Senin, 02 Maret 2015

Kisah Persahabatan Jakarta dan Moskow: 65 Tahun Pasang-Surut Relasi Dua Negara

Kisah Persahabatan Jakarta dan Moskow: 65 Tahun Pasang-Surut Relasi Dua Negara
Dari kiri ke kanan: kosmonot legendaris Uni Soviet Yuri Gagarin, Nikita Khruchev, Presiden RI Soekarno, dan Leonid Brezhnev di Kremlin, Moskow, Juni 1961. Foto: RIA Novosti
Awal Terbukanya Pintu Hubungan Diplomatik

Nama ”Indonesia” sudah dikenal di Uni Soviet lama sebelum Indonesia merdeka. Dalam buku karangan Aleksander Guber yang ditulis pada 1933, nama “Indonesia” sudah tercantum. Saat itu, Indonesia sebenarnya masih disebut Hindia Belanda, namun Uni Soviet memilih menyebut negara ini sesuai dengan sebutan yang digunakan oleh para pejuang Indonesia.
Prof. Dr. Aleksander Guber (1902 – 1971) adalah seorang sejarawan dunia dan sekaligus pendiri sekolah penelitian ilmiah mengenai Indonesia dan Filipina.
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945. Perjuangan menjaga kemerdekaan tidak otomatis selesai setelah proklamasi. Belanda dan pihak sekutu berusaha untuk merebut Indonesia dengan melancarkan agresi-agresi militer.
Di tengah tekanan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia, sejarah mencatat Uni Soviet, Ukraina, Belarus, dan sekutu-sekutu Uni Soviet di PBB secara konsisten mengecam keras agresi Belanda terhadap Indonesia.
Meskipun pada masa itu Belarus dan Ukraina adalah bagian dari Uni Soviet, tapi Uni Soviet memiliki tiga perwakilan di PBB, yaitu Uni Soviet, Ukraina, dan Belarus.
Pada 1948, Uni Soviet berupaya membuka hubungan diplomatik dengan pemerintah Republik Indonesia. Bahkan, perwakilan Indonesia dan Uni Soviet pernah menandatangani kesepakatan di Praha, Ceko. Namun, kesepakatan tersebut dibatalkan karena Indonesia mendapat tekanan kuat dari Belanda.
Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrei Vyshinsky. Foto: Wikipedia
Pada 24 Desember 1949, Uni Soviet menerima informasi resmi mengenai kesepakatan hubungan Belanda dan Indonesia. Setelah itu, Menteri Luar Negeri Uni Soviet Andrei Vyshinsky langsung mengirimkan telegram kepada Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Mohammad Hatta yang berbunyi, “Atas nama pemerintah Uni Soviet, saya dengan hormat memberitahukan kepada Anda, sejak pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949 di Den Haag, Belanda, pemerintah Uni Soviet memutuskan mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia dan bersedia membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia.”
Telegram tersebut kemudian dibalas oleh Hatta pada 3 Februari 1950 untuk mengonfirmasi bahwa pemerintah Indonesia telah menerima pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan dari Uni Soviet dan siap membina hubungan dipolomatik dengan pihak Soviet. Tanggal telegram yang dikirim oleh Hatta itu kemudian dikenang sebagai tanggal bermulanya hubungan diplomatik Indonesia dan Soviet.
Sempat Ditolak AS
Pada akhir 1950-an, Indonesia hendak memodernisasi angkatan bersenjatanya. Saat itu, angkatan bersenjata Indonesia hanya memiliki sisa persenjataan dari Perang Dunia II. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas, kekuatan persenjataan Indonesia tidak memenuhi persyaratan untuk melindungi ribuan pulau yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Saat itu, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution berkunjung ke Amerika Serikat dengan membawa proposal agar mendapat bantuan untuk mereformasi angkatan bersenjata Indonesia. Namun, AS menolak proposal tersebut dengan alasan Indonesia masih memiliki konflik yang belum terselesaikan dengan Belanda, yakni terkait masalah Irian Barat. AS menolak memberi bantuan persenjataan bagi Indonesia karena khawatir senjata tersebut akan digunakan untuk berperang melawan sekutu AS di NATO, yaitu Belanda.
Ditolak AS, Indonesia kemudian berpaling ke Uni Soviet. Ternyata, Indonesia tidak hanya mendapatkan apa yang dibutuhkan, tetapi dengan dukungan Uni Soviet, Indonesia mampu mengembangkan teknologi dan pengetahuannya di bidang militer.
Uni Soviet memasok banyak peralatan militer pada Indonesia, mulai dari tank, kapal perang, dan berbagai jenis pesawat tempur. Tentu saja semua itu tidak gratis. Pemberian tersebut merupakan bagian dari kredit sebesar satu miliar dolar AS. Namun, Indonesia telah membayar lunas semuanya pinjaman tersebut pada pertengahan 1990-an.
Selain memasok peralatan militer, Uni Soviet juga memberikan pelatihan teknis untuk para tentara Indonesia di akademi militer di Moskow, Sankt Petersburg, Sevastopol, dan Vladivostok. Rusia juga mengirim seribu instruktur ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Madiun untuk melatih tentara Indonesia. Rusia sadar bahwa sebagai negara baru, militer Indonesia memiliki pengalaman yang sangat terbatas, terutama terkait pengalaman teknis. Belanda tidak mewariskan budaya yang berkaitan kemampuan teknis pada rakyat Indonesia. Padahal, perlu beberapa generasi agar Indonesia dapat benar-benar menguasai hal tersebut.
Kunjungan Soekarno ke Uni Soviet
Pada 1956, Indonesia dan Soviet memulai kerja sama bilateral di bidang perdagangan. Presiden RI Soekarno mengunjungi Uni Soviet untuk pertama kalinya. Sejak itu, hubungan kedua negara terus berkembang.
Jejak Pengaruh Soviet di Jakarta
Jejak Pengaruh Soviet di Jakarta
Awalnya, perbedaan ideologi politik dan sistem ekonomi kedua negara sempat membuat hubungan kedua negara tidak berjalan mulus. Namun, perbedaan tersebut tidak menjadi halangan untuk memperkuat hubungan bilateral mereka.
Ketika itu, ketegangan terasa di seluruh belahan dunia akibat pertentangan ideologi antara Blok Barat dan Timur. Selain itu, revolusi sosialis tengah terjadi di beberapa negara, dan berdampak sangat luas.
Pemerintah Uni Soviet paham bahwa mereka tidak dapat memaksakan kehendak dalam hal ideologi negara atau mengklaim posisi dominan terhadap Indonesia. Baik Indonesia maupun Uni Soviet saling menyadari bahwa kedua negara dapat fokus menjalin kerja sama yang saling menguntungkan, tanpa mempermasalahkan ideologi politik.

Pada 12 April 1961, Soekarno kembali berkunjung ke Soviet. Meski kunjungan Soekarno ke Uni Soviet kala itu merupakan kunjungan yang bersifat simbolis, beberapa pakar berpendapat pemerintah Uni Soviet kala itu telah berharap Indonesia dapat menjadi sekutu, baik secara militer maupun ideologi. Kunjungan pada tahun 1961 tersebut semakin mengukuhkan kemesraan hubungan Uni Soviet dengan Indonesia.

Presiden Soekarno kembali mengunjungi Uni Soviet pada 12 April 1961. Foto: arsip Igor L. Kashmadze
Pasang-Surut Hubungan Dua Sahabat

Beberapa dekade setelah 1950-an, hubungan Indonesia dan Uni Soviet berkembang secara signifikan. Namun, bukan berarti hubungan baik kedua negara hanya terkait hubungan militer semata. Uni Soviet juga banyak bekerja sama dengan Indonesia dalam membangun infrastruktur sipil, seperti Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta, stadion, dan reaktor nuklir percobaan di Serpong.
Sayangnya, kondisi dalam dan luar negeri Indonesia tidak mendukung kelancaran proyek-proyek ini. Beberapa proyek terpaksa ditinggalkan karena ketiadaan dana. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, hubungan kedua negara sempat mengalami kemunduran.  
Namun, gejolak politik yang sempat terjadi pada masa itu bukan berarti hubungan kedua negara tidak terjaga. Kedua negara sadar akan perbedaan ideologinya, namun tetap menjaga hubungan dalam batas-batas yang wajar.
Kini, 65 tahun telah berlalu sejak Hatta mengirimkan telegram ke Uni Soviet yang menandai dibukanya pintu kerja sama antara kedua negara. Hari ini semakin banyak warga negara Indonesia yang belajar di universitas-universitas di Rusia, begitu pula sebaliknya. Hubungan baik yang telah terbina ini menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia menjadi salah satu fokus perhatian Rusia.
Di masa depan, sangatlah penting bagi Indonesia untuk mencari format baru dalam hubungan internasional. Dalam kaitannya dengan kerja sama Rusia-Indonesia, hubungan kedua negara harus berkembang ke level yang lebih tinggi, tidak hanya terbatas pada hubungan antarpemerintah, tetapi juga pada tataran hubungan masyarakat sipil.



 Sumber : RBTH Indonesia

Read more »

Warisan Soviet ini Akan Jadi Kapal Terkuat Rusia

terkuat Rusia


Admiral Nakhimov battlecruiser bertenaga nuklir Rusia, saat ini sedang menjalani renovasi dan upgrade persenjataan. Nantinya saat kapal ini kembali ke operasi pada 2018 akan menjadi kapal paling kuat yang dimiliki Rusia.
Kepala Desain Northern Biro Vladimir Spiridopulo dikutip oleh kantor berita milik pemerintah Itar Tass mengatakan kapal masuk ke layanan pada tahun 1988, tetapi kemudian hanya tinggal di Sevmash Shipyards di Severodvinsk sejak tahun 1999. Setelah bertahun-tahun penundaan, bekerja pada restorasi dimulai kembali pada bulan Januari tahun ini.
“Kapal akan mengalami perombakan total dan akan menjadi hampir baru. Dia memiliki lambung yang baik. Tapi segala sesuatu yang lain, kecuali untuk lambung dan pembangkit listrik nuklir, semua akan baru,” kata Spiridupulo Kamis 16 Oktober 2014.Dia menambahkan bahwa setelah diperbaharui Nakhimov akan mampu melayani 30 sampai 40 tahun lagi.
Admiral Nakhimov adalah salah satu dari dua kapal kelas Kirov – Battlecruisers bertenaga nuklir era Uni Soviet yang bertahan. Dua kapal ini merupakan kapal perang permukaan terbesar di dunia, selain kapal induk.
Kelas Kiro yang digunakan untuk menghancurkan kapal permukaan musuh besar, seperti kapal induk. Tetapi teknologi perang ini merupakan sisa dari Perang Dunia Kedua.
Sementara satu lagi kapal kelas Kirov yakni Laksamana Ushakov sampai saat ini masih berada di di pelabuhan kawasan Laut Putih menunggu pembongkaran selama bertahun-tahun. Masyarakat setempat khawatir kapal itu menjadi ancaman radiology. Admiral Ushakov memiliki dua reaktor nuklir, dan bahan bakar nuklir yang belum dibersihkan dari kapal sejak dia masuk layanan pada tahun 1980. Keadaan reaktor saat ini tidak diketahui.


Sumber : Jejaktapak

Read more »

Manuver Jet Bomber Rusia di Dekat Inggris Takkan Berhenti

Manuver Jet Bomber Rusia di Dekat Inggris Takkan Berhenti

Rusia bersumpah takkan menghentikan manuver jet bombernya sepanjang 2015. Foto: Mail Online.
MOSKOW - Kepala militer Kremlin, Jenderal Antaoly Zhikharev, bersumpah tidak akan menghentikan manuver pesawat jet pembom Tu-95 di dekat wilayah udara Inggris. Menurutnya, manuver akan terus berlangsung di sepanjang tahun 2015.

Dalam beberapa pekan terakhir, pertahanan udara Inggris “diobok-obok” oleh manuver pesawat jet bomber Rusia itu. Inggris kerap mengusir pesawat-pesawat Rusia yang bisa membawa bom nuklir itu dengan pesawat jet tempur Typhoon.

”Menurut rencana, penerbangan jarak jauh akan dilanjutkan sebagai bagian dari latihan militer dan dengan intensitas yang sama,” katanya. Manuver pesawat jet bomber Rusia itu, lanjut dia, berlaku tidak hanya di wilayah udara Atlantik timur, tapi juga di atas Kutub Utara, Pasifik dan Hindia. (Baca juga: Memanas, Jet Tempur Inggris Cegat Dua Pesawat Pembom Rusia)

Jenderal Zhikharev mengatakan bahwa pada tahun 2015, Rusia akan meningkatan manuver pesawat Tu-160 enam kali dari sebelumnya. Sedangkan manuver Tu-95 akan ditingkatkan puluhan kali.

Komentar petinggi militer Kremlin itu muncul setelah media-media Barat melaporkan bahwa militer Angkatan Udara Rusia mulai mengusik pertahanan udara NATO.

”Memang benar bahwa penerbangan pesawat jarak jauh kami terbang dan akan terbang ke wilayah geografis terjauh yang diperbolehkan,” imbuh komandan Angkatan Udara Rusia, Viktor Bondarev, seperti dilansir Mail Online, semalam (25/2/2015).

”Semua penerbangan dilakukan sesuai dengan dengan aturan internasional yang ketat tentang penggunaan ruang udara. Yakni, di atas wilayah yang netral, tanpa memasuki wilayah udara atau melanggar perbatasan negara-negara lain,” katanya.



Sumber : SINDO

Read more »

AS dan Inggris Pawai Militer di Dekat Wilayah Rusia

AS dan Inggris Pawai Militer di Dekat Wilayah Rusia

AS, Inggris dan negara-negara NATO pawai militer di dekat perbatasan Rusia. Foto: Estonian Defense Forces.
NARVA - Amerika Serikat (AS) dan Inggris pawai kendaraan militer di berbagai ruas jalan di Kota Narva, Estonia. Kota itu sangat dekat dengan Rusia, yakni hanya berjarak sekitar 300 meter dari perbatasan Rusia.

Angkatan Darat AS dan Inggris ramai-ramai pawai kendaraan lapis bajanya. Pawai militer yang dipimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) itu dilakukan setelah separatis pro-Rusia di Ukraina timur meluncurkan serangan di Kota Mariupol.

”Sejarah telah mengajarkan kita bahwa jika kita tidak membela diri, orang lain akan (membantu),” kata Jenderal Riho Terras, Kepala Staf Militer Estonia, saat parade militer.

”Peristiwa di Ukraina telah membuat seluruh dunia terjaga, untuk menunjukkan dengan sangat jelas bahwa kita sendiri yang harus menjaga keamanan,” lanjut Terras.

Menurut Washington Post, Rabu (25/2/2015), selain AS dan Inggris, sejumlah negara anggota NATO seperti Belanda, Spanyol, Latvia dan Lithuania juga mengerahkan ratusan pasukan untuk bergabung dalam pawai militer bersama sekitar 1.300 tentara Estonia.

Estonia, Latvia dan dan Lithuania semula adalah pecahan dari Soviet (musuh NATO selama Perang Dingin). Namun, tiga negara itu pada tahun 2004 berbalik bergabung menjadi anggota NATO. Keputusan itu telah membuat Rusia kecewa.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan, bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin kemungkinan bisa memusuhi negara-negara Baltik (Estonia, Latvia dan Lithuania).

Wakil Komandan NATO untuk Eropa, Jenderal Adrian Bradshaw, juga mengatakan, bahwa Rusia bisa saja merebut wilayah dari negara-negara NATO di balik pertempuran yang terjadi di Ukraina.

Lithuania sendiri kemarin mengumumkan akan mengembalikan kebijakan wajib militer bagi pemuda di tengah kekhawatiran meningkatnya aksi Rusia di Ukraina. Namun, beberapa warga etnis-Rusia di negara itu justru khawatir pawai militer NATO akan memancing aksi Rusia.

”Menurut pendapat saya keamanan nasional diledakkan oleh media, itu tidak ada yang serius, semuanya baik-baik saja, tidak ada yang akan menyerang siapa pun,” kata warga setempat di Kota Narva, Yuri Melnikov, 55, kepada AFP.


Sumber :  SINDO

Read more »

Rusia Siap Hadapi Serangan Nuklir, Juga Tanpa Ragu Membalas


rusia nuklir2

Pasukan Rudal Strategis atau (Strategic Missile Force ) Rusia siap untuk melindungi negara dari serangan nuklir dalam keadaan apapun, kata kepala SMF Central Komando. “Jika kita harus menyelesaikan tugas memukul mundur sebuah pukulan kilat nuklir, tujuan ini akan dicapai dalam jangka waktu yang ditentukan”, Andrei Burbin kepada Radio RSN, Sabtu (28/02/2015). Dia menambahkan SMF siap untuk memberikan serangan balasan nuklir “tanpa ragu”.
Dia menekankan bahwa posisi geografis unit rudal Rusia sudah siap untuk menghadapi serang global. Andrei juga mengatakan bahwa SMF berhasil melaksanakan rencana persenjataan. Pada tahun 2020, 98 persen dari sistem SMF akan baru. Saat ini, lebih dari 6.000 orang bertugas sehari-hari di SMF Rusia.



Sumber : Jejaktapak

Read more »

Jika Iran Tolak Antey-2500, Rusia Tawarkan S-400


S-400
S-400

CEO Perusahaan pertahanan Rusia Rostec, Sergey Chemezov menyatakan Rusia telah mengumumkan akan memasok beberapa sistem rudal anti-balistik Antey-2500 ke Iran untuk mengganti pembelian S-300 yang dibatalkan beberapa tahun lalu secara sepihak beberapa tahun lalu. Tetapi, jika pengganti ini masih ditolak, Rusia akan menawarkan sistem lain yang sepertinya sulit bagi Iran menolaknya, S-400, sistem rudal tercanggih saat ini.
Moskow memang tengah berupaya untuk menarik konflik hukum dengan Iran yang menuntut ke pengadilan internasional setelah Rusia membatalkan penjualan  S-300PMU-1 ke Iran pada tahun 2007. Jika Iran tidak bersedia menerima Antey-2500 sebagai pengganti, Rusia dapat mempertimbangkan menjual Iran S-400 sistem anti-pesawat baru sebagai gantinya.
Chemezov mengatakan bahwa Rusia mengusulkan kesepakatan untuk Iran sekitar dua bulan yang lalu dan Teheran masih mempertimbangkan usulan tersebut.
Seorang wakil dari pengembang sistem rudal, Almaz-Antey anak perusahaan kedirgantaraan Aerospace Defense Concern, menolak untuk mengomentari laporan yang diungkap The Komersant tersebut,
Antey-2500
Antey-2500

Rosoboronexport telah menandatangani kesepakatan untuk lima sistem rudal anti-pesawat S-300PMU-1 dengan kementerian pertahanan Iran pada tahun 2007 dengan nilai 800 juta Dollar AS Teheran membayar deposit sebesar 167 juta segera dan Almaz-Antey mulai memproduksi. Iran tidak pernah menerima sistem itu karena Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi untuk melarang penyediaan senjata modern ke Iran tiga tahun setelah kesepakatan itu dibuat.
Pada bulan September 2012, Presiden Rusia Dmitry Medvedev memberikan perintah untuk pelaksanaan resolusi dan Moskow menjatuhkan sanksi terhadap Iran. Meskipun perusahaan Rusia mengembalikan deposit, Iran menuntut Rosoboronexport ke arbitrase internasional di Jenewa dan meminta kompensasi sebesar 4 miliar. Moskow telah menyerukan resolusi damai untuk urusan, menjanjikan pertama yang menyediakan sistem rudal anti-pesawat Tor-M1V, namun usulan itu ditolak oleh Teheran.
Pada saat ini sistem S-300 yang awalnya sudah diproduksi untuk Iran sudah dibongkar dan bagian-bagiannya telah digunakan untuk tujuan lain. Pada Juni 2013 Kommersant melaporkan dua kali bahwa sistem rudal anti-pesawat Antey-2500.
Sebuah sumber dari Rostec mengatakan bahwa sistem pertahanan S-400 anti-pesawat ditahan sebagai usulan cadangan. Pada saat itu Rusia mengatakan pihaknya terlibat dalam penelitian kelayakan menawarkan Teheran S-400 sistem. Ini mungkin menjadi proposisi lebih menarik untuk Teheran daripada sistem Antey-2500. Moskow telah menyatakan bahwa hanya bersedia untuk membahas kesepakatan yang melibatkan sistem S-400 dengan syarat bahwa Iran menarik semua tuntutannya. Sebuah sumber dari Kremlin menyatakan pada 23 Februari bahwa mendapatkan Iran untuk mencabut tuntutan itu.
Bagi Rusia, memberikan sistem Antey-2500 ke Iran akan lebih baik karena Almaz-Antey sedang sibuk dengan yang ada 56 pesanan sistem S-400, termasuk empat untuk China, yang diperkirakan akan selesai pada 2020.
S-400 memiliki lintasan tembak maksimum 400 km dan dapat menargetkan 72 target sekaligus dan sekaligus menyerang 36 target. Sistem ini mampu menghancurkan target terbang pada ketinggian lebih dari 30.000 m dan ketinggian rendah untuk minimal 5 m.



Sumber : Jejaktapak

Read more »

Pulihkan 100 Pangkalan Udara, Benarkah Rusia ingin Bangunkan Soviet?

Su-27 Flanker Rusia

Su-27 Flanker Rusia
Komanadan Angkatan Udara Rusia   beberapa waktu lalu mengumumkan rencana Moskow untuk membangun sebuah pangkalan udara untuk jet tempur di Belarus Timur pada tahun 2016. Kolonel Jenderal Viktor Bondarev juga mengatakan Moskow berencana untuk memperluas pangkalan udara di Armenia dan Kyrgyzstan.  Dengan demikian Rusia sepertinya akan menggenjot kehadiran kekuatan mereka di Negara-negara bekas Uni Soviet. Benarkah Rusia ingin membangun kembali kebesaran dan kejayaan Soviet?
Pangkalan udara baru di kota Belarusia dari Babruysk akan memperluas kehadiran udara sudah kuat Rusia di Belarus. Pangkalan ini akan menjadi  rumah bagi  Su-27. Bahkan sebelum konflik di Ukraina, Rusia di bawah Presiden Vladimir Putin telah melakukan upaya besar untuk membangun kembali kehadiran militer   di Eropa Timur, Asia Tengah, Kutub Utara dan seterusnya. Negosiasi dengan Vietnam, Kuba, Venezuela dan Nikaragua untuk membangun pangkalan   pembom  strategis Rusia juga  sedang berlangsung.
“Pada tahun 2020,  47 lapangan udara, termasuk di Crimea di Arktik, akan direnovasi di bawah program persenjataan negara,” Bondarev seperti dikutip oleh Interfax, Rabu 16 Oktober 2014. Pada tahun 2025, ia menambahkan, angkatan udara Rusia akan memulihkan dan membuka kembali 100 pangkalan militer era Soviet.
Tahun lalu, unit jet tempur Rusia dikerahkan ke pangkalan udara Belarusia di Baranovichi sebagai bagian dari jaringan pertahanan udara regional terpadu . Rusia juga mengumumkan bahwa mereka akan jet tempur stasiun di pangkalan udara buatan Rusia di kota Belarusia dari Lida, dekat perbatasan negara itu dengan Polandia dan Lithuania.
Para pejabat pertahanan Rusia telah menyebut penyebaran ini sebagai respon terhadap patroli udara NATO ditingkatkan-up di Baltik dan Polandia.
Bondarev   dikutip oleh RIA Novosti,   mengatakan bahwa Moskow sedang melakukan negosiasi dengan Bishkek untuk merekonstruksi pangkalan udara Kant di Kyrgyzstan, yang merupakan rumah bagi jet tempur Rusia di bawah naungan CSTO. Sementara dasar dapat digunakan, konstruksi lebih lanjut diperlukan untuk mendukung pembom strategis Rusia, katanya.
Bondarev mengatakan pekerjaan serupa akan dilakukan pada sebuah pangkalan udara di Armenia, yang pada era Soviet dijadikan pangkalan bagi MiG-29.


Sumber:  The Guardian : jEJAKTAPAK

Read more »

Rusia Kembangkan Strategi Baru Perang Bawah Es



rusia kapal selam

Armada Utara Rusia sedang melakukan pelatihan untuk mengembangakan cara baru menggunakan senjata di bawah laut di Arktik yang membeku. Armada Utara Rusia melalui siaran pers mengatakan Armada Utara  sedang memberi perhatian khusus pada masalah menggunakan torpedo untuk membuat bukaan di es. ”Sehingga kapal selam bisa muncul dan rudal api dalam kondisi keras dari tinggi Arktik,” kata pernyataan selama pertemuan komandan Angkatan Laut di pusat pelatihan di Gadzhievo.
Laksamana Vladimir Korolev, Komandan Armada Utara, berbicara tentang pentingnya menggunakan pengalaman tempur generasi tua petugas Angkatan Laut, sementara pada saat yang sama bekerja untuk mengembangkan teknik dan taktik perang bawah laut baru. Dia juga menyebutkan bahwa angkatan laut Rusia sangat terlatih dan awak yang bisa menjalankan misi dalam situasi apapun.
Pada bulan Desember 2014, Rusia meluncurkan doktrin militer revisi yang mengutamakan perlindungan kepentingan nasional di Arktik. Wilayah yang memiliki cadangan besar minyak dan gas, telah menjadi fokus perhatian empat negara Arktik lainnya: Amerika Serikat, Kanada, Norwegia dan Denmark. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa meskipun Rusia tidak berencana untuk militerisasi Kutub Utara, akan diambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan kemampuan pertahanan di wilayah ini.
Pada bulan Januari, dilaporkan bahwa Armada Utara meningkatkan pertahanan udara dengan menambahkan sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumph yang memiliki daya jangkau 400 km dan  mampu menargetkan pesawat, rudal, dan dronepada ketinggian hingga 30 kilometer.



Sumber : Jejaktapa

Read more »

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *