangat signifikan. Terkait dengan penempatan ribuan pasukan AS ini, Smith menyatakan bahwa kemungkinan besar AS akan menggunakan Pulau Cocos yang terpencil sebagai pangkalan militer AS.
Salah satu media Amerika Serikat Washington Post melaporkan bahwa rencananya militer AS akan menempatkan pesawat tempur berawak dan tidak berawak yang dikenal dengan nama Global Hawk.
Menanggapi pernyataan dan situasi tersebut, pemerintah Indonesia bereaksi dengan mengirim nota protes kepada Pemerintah Australia dan AS dan meminta penjelasan terkait rencana pembangunan pangkalan militer AS tersebut. Juru Bicara Kementerian Pertahanan Indonesia Brigadir Jenderal Hartind Asrin berpendapat bahwa sebaiknya pemerintah Australia dan AS menjelaskan apa tujuan pembangunan pangkalan tersebut untuk menghindari kesalahpahaman.
Dan ternyata bukan hanya Indonesia saja yang bereaksi, China juga merasa terganggu dengan rencana AS ini dan menilai hal ini sebagai upaya mengimbangi kekuatan dan pengaruh China di Asia-Pasifik. China juga menuduh Australia dan AS memperkuat sekutunya dalam sengketa Laut China Selatan. Pasalnya, akhir-akhir ini China, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei dan Taiwan saling berebut wilayah di Laut China Selatan yang diyakini mengandung persediaan minyak dan gas yang melimpah.
image004

Pangkalan AS di Darwin, China Kecam Australia

China menunjukkan kejengkelan atas meningkatnya hubungan kerja sama pertahanan antara Australia dan Amerika Serikat, terutama setelah Negeri Paman Sam itu mengirimkan kontingen pertama dari total 2.500 tentara yang akan berbasis di Darwin sejak April 2012.
image005

Kecaman itu dialamatkan kepada Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr. “Saya kira saya bisa meminjam kata-kata dari salah satu pejabat yang saya temui, dan saya yakin ia adalah sang menteri luar negeri: masa-masa persekutuan ‘Perang Dingin’ telah lama berakhir,” ujar Carr, yang menggantikan Kevin Rudd.
Australia memilih merekatkan kerja sama militer dengan Amerika Serikat, hal yang dikritik pengamat militer China, Song Xiaojun. Menurutnya, Australia tidak mungkin bisa sekaligus menjaga hubungan dengan China dan Amerika Serikat. “Cepat atau lambat, Australia harus memilih siapa yang akan menjadi ‘godfather’ baginya. Semuanya bergantung dari seberapa kuat calonnya, dan seberapa strategis lingkungannya,”
image006

Tak hanya memperkuat tali kerjasama dengan Australia, Amerika Serikat pun mempererat hubungan luar negerinya dengan beberapa negara Asia Tenggara. China menganggap strategi itu sebagai upaya ‘pengepungan.’

Cina Latihan Perang di dekat Pulau Christmas Australia -

TNI AL: Kapal perang China telah “mengantongi” izin untuk latihan di selatan Pulau Jawa pada Februari 2014 lalu. Ternyata latihan perang China itu menjadi perhatian Australia.
Kapal-kapal perang China menggelar latihan di dekat perairan Indonesia, sebelah selatan lepas pantai Pulau Jawa. Lokasi ini juga berada dekat Pulau Christmas yang merupakan milik Australia. Latihan yang digelar China itu diintai seksama oleh Australia.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama Untung Suropati, mengatakan latihan tiga kapal perang China itu telah diketahui oleh pemerintah Republik Indonesia. China meminta izin kepada atase pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing.
image007

“Tak ada yang salah dengan latihan simulasi perang yang digelar AL China,” kata Untung, Jumat 14 Februari 2014. Salah satu latihan meliputi cara mengatasi perompakan.
Untung mengatakan, berdasarkan pemantauan instansinya, AL China taat prosedur saat melintasi perairan Indonesia. “Mereka melewati perairan ALKI yaitu, ALKI-1 dengan rute dari Laut China Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda, lalu terakhir menuju Samudera Hindia,”. Untuk rute pulang, ketiga kapal perang China itu akan melalui ALKI-2, yakni Selat Lombok, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Sawu, Laut China Selatan, dan kembali ke pangkalan mereka di Kota Hainan, China.
Menurut Untung, AL dari negara manapun berhak untuk memproyeksikan kekuatannya di laut internasional. “Sepanjang mereka memiliki kekuatan AL tingkat dunia atau disebut Blue Water Navy,”.
AL yang masuk kategori ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Sementara itu, China sedang menuju tahapan Blue Water Navy.

China Latihan Perang di Selatan Jawa, Australia Kirim Pengintai –

Kapal-kapal perang China diketahui gelar latihan pertama di dekat perairan Indonesia di sebelah selatan lepas pantai Pulau Jawa dan dekat Pulau Christmas, yang merupakan milik Australia. Langkah ini menunjukkan makin percaya dirinya militer China di tengah sengketa teritorial dengan sejumlah negara di Laut China Selatan dan Laut China Timur.
Pesawat AP-3C Orion diterbangkan dari Pangkalan Angkatan Udara Edinburgh, dekat Adelaide, begitu militer Australia menerima laporan bahwa tiga kapal perang China bergerak mendekati perbatasan utara laut mereka awal Februari lalu.
Dari pantauan itu, rombongan kapal China itu terdiri dari dua destroyer dan satu kapal pendarat yang mampu mengangkut ratusan personel. Ini adalah kali pertama latihan militer China itu berlangsung dekat perairan Australia.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Australia, David Johnston, mengaku pihaknya tidak diberitahu terlebih dahulu soal latihan itu. Namun China pun tidak berkewajiban memberitahu Australia.
Kalangan pengamat pun menyatakan bahwa latihan China itu legal karena masih berlangsung di laut internasional dan tidak menunjukkan tindakan yang bermusuhan. Namun manuver dari Beijing itu dipandang sebagai sinyal bahwa mereka makin percaya diri menjadi kekuatan baru maritim, yang secara fundamental bisa mengubah posisi strategis Australia.
Sinyalemen itu tidak semata-mata ditunjukkan ke Australia, namun juga kawasan Asia Pasifik dan juga sebagai pesan kepada AS dan India bahwa mereka tidak bisa dengan mudah memblokade jalur laut lewat Selat Malaka bila suatu ketika berkonflik dengan China.
“Ini bukan berarti latihan itu mengancam Australia, namun memang menunjukkan bahwa betapa besar perubahan yang sedang terjadi di kawasan dan betapa berbahaya untuk berasumsi bahwa China bisa bangkit secara ekonomi tanpa harus membuat perubahan strategis yang fundamental di kawasan”.
“China mengklaim 90 persen dari Laut China Selatan, yang seluas 3,5 juta kilo meter per segi. Beberapa negara atau entitas juga berkepentingan atas laut itu, seperti Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei Darussalam”.

Militer Indonesia (Buka Mata.. Buka Telinga.. Rapatkan Barisan.. Kepakan Sayap.. Arungi Lautan… )

“Pergeseran kekuatan militer AS ke Asia Pasifik bukanlah hal sederhana. Bisa jadi, pada 8 tahun ke depan, “perang” perebutan sumber daya alam dan jalur perdagangan akan beralih ke kawasan ini. Indonesia harus menyiapkan diri untuk menghadapinya.” (Connie Rahakundini Bakrie, Pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia)
Rencana AS menggeser 60 persen kekuatan militernya ke kawasan Asia Pasifik hingga tahun 2020 mendatang, membawa implikasi besar bagi kawasan ini, termasuk Indonesia.
Tahun 2020 itu tidak lama. Dalam 8 tahun ke depan, Indonesia sudah terkurung oleh pangkalan-pangkalan militer AS. Menurut pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie, dengan kondisi seperti ini, jelas sekali, tidak tersedia waktu banyak bagi elite kita untuk segera mereposisi arah kebijakan luar negeri dan pertahanan Indonesia yang lebih tegas, strategis dalam menyikapi perubahan konstalasi politik di kawasan.
image008

1. Bagaimana anda melihat dinamika perkembangan militer AS saat ini?
Kebanyakan dari kita, atau bangsa AS sendiri, tidak ingin mengakui, bahwa, AS telah mendominasi dunia melalui kekuasaan militernya. Dengan alasan kerahasiaan negara, warga AS sendiri sering tidak menyadari bahwa pendudukan pasukan-pasukan AS sesungguhnya telah mengepung planet bumi ini. Kecuali kawasan Antartika.
Pada perspektif dinamika politik global, kita bisa menyimak bagaimana kekaisaran militer AS semakin tumbuh menuju wujudnya tahun 2020 nanti. Saat ini tengah berproses, sejak Presiden Goerge Walker Bush menetapkannya pada 14 Januari 2004 lalu.
2. Bisa digambarkan seperti apa ‘Kekaisaran Militer AS’ itu?
Salah satu cara memahaminya, dengan memahami jumlah dan ukuran dari aspirasi “kekaisaran militer” AS tersebut. Lebih dari setengah juta tentara formal plus mata-mata yang terselimuti melalui jejaring lembaga donor, teknisi, guru, serta badan usaha sudah tersebar membentuk koloni di negara-negara lain.
Bukan hanya di darat, juga mendominasi lautan hingga samudera. Mereka membangun kekuatan Angkatan Laut yang hebat dengan mencantumkan nama-nama pahlawan mereka pada kapal induknya, seperti: Kitty Hawk, Constellation, Enterprise, John F. Kennedy, Nimitz, Dwight D. Eisenhower, Carl Vinson, Theodore Roosevelt, Abraham Lincoln, George Washington, John C. Stennis, Harry S. Truman, dan Ronald Reagan.
Selain itu, begitu banyak pangkalan rahasia dibangun dan difungsikan hanya sekedar untuk memonitor apa yang dikerjakan masyarakat dunia. Mereka mampu memonitor apa yang isi percakapan, surat menyurat baik lewat fax atau pun email antara satu sama lainnya, termasuk atas warga negara AS sendiri.
Di Okinawa, pulau paling selatan Jepang yang telah menjadi koloni militer AS selama 58 tahun, terdapat 10 pangkalan korps marinir, termasuk korps marinir Futenma dan stasiun udara yang menduduki 1,186 Ha di pusat kota.
Selain itu, di Inggris terdapat senilai US$5 miliar instalasi miliiter dan mata-mata AS yang disamarkan sebagai pangkalan Royal Air Force (RAF).
image009

Air Craft Carrier USS Nimitz
3. Sebenarnya berapa jumlah pangkalan militer AS di luar negaranya?
Diyakini jumlah pangkalan militer AS di luar negaranya jumlahnya telah mencapai lebih dari 1,000 pangkalan di negara berbeda. Bahkan, Pentagon sekalipun mungkin tidak tahu secara pasti jumlah setiap penghuninya. Data resmi dari Departement of Defence (DoD) pada laporan struktur tahun fiskal 2003 menyebut, Pentagon memiliki 702 pangkalan di luar negeri di 130 negara. Jumlah itu, belum termasuk 6.000 pangkalan di wilayah AS sendiri. (weww! :D)
Pada pangkalannya di luar negeri, jumlah tentara AS yang tak berseragam mencapai 253,288 personel. Mereka juga mempekerjakan 44,446 orang lainnya sebagai staff tambahan lokal yang disewa.
Pentagon mengklaim, pangkalannya mencakup 44,870 barracks, hangars, rumah sakit, dan bangunan lain yang dibeli atau disewa sebanyak lebih dari 4,844 bangunan.
4. Bagaimana anda melihat kaitan kondisi ini dengan reformasi TNI?
image010

Persoalan bertambah kompleks, ketika munculnya wacana bahwa demokrasi dan militer adalah 2 hal yang tak dapat disatukan. Disadari atau tidak, jika virus berpikir bahwa demokrasi dan militer adalah 2 hal yang tak dapat disatukan, dan sengaja disebarkan secara sistematis. Akhirnya akan membuat sipil semakin tidak memahami fungsi militer untuk kepentingan eksistensi negara.
Seolah-olah, militer tidak dibutuhkan lagi dalam negara berdemokrasi. Padahal, pembangunan demokrasi sebuah negara sangat butuh “pengawal”. Peran militer dalam menjaga demokratisasi di sebuah negara yang berdaulat, sangat penting. ( Well noted mam! ;) )
5. Asia Pasifik jadi target ekspansi AS selanjutnya, bagaimana anda melihatnya?
Perkembangan terkini kekaisaran militer AS, bisa disimak dari pernyataan Menteri Pertahanan, Panetta yang menyatakan bahwa 60 persen kekuatan militer AS akan pindah ke kawasan Asia Pasifik mulai 2012 hingga 2020.
Reposisi pangkalan tersebut ada dibawah kendali dan tanggung jawab Andy Hoehn, Wakil Menhan AS untuk bidang strategi. Hoen cs. mengatur tahapan implementasi akan apa yang disebut Goerge Bush dulu sebagai strategi perang pencegahan terhadap “persatuan negara-negara merah dan orang-orang jahat”. ( jiahh seperti peribahasa..buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” :P #Bush )
Negara-negara “persatuan orang-orang jahat” ini oleh AS telah diidentifikasikan sebagai “busur ketidakstabilan” yang tersebar dari mulai daerah Andes di Colombia terus ke arah Afrika Utara dan kemudian menyapu negeri negeri seberang Timur Tengah, hingga termasuk Filipina dan Indonesia.
Jadi, perang terhadap terorisme adalah sebagian kecil dari alasan untuk semua strategisasi militer AS di belahan dunia untuk membangun cincin baru dari Pangkalan militer sepanjang khatulistiwa untuk memperluas kekaisaran militer AS dalam mendominasi dunia. ( ngarepp banget ente ASU :P )
harus dicermati bahwa posisi kita Persis sama seperti saat Irak akan digempur melalui persiapan Operation of Enduring Freedom, dimana saat ini kita sama juga “sudah terkurung” oleh pangkalan-pangkalan ASU sejak titik di Diego Garcia, pulau Christmas, pulau Cocos, Darwin, Guam, Philippina, dan terus berputar hingga ke Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya..
Kini.. doktrin pertahanan kita telah berubah dari yang semula Defensif sekarang menjadi Pre-Emptive (menyerang lebih dulu pihak yang akan menyerang) dengan kata lain “daripade ane kecolongan, mendingan ane gebuk duluan! )” ? didukung dengan alutista yang canggih dan modern, serta profesionalisme prajurit yang semakin meningkat serta kemandirian bangsa dalam segala aspek..
Maka, mulai saat ini dan kedepannya TNI dan dengan segenap dan dukungan seluruh rakyat Indonesia, akan menjadi ksatria pelindung dan penjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia dan menyongsong masa depan Negara ini dengan kaki yang kuat.. badan tegap.. kepala tegak.. mata yang memandang luas ke pelosok Nusantara.. kita akan melewati tahun 2020, seraya berkata.. “Kamilah Putra dan Putri Bangsa Indonesia dengan merah darahku dan putih tulangku, Jayalah TNIku!!! Jayalah bangsaku!!! Jayalah Nusantaraku!!!”… [by PapaAugusta (PA)]
image011

JKGR:MILITERNEWS

Read more »

Sandiwara Tiongkok-Rusia, "Masukkan Serigala Ke Dalam Rumah"



Ketika Presiden Putin tiba di Shanghai Selasa (20/5/2014), di tengah guyuran hujan dan terpaan angin, payung yang dikembang­kan oleh pengawalnya tertiup an­gin hingga terlipat.
Pemandangan ini seolah mengisyaratkan, jalan di hadapan Putin tidak akan mulus. Mewarnai kunjungan Putin, RRT dan Rusia memainkan serang­kaian sandiwara yang membuat semua orang termangu-mangu.

Di hari yang sama, Rusia dan RRT menggelar latihan perang bersama di Laut Timur dengan sandi Joint Maritime 2014, yang melatih perang bertahan dan me­nyerang di pulau karang.

Pemandangan ini jelas merupakan per­mintaan Xi Jinping, yang meminta Putin agar bagaimana pun juga memberi muka pada RRT untuk memperlihatkan pada Jepang dan Amerika Serikat: "Kalian di sana ada aliansi Jepang dan AS, kami di sini ada sekutu RRT dan Ru­sia."

Meski demikian, sebelumnya Moskow telah berulang menegas­kan sikapnya menghadapi persengketaan RRT – Jepang, Rusia akan bersikap netral.

Invasi Rusia terhadap Crimea dan menduduki Crimea menuai sanksi dari pihak Barat, hubungan Rusia dengan Jepang pun membu­ruk, namun jika dikatakan Rusia akan bersekutu dengan RRT un­tuk melawan Jepang, sepertinya masih jauh dari kenyataan. Dalam latihan perang di Laut Timur, Ru­sia paling-paling hanya akan seka­li saja memberi muka pada RRT. Karena kedua belah pihak memi­liki kepentingan masing-masing: RRT bersandiwara di hadapan Je­pang, Rusia juga bersandiwara di hadapan AS.

Di hari yang sama juga dige­lar Konferensi CICA yang ke-4 di Shanghai, yang bertujuan menunjukkan peta percaturan yang di­mainkan RRT dan Rusia di Asia tersebut bisa melawan strategi perang yang dicanangkan oleh AS. Akan tetapi CICA Summit yang hanya beranggotakan 26 negara itu, kali ini hanya dihadiri oleh 12 kepala negara. Yang lebih mencolok lagi, Vietnam sebagai negara anggota, Filipina dan Je­pang sebagai negara pengamat ti­dak hadir dalam konferensi ini.

Seiring dengan berhasilnya Rusia mencaplok bagian dari Ukraina, RRT juga mulai melaku­kan aksi yang lebih agresif di Asia. Persengketaan antara RRT-Jepang atas masalah Pulau Diao-yu (di Jepang disebut: pulau Sen­kaku) dan wilayah Laut Timur belum juga terselesaikan, RRT pun melakukan reklamasi di Pulau Red Reef yang berjarak 180 mil laut dari Filipina. Pihak Filipina pun menangkap dan menuntut ne­layan RRT, konflik RRT-Filipina pun semakin terlihat jelas.

RRT menghancurkan sumur bor lepas pantai di lokasi 120 mil laut dari Vietnam, yang menyebabkan kedua negara mengumpul­kan ratusan kapal saling menabrak lawan. Masyarakat Vietnam pun membangkitkan gerakan rasialis anti-Tionghoa yang menyulut tindakan anarkis berskala besar. Banyak etnis Tionghoa di Viet­nam jadi korban luka-luka bahkan tewas. Tidak hanya perusahaan in­vestasi RRT terkena dampaknya, bahkan perusahaan investasi Tai­wan juga ikut kena getahnya, dan mengalami kerugian besar.

Anehnya lagi, menghadapi aksi kekerasan anti-Tionghoa oleh Vietnam, reaksi dari media massa corong PKT justru luar biasa ka­lem, bahkan dengan sengaja me­nutupinya.

Salah satu alasannya adalah karena Vietnam dan RRT sama-sama adalah negara komunis, banyak hal yang dilakukan oleh Vietnam sebenarnya adalah belajar dari 'kakak' PKT. Aksi unjuk rasa anarkis anti-Tionghoa di Vietnam ini tidak lebih dari menjiplak aksi anarkis anti-Jepang yang pernah terjadi di RRT, setali tiga uang.

Ironisnya, bulan lalu Vietnam dan RRT baru saja bersama-sama memainkan sebuah drama ideologi, yakni: pihak Vietnam mengekstradisi sekelompok suku Uighur (suku minoritas Provinsi Xinjiang, Tiongkok) sebanyak lebih dari 30 orang yang menyelundup masuk ke Vietnam termasuk pria wanita tua dan muda. Bisa dibayangkan nasib tragis yang telah menanti para suku Uighur ini setelah diekstradisi kembali ke RRT (biasanya kamp kerja paksa menanti).

Vietnam yang telah bertindak tidak berperikemanusiaan itu juga mendapat ganjarannya: saat dideportasi, seorang pria Uighur yang berani mati berhasil merebut senjata otomatis tentara Vietnam, lalu menembak membabi buta, menewaskan 2 tentara Vietnam dan melukai parah belasan lainnya.

Ini adalah harga yang harus dibayar oleh komunis Vietnam akibat mencoba menarik simpati dari PKT. Akan tetapi hanya sebulan setelah itu, meletuslah konflik kedua partai komunis di Laut Selatan, hingga saling angkat senjata dan melukai satu sama lain.

Konflik RRT-Vietnam juga merefleksikan kompleksnya hubungan RRT-Rusia. Selama ini Rusia bersekutu dengan Vietnam. Di Asia sendiri bahkan ada "aliansi Rusia – Vietnam – India" yang telah berlangsung lama, yang disebut Iron Triangle. Kini meskipun RRT dan Rusia cukup dekat, namun RRT adalah musuh bebuyutan bagi Vietnam dan India, antara RRT dan Rusia pun terdapat simpul mati yang sulit terurai.

Menanggapi bentrok RRT-Vietnam, belum lama ini Kepala Staf Tentara Pembebasan PKT Fang Fenghui di Washington menyatakan, "Tanah yang diwariskan oleh para leluhur tidak boleh hilang sejengkal pun!"

Kata-kata itu diucapkan dengan penuh ketegasan, namun penulis juga hendak bertanya lirih, "Bagaimana dengan wilayah yang telah dirampas Rusia dari Tiongkok? Wilayah seluas 1,5 juta km persegi 'yang diwariskan leluhur' itu, apakah juga tidak boleh hilang sejengkal pun?"

Yang paling menarik perhatian adalah kesepakatan pasokan gas alam, kedua negara telah berunding selama belasan tahun akan hal ini dan terus terjadi tawar menawar alot, tapi kali ini mendadak sudah ada hasilnya: yakni dalam 30 tahun mendatang, Rusia akan memasok gas alam sebanyak 70 miliar kubik kepada RRT.

Ini jelas adalah dampak yang meluas dari insiden Ukraina, dikarenakan Rusia telah mendapat sanksi embargo dari AS dan Eropa sehingga terpaksa mencari jalan keluar di pasar RRT. Kembalinya AS ke Asia menyebabkan Rusia juga kembali ke Asia, bahkan Rusia kembali ke Asia dalam segala aspek meliputi militer, ekonomi, politik, serta strategi internasional.

RRT yang telah kenyang akan invasi dan penindasan oleh Rusia, kali ini tak lebih dari sekedar memainkan peran "mengundang serigala masuk ke rumah". Hanya karena mempertahankan kekuasaan satu partai, Beijing terpaksa harus menapak jalan menentang AS dan memihak Rusia, jangka pendeknya terlihat menguntungkan bagi PKT, namun jangka panjangnya akan merusak kepentingan negara dan bangsanya sendiri.

Karena Rusia membutuhkan RRT, dalam kunjungan Putin ke RRT berbagai komentar baik bagi RRT terlontar dari mulut Putin yang dulunya sama sekali tidak pernah diucapkan: Antara RRT dan Rusia, adalah "kerja sama yang paling baik", merupakan "kerja sama yang patut diteladani dan paling patut dipercaya". Rusia menempatkan perkembangan hubungan dengan RRT sebagai orientasi utama.

Namun belum lama ini, Rusia memutuskan untuk membangun Zona Ekonomi Eksklusif di Vladivostok yang berdekatan dengan RRT, Putin pun menyerukan pada pihak RRT, "Bersedia melihat perusahaan RRT memanfaatkan peluang untuk mengembangkan perekonomian Rusia dan menjadi pioneer." Vladivostok dikenal sebagai "Hai-shenwai (bahasa Tionghoa: Tebing Tripang)". Makna kata Vladivostok sendiri adalah "menaklukkan Timur" atau "Penguasa Timur", jelas wilayah ini adalah hasil rampasan dari Tiongkok (di tahun 1860). RRT sekarang ini, jika berinvestasi di sana, dan membantu orang Rusia untuk berkembang, maka itu benar-benar telah mengkhianati dan melupakan leluhurnya sendiri.

 


Read more »

[FOTO Latgab 2014] Penampakan Alutsista di Asembagus


Uji Taktis Latgab TNI
 Situbondo ★ Sejumlah prajurit TNI melaksanakan uji taktis pra latihan gabungan TNI di Pusat Latihan Pertempuran Marinir V Baluran, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (31/5).

Dalam uji taktis tersebut TNI sudah menggunakan peluru tajam dan amunisi sebenarnya meski masih dilakukan secara parsial antara satu kesatuan dengan kesatuan lainnya. Skenario peperangan fiktif akan benar-benar dilaksanakan pada 4-5 Juni 2014.





Mobilisasi Udara Latgab 2014











Sejumlah helikopter bell 412 milik Puspenerbad TNI AD, melakukan mobilisasi udara (mobud) penurunan pasukan di Pusat Latihan Pertempuran (PLP) Marinir-5-Baluran, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (01/06). Mobilisasi udara tersebut dilakukan dalam gladi bersih untuk persiapan Latgab 2014 yang dilakukan oleh tiga matra TNI AD, AL dan AU. (ANTARA FOTO/Adhitya Hendra)Pergerakan Kompi Mekanis


Ranpur jenis BMP3F milik TNI AL bergerak menuju daerah pertempuran untuk mendukung pergerakan pasukan infanteri di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 36 unit BMP3F bersama ranpur lain dalam Kompi Mekanis dilibatkan dalam skenario penyerbuan pada Latihan Gabungan TNI 2014. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)


Tank Scorpion Yonkav 8 TNI AD bergerak menuju daerah pertempuran untuk mendukung pergerakan pasukan infanteri di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 18 unit tank Scorpion bersama ranpur lain dalam Kompi Mekanis dilibatkan dalam skenario penyerbuan pada Latihan Gabungan TNI 2014. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)Panser Anoa Latgab TNI 2014


Sejumlah prajurit infanteri TNI AD mendapatkan pengarahan sebelum melakukan skenario penyerbuan pertahanan musuh menggunakan panser Anoa di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 13 unit panser produksi dalam negeri yang tergabung dalam Kompi Mekanis itu digunakan dalam Latgab TNI 2014 untuk mendukung pasukan infanteri dalam penyerbuan ke perkubuan musuh. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)


Sejumlah prajurit infanteri TNI AD bersiaga dalam Panser Anoa untuk melakukan skenario penyerbuan pertahanan musuh menggunakan panser di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 13 unit panser produksi dalam negeri yang tergabung dalam Kompi Mekanis itu digunakan dalam Latgab TNI 2014 untuk mendukung pasukan infanteri dalam penyerbuan ke perkubuan musuh. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)


Sejumlah prajurit infanteri TNI AD bersiaga dalam Panser Anoa untuk melakukan skenario penyerbuan pertahanan musuh menggunakan panser di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, Minggu (1/6). Sebanyak 13 unit panser produksi dalam negeri yang tergabung dalam Kompi Mekanis itu digunakan dalam Latgab TNI 2014 untuk mendukung pasukan infanteri dalam penyerbuan ke perkubuan musuh. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)


Peleton Intai (Tontai) Kikavtai 1/1/Kostrad mengendarai kendaraan tempur jenis Anoa dalam uji taktis pra latihan gabungan TNI di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (31/5). (Republika/Aditya Pradana Putra)



Prajurit Kostrad mengendarai kendaraan tempur jenis Anoa buatan PT Pindad dalam uji taktis pra latihan gabungan TNI di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (31/5). (Republika/Aditya Pradana Putra)


Prajurit Brigif 17/1/Kostrad mempraktekkan strategi menyerang musuh dalam uji taktis pra latihan gabungan TNI di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu(31/5). (Republika/Aditya Pradana Putra)Uji Tembak Meriam








Prajurit TNI dari batalyon Artileri Medan (Armed) X Kostrad menembakkan meriam dalam uji taktis pra latihan gabungan TNI di Situbondo, Jawa Timur, Sabtu (31/5). (Republika/Aditya Pradana Putra)
 





 Antara | Republika | Kenyot10

Read more »

2.000 Marinir bergerak ke sasaran Latgab


Diberangkatkan secara bertahap 

Surabaya ★ Sekitar 2.000 pasukan Marinir TNI AL diberangkatkan menggunakan kapal perang RI untuk bergerak menuju sasaran, khususnya untuk pendaratan amfibi pada Latihan Gabungan (Latgab) TNI 2014 yang dipusatkan di Pusat Latihan Tempur Marinir Asembagus, Situbondo, Jatim.

"Untuk pasukan Marinir, sudah diberangkatkan semua yang dilakukan secara bertahap. Terakhir pemberangkatan dilakukan, hari ini dari Dermaga Koarmatim, Surabaya, menuju Pantai Banongan, selain ada yang diberangkatkan menggunakan jalur darat," kata Kadispen Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Letkol Laut (KH) Abdul Kadir sebelum pemberangkatan pasukan Marinir di Surabaya, Senin.

Ia menjelaskan, selain prajurit infanteri yang akan melakukan serangan dari kapal perang, Marinir juga membawa sejumlah alat tempur, seperti tank dari satuan kavaleri dan senjata berat dari artileri medan pada Latgab TNI yang dipimpin oleh Dirlat Letjen TNI Lodewijk F Paulus yang juga Komandan Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD tersebut.

Menurut dia, di luar pemberangkatan pasukan ke medan latihan, aktivitas awak kapal perang di Koarmatim saat ini adalah melakukan embarksi sejumlah peralatan yang akan dibawa ke lokasi latihan. Dijadwalkan sejumlah kapal akan bertolak ke perairan Laut Jawa, Selasa (3/6) untuk melaksanakan latihan pertempuran laut sambil melaju menuju perairan Banongan di Asembagus.

Sementara itu TNI AL menggerakkan 35 kapal perang dari berbagai jenis dan tipe, termasuk satu dari dua kapal selam yang dimiliki Indonesia. Kapal lainnya adalah enam jenis perusak kawal (PK), 12 perusak kawal rudal (PKR), empat kapal cepat rudal (KCR), satu kapal cepat torpedo (KCT), dua kapal "landing platfrom dock" (LPD), empat "landing ship tank" (LST), dua kapal patroli cepat dan satu kapal buru ranjau serta dua kapal lainnya.

Pada Latgab yang melibatkan 15.108 personel dari ketiga angkatan itu, TNI AD membawa 49 kendaraan tempur, terdiri atas 18 tank Scorpion, enam tank Stormer APC, dua tank Stormer Komando, dua panser Saladin, dua panser Saracen, dua pancer pengintai, dan 12 panser Anoa (buatan Pindad).

Selain itu juga melibatkan sejumlah senjata berat maupun ringan yang dioperasikan oleh satuan artileri. Dari Penerbangan TNI AD dikerahkan empat unit helikopter Bolco, 10 unit Bell-412 dan dua unit Bell-205A-1.

Sementara dari TNI AU melibatkan puluhan pesawat tempur dan pesawat angkut, yang terdiri atas empat pesawat B-737, tiga pesawat F-28, tiga C-295, dua CN-235, tiga Cassa-212 dan 11 helikopter, enam pesawat F-16, 10 pesawat Hawk 100/200, dua F-5, 12 T-50, dua EMB-314 serta alat utama sistem senjata lainnya.

Hingga kini sejumlah satuan telah melaksanakan latihan penyerangan terhadap pertahanan musuh, namun masih bersifat parsial. Penyerangan gabungan dari seluruh kekuatan akan dilaksanakan pada puncak latihan, 4 Juni 2014 di kawasan Karang Tekok, Asembagus, Situbondo.

  

Antara

Read more »

China & Rusia Pamer Kekuatan Militer



Kapal perang China siap latihan gabungan militer dengan Rusia.(Foto: Reuters)

Shanghai - China dan Rusia akan memamerkan kekuatan militer mereka di Laut China Timur. Rencana tersebut berdasarkan agenda kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin di China pada Selasa 20 Mei 2014 yang menginginkan adanya latihan militer gabungan Angkatan Laut (AU).

Melansir SBS, Selasa (20/5/2014), sekira 14 kapal militer kedua negara akan melakukan latihan militer selama satu minggu di Laut China Timur.

Tidak hanya latihan militer, para pihak pejabat dari kedua negara juga akan menyelesaikan kesepakatan yang lama tertunda yakni Rusia mengekspor gas alamnya ke China.

Kedua negara tersebut saat ini sedang berusaha membangun hubungan untuk menghadapi kritik barat dan terkait masalah sengketa teritorial.

Saat ini, hubungan Rusia dengan Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) sudah mencapai titik terendahnya dalam beberapa bulan terakhir, pasca perang dingin. Di waktu yang bersamaan, China juga sedang mengalami masalah dengan negara tetangganya yakni Jepang, Vietnam, dan Filipina atas sengketa teritorial negara di Laut China Selatan.

Keeratan hubungan Rusia dan China sebagai sekutu karena mereka memiliki sejarah sama yakni negara yang pernah menganut ideologi kiri. Sehingga tidak heran kedua negara besar tersebut terlihat akur di saat dunia mengecam mereka.(ade)

Okezone

Read more »

Peluang China Peroleh Su-35 Rusia Kian Terbuka

SU-35




Rusia dan China telah mempererat hubungan mereka yang belakangan ini terkesan berjalan di tempat. Kerjasama multi tahun yaitu kerjasama gas alam senilai miliaran dolar dan kolaborasi kedua negara dalam pengembangan pesawat komersial berbadan besar adalah dua dari beberapa rencana perjanjian yang dibicarakan selama pertemuan presiden kedua negara, Vladimir Putin dan Xi Jinping, bulan lalu. Terkait rencana pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35 yang sempat beberapa kali tertunda, hal ini juga dibicarakan, namun keputusan pastinya kemungkinan baru akan keluar pada kuartal akhir tahun ini.


Pembelian China atas Su-35, pesawat tempur hasil pengembangan terbaru dari varian Su-27 Flanker, akan memberikan manfaat yang besar bagi China. Selain kekuatan tempur udara China akan semakin kuat dengan kehadiran Su-35, Su-35 juga akan menjadi tolok ukur bagi China dalam mengukur kemajuannya dalam mengembangkan pesawat tempur sendiri. Tidak hanya itu, kehadiran Su-35 akan memberikan China akses ke teknologi mesin turbofan Su-35 dan potensi upgrade berbagai rudal udara-ke-udara dan udara ke permukaan buatan Rusia. Kita tahu selama ini China berusaha keras dan beberapa kali gagal dalam upayanya meningkatkan kinerja dan keandalan mesin-mesin pesawat tempurnya.

Baca juga: China Terus Kembangkan Flanker


Dialog kedua negara soal pembelian Su-35 sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu, namun karena beberapa alasan, Rusia akhirnya menunda penjualannya. China sendiri mengharapkan pembelian Su-35 awal sebanyak 24 unit, yang akan cukup membentuk skadron tunggal. Ketika Angkatan Udara China (PLAAF) membeli Flanker asli pada tahun 1991, mereka mengawalinya dengan 24 unit, lalu dilanjutkan dengan batch tambahan, baru akhirnya China bisa membuat varian Flanker-nya sendiri yaitu J-11B.


Pengembangan independen China atas varian Su-27 yang lengkap dengan avionik, radar, mesin, dan senjata buatan sendiri telah menciptakan gesekan dengan Moskow, yang akhirnya Moskow mengerem penjualan banyak senjata ke China. Dari perspektif Rusia, salah satu upaya peniruan China atas produk militer Rusia yang paling mengerikan adalah pesawat tempur J-15, yang sangat mirip dengan Su-33 varian dari Su-27 khusus Angkatan Laut (untuk kapal induk), yang mana China memperolehnya dari Ukraina.


Meskipun "sakit hati," sekarang Moskow tampaknya masih ingin melanjutkan penjualan pesawat tempur canggih kepada China, meskipun bukan pesawat tempur generasi kelima yang saat ini dikembangkan Rusia. Analis menilai sikap lunak Moskow ini mungkin terkait dengan keuangan, selain tentunya keinginan Moskow untuk terus mempertahankan hubungan pertahanan dan politik dengan Beijing.

Penjualan Su-35 kepada China juga akan memberikan kesempatan bagi perusahaan pembuat rudal Rusia Tactical Missiles Corporation (KTRV) untuk menyediakan paket rudal baru dan paket upgrade terhadap rudal-rudal Rusia yang dimiliki China saat ini. Rudal-rudal ini antara lain RVV-SD atau versi ekspor dari rudal R-77-1 yang merupakan upgrade dari rudal udara-ke-udara R-77 (AA-12 Adder) dan rudal jarak pendek RVV-MD, versi ekspor dari rudal R-73 (AA-11 Archer). Tactical Missiles Corporation juga pernah menampilkan ilustrasi Su-35 yang membawa rudal RVV-BD, varian ekspor dari rudal udara-ke-udara jarak jauh R-37M (AA-13 Axehead). Sebelumnya pejabat Tactical Missiles Corporation mengusulkan agar rudal-rudal ini juga disertakan dalam paket pembelian Su-35, meskipun mereka tidak menjelaskan untuk penjualan kepada negara mana



Read more »

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *