Senin, 04 Februari 2013

Heboh Kapal Perang Jerman, dan Beredel


Jakarta | Cover story majalah Tempo 7 Juni 1994 benar-benar membuat merah telinga penguasa. “Tak sampai sebulan, orang dalam pusaran kekuasaan melaporkan bahwa Goenawan Mohammad sebagai orang paling berbahaya di Indonesia,” begitu Janet Steel menulis dalam buku Wars Within. Majalah Tempo, tabloid DeTik, dan majalah Editor diberedel oleh Menteri Penerangan Harmoko. Goenawan kala itu merupakan Pemimpin Redaksi Tempo.
Media-media itu mengkritik pembelian 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur oleh pemerintahan Soeharto. Kabar itu berfokus pada harga pembelian yang diperdebatkan oleh Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie dan Menteri Keuangan Marie Muhammad. Utamanya, besaran harga dari US$ 12,7 juta menjadi US$ 1,1 miliar. Sepekan sebelumnya, majalah Tempo mengungkapkan pembengkakan harga kapal bekas sebesar 62 kali lipat.

Pada 9 Juni 1994, dua hari setelah pemberitaan tersebut, ketika meresmikan pembangunan Pangkalan Utama Angkatan Laut di Teluk Ratai, Lampung, Soeharto marah besar. Dia menegaskan keberpihakannya kepada ABRI. Soeharto menghujat pers. Dia memerintahkan supaya menindak tegas media yang “mengadu domba”.

Dari sinilah, Menteri Penerangan Harmoko memberedel ketiga media tadi. “Tanpa alasan eksplisit atas pecabutan SIUPP atau izin terbit majalah, dengan hanya menyebut bahwa Tempo telah mengganggu stabilitas nasional dan gagal menjaga pers Pancasila,” tulis Janet Steel.

Mengenai pemberedelan ini, Tempo edisi 19 Oktober 1998 memuat pernyataan Harmoko. “Eee, wah.. kok saya lupa, ya. Sudahlah, biarkan itu semua berlalu.”

Kepada Tempo, Habibie enggan bicara politik, termasuk masa lalunya di era Orde Baru.


Tempo.Co

Read more »

Iran Modernisasi Pengayaan Uranium

Add caption
TEHRAN : Iran mengaku telah mengungkapkan rencananya kepada International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk menggunakan lebih banyak uranium sentrifugal di kawasan Natanz. Jika rencana itu terwujud, mereka memiliki kesempatan meningkatkan aktivitas pengayaan uraniumnya. Seorang diplomat dari suatu negara Barat, yang tidak mau ditulis namanya, mengatakan, Kamis (31/1), rencana Iran itu disampaikan kepada IAEA pada 23 Januari lalu.

Rencana Iran itu dipastikan membuat upaya diplomasi penyelesaian masalah program nuklir Iran semakin berlarut-larut. Bukan hanya itu, rencana Iran itu secara tidak langsung juga menunjukkan pembangkangan terhadap komunitas internasional. Sebab rencana Iran itu diungkapkan di tengah-tengah tingginya kekhawatiran negara-negara Barat dan Israel terhadap program nuklir Iran, yang mereka yakini ditujukan untuk tujuan militer.

Namun, Iran berkeras hal itu untuk tujuan damai. Seorang anggota komunikasi di IAEA, yang juga keberatan ditulis namanya, membenarkan rencana Iran tersebut. Dia mengatakan bahwa dalam surat ke IAEA disebutkan bahwa Iran berencana menggunakan sentrifugal baru yang disebut IR2m.

IR2m adalah sebuah unit yang akan ditanam di kawasan Natanz, Provinsi Isfahan, Iran, untuk pengayaan uranium supaya konsentrasi uranium naik sampai 5 persen. "Sekretariat IAEA menerima sepucuk surat dari Atomic Energy Organization of Iran (AEOI) yang menginformasikan bahwa AEOI akan menggunakan IR2m pada unit A-22 di kawasan pengayaan uranium di Natanz," kata anggota komunikasi tersebut, Kamis (31/1).

Iran saat ini sedang dihadapkan pada tuntutan dunia internasional agar menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uraniumnya. Akan tetapi, Iran tidak menggubris permintaan itu sekalipun Dewan Keamanan PBB mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih berat kepada Iran.




Sumber : KoranJakarta

Read more »

TNI AL Perketat Pengamanan Perairan Natuna

JAKARTA) : Sesuai instruksi Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, TNI AL akan memperketat pengamanan di Laut Natuna. Pengamanan di perairan Natuna merupakan penguatan untuk mengatasi konflik yang semakin meningkat di Laut China Selatan. "Eskalasi di Laut China Selatan dan Laut Sulawesi meningkat," kata Kepala Staf TNI AL (Kasal), Laksamana Madya Marsetio, di sela-sela Rapat Pimpinan TNI AL di Mabes TNI AL Cilangkap, Jakarta, Kamis (31/1).

Untuk pengamanan di perairan Natuna, TNI AL bahkan meminta Armada RI Kawasan Barat mengalihkan pengawasan dari Selat Malaka ke Natuna. Natuna merupakan perairan yang sangat dekat dengan Laut China Selatan sehingga potensi konfliknya semakin besar.

Menurut Kasal, mengingat sangat pentingnya pengamanan di perbatasan Laut China Selatan, Rapim TNI AL menghadirkan Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional, Kementerian Luar Negeri, Linggawati Hakim. "Beliau banyak berbicara tentang diplomasi perbatasan," ujar dia.

TNI AL juga mengundang Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, Triyono Budi Sasongko. Triyono banyak berbicara mengenai pengelolaan wilayah perbatasan. Marsetio mengatakan kehadiran perwakilan dari perwakilan Kemlu dan BNPP itu sangat diperlukan untuk menyatukan pengetahuan para perwira mengenai perkembangan di perbatasan, khususnya di Laut China Selatan dan Blok Ambalat.

Sebelumnya, Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono, menyatakan semenjak China mengklaim sembilan titik daerah penangkapan ikan tradisional di sekitar Laut China Selatan, TNI bersiaga. "Kita perlu hati-hati menyikapi klaim tersebut. Jangan sampai berubah menjadi klaim wilayah," jelas Agus.

Indonesia sebenarnya sudah melayangkan nota protes ke Pemerintah China soal klaim tersebut, namun belum ada tanggapan. Akan tetapi, Agus menyatakan, hingga kini, patroli TNI di kawasan itu belum menemukan kembali kapal China yang menangkap ikan di perairan Natuna. Meski begitu, pemerintah tetap berkomitmen membangun sistem pertahanan di Laut Natuna.

"Kita akan memperkuat TNI AL, TNI AD, dan TNI AU di sana," ujar dia. Di sisi ekonomi, pemerintah juga membangun fasilitas perikanan di sana bekerja sama dengan negara ASEAN lain. 




Sumber :  KoranJakarta

Read more »

Kapal Eks Inggris Tunggu Keputusan, PKR Masuk Kontrak Pembelian Kedua


JAKARTA: Sejumlah kapal perang baru yang fokus pada pengawasan laut perbatasan dan pemekaran organisasi menjadi pembahasan dalam rapat pimpinan TNI Angkatan Laut di Jakarta, Kamis-Jumat (31/1-1/2).
Kepala Staf TNI AL Laksamana (TNI) Marsetio dalam jumpa pers di Markas Besar TNI AL, Cilangkap, menjelaskan, sejumlah kapal baru akan melengkapi TNI AL hingga 2014. “Kapal selam akan beroperasi lima unit. Sebanyak tiga unit baru dibuat dengan kerja sama Korea Selatan. Pembuatan kapal ketiga dibangun sepenuhnya di PT PAL Surabaya,” kata Marsetio.

Untuk kapal perusak kawal rudal (PKR) dari Damen Schelde Belanda, lanjutnya, memasuki kontrak pembelian unit kedua.

“Pada pembelian kedua akan dilengkapi peluncur torpedo, ruang kendali tempur, dan cupola senjata permukaan yang sebelumnya tidak diberikan dalam pembelian kontrak pertama. Pembangunan PKR juga melibatkan PT PAL Surabaya,” ujar Marsetio.

Pada Desember 2012, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya (TNI) Eris Heryanto mengatakan, sebanyak 250 teknisi PT PAL dikirim ke Belanda untuk ikut dalam pembangunan kapal PKR.

Rencana pembelian tiga light frigate eks kapal kelas Nakhoda Ragam Angkatan Laut Brunei dinilai tidak bermasalah. Menurut Marsetio, perlengkapan yang dinilai kurang akan dilengkapi BAe Inggris dan sekarang keputusan ada di tangan Kementerian Pertahanan.

Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Aljazair batal membeli light frigate itu karena ada kendala teknis, seperti sudah tutupnya perusahaan yang menjadi penyedia sarana kendali tempur.

Namun, Poengky Indarti dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Pembelian Senjata TNI mengkritisi rencana pembelian kapal PKR kedua dari Belanda. “Beli kapal rudal kok tanpa rudal. Pembelian senilai 220 juta dollar AS itu tidak dilengkapi senjata utama, yakni peluru kendali. Kita masih harus membayar 75 juta dollar AS untuk melengkapi rudal bagi kapal tersebut,” kata Poengky. 




Sumber : Kompas

Read more »

Jumat, 01 Februari 2013

Polemik Pesawat Tempur KFX


Seoul | Menurut anggota Majelis Komite Pertahanan Nasional, tahun ini atau tahun depan, akan melakukan klarifikasi kontroversi pengembangan KFX yang memakan lebih dari 10 tahun.
Seperti yang telah dilontarkan oleh sebuah lembaga penelitian nasional, dimana lembaga tersebut mengkritik Majelis Komite Pertahanan Nasional dalam sebuah diskusi forum ke 28 yang bertajuk “Bagaimana KFX Bisa Mengejar?” di Gedung Badan Pembangunan Pertahanan (ADD).

Tapi berbeda dengan Korea Institute Defense Analysis (KIDA) yang mengatakan dalam pengembangan alutsista merupakan hal yang wajar mempromosikan produk dalam negeri, membeli dari negara lain, atau memodifikasi alutsista tersebut untuk melakukan pengembangan lebih lanjut.

Proyek pengembangan pesawat tempur KFX akan diproduksi pada tahun 2020 untuk menggantikan pesawat tempur F-4 dan F-5 yang akan pensiun dari armada Angkatan Udara Korsel (ROKAF). Proyek KFX sendiri telah diumumkan sejak tahun 2001 lalu, dan akan melakukan studi kelayakan program KFX pada tahun ini.

Menurut manager Pengembangan Sistem Penerbangan ADD, “Untuk pengembangan pesawat tempur KFX tersebut memiliki keunggulan karena harga dan biaya opersionalnya murah dan efisien. Selain itu KFX juga memiliki kemampuan teknologi terkini, seperti radar AESA (Active Electronically Scanned Array) dan teknologi yang mengandung konten lokal sebesar 87 persen.”

Dia juga memperkirakan biaya produksi massal pesawat tempur KFX sekitar ₩ 8,6 sampai 9 triliun dengan dana estimasi awal menelan biaya ₩ 23 triliun. Bila produksi massal tersebut mencapai 208 – 676 unit, maka diprediksikan harga satuan pesawat tempur KFX sekitar US$ 60-90 juta dollar AS per unitnya.

Selain itu menurut seorang pejabat ROKAF mengatakan dengan masuknya pesawat tempur KFX dalam jajaran armada ROKAF, akan memberikan keuntungan yaitu kemudahan dalam dukungan logistik yang cepat dan mudah yang merupakan salah satu tujuan dalam pengembangan KFX.

Dan saat ditanya “Apakah kemampuan pesawat tempur KFX lebih tinggi dari produk impor yang sejenis?, pejabat ROKAF tersebut masih enggan berbicara banyak mengenai hal tersebut.

Menurut Dr. Lee Ju Hyung selaku anggota KIDA mengatakan dengan dana pengembangan yang menelan biaya lebih dari ₩ 10 trilun jauh lebih ekonomis daripada harus mengimpor alutsista dari luar negeri.

Hal ini bertentangan dengan pihak Lockheed Martin dan Boeing yang pesimis dengan pengembangan KFX karena memiliki resiko yang sangat tinggi dan Korsel sendiri belum memiliki pengalaman dalam pengembangan pesawat tempur.(MIK)

Hankooki

Read more »

2014, MEF Alutsista TNI Capai 38 Persen

Upaya membangun minimum essential force (MEF) atau kekuatan pokok minimum terkait alutsista TNI, akan mencapai 38 persen pada 2014. Hal ini diungkapkan oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono kepada pers saat acara Rapat Pimpinan (Rapim) TNI tahun 2013 di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta, Selasa, 29 Januari 2013.

Pada tahun 2014, target pencapaian 38 persen dari seluruh rencana strategis modernisasi alutsista TNI sangat realistis, mengingat pada 2012 lalu kekuatan pokok minimum alutsista sudah mencapai 30 persen, demikian sikap optimis yang dinyatakan Panglima TNI. -Sebelumnya Menhan Purnomo Yusgiantoro optimis pada 2014 target MEF tercapai 40 persen-

Modernisasi alutsista TNI yang sudah dicapai saat ini :

 TNI-AD  Panser APS-2 Pindad, Kendaraan Taktis Pendobrak, Heli Latih Dasar, Heli Serbu, Main Battle Tank Leopard 157 unit, Tank Support 10 unit, Meriam 155 MM Caesar 37 Pucuk, Roket MLRS Astros II, dan Rudal Arhanud Mistral 8.
 TNI-AL Kapal Patroli, Kapal Cepat Rudal, Kapal Bantu Cair Minyak, Sea Raider, Heli Angkut Sedang, bridge simulator, baterey kapal selam, meriam 30 mm 7 barel, meriam Kal 40 mm, Multy Launch Rocket System, Torpedo kasel diesel elektrik, dan kapal angkut tank.
 TNI-AU 24 pesawat F 16, pesawat pengganti AS-202 dan T-34C, pesawat C212-200, pesawat Nas-332, pesawat pengganti MK 53, pesawat pengganti OV 10, pesawat Sukhoi MK-2, pesawat transpor pengganti F-27, Helikopter Full Combat Sar, dan pesawat tempur taktis Super Tucano

Berbicara mengenai Rapim TNI 2013, Agus menjelaskan bahwa Rapim kali ini secara khusus membahas komitmen dan semangat revitalisasi alutsista TNI untuk memantapkan profesionalisme dan eksistensi peran strategis TNI di bidang pertahanan. Untuk itu, semua pihak yang terkait harus konsisten menjalankan rencana strategis (Renstra) seperti yang sudah diprogramkan dalam Renstra 2010-2024. Jika semua berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka target MEF 38 persen pada 2014 bisa tercapai dan pada 2024 target MEF sudah 100 persen.

Sistem rudal Mistral
Sistem rudal Mistral yang digunakan TNI AD adalah Mistral Atlas. Penembakan dilakukan oleh seorang prajurit yang duduk di sistem peluncur dengan dibantu tiga prajurit. Mistral TNI AD dipasang di ranpur Komodo produksi PT. PINDAD. Untuk TNI AL, Mistral yang digunakan adalah tipe Simbad.

Menurut Agus, proses untuk mencapai MEF ditempuh dengan semua cara dengan tetap memberdayakan proses transfer teknologi (ToT) atau kerja sama produksi dengan negara-negara produsen alutsista sambil memberdayakan industri pertahanan dalam negeri (seperti Pindad dan PT DI). Tujuannya tidak lain dan tiak bukan adalah utnuk memodernisasi alutsista sekaligus agar industri pertahanan dalam negeri bisa mandiri dalam memproduksi alutsista.


Sumber : Metro TV News
Kredit foto : MBDA / Daniel Lutanie

Read more »

Kemampuan Nuklir Rusia Segera Lampaui AS


Yury Dolgoruky menembakkan rudal Bulava
Rudal balistik antarbenua Bulava ditembakkan dari kapal selam nuklir Yury Dolgoruky
  IAA- Di masa jabatan yang kedua sebagai presiden Rusia, Vladimir Putin telah membangun kembali kekuatan pasukan militer Rusia, termasuk kemampuan nuklirnya yang mencolok sebagai prioritas utama. Berbagai rudal canggih, pesawat bomber (pembom) dan kapal selam sudah adak di cetak biru dan sebagian sudah menempati posnya di Angkatan Bersenjata Rusia. Berbeda dengan Amerika Serikat yang saat ini militernya tengah menghadapi kemunduran akibat pemotongan besar anggaran pertahanan.
Dari nuklir yang terdapat di tiga matra angkatan bersenjata Rusia (udara, laut dan darat), sebuah kapal selam nuklir baru yang dirancang untuk membawa rudal balistik antar-benua telah mendapatkan perhatian khusus. Moskow saat tengah mengimbangi Amerika Serikat dalam hal nuklir, kemudian suatu saat akan menyalip persenjataan nuklir Amerika Serikat.
"Selama program modernisasi militer jangka panjang, Rusia telah berada di jalur yang tepat untuk mencapai paritas, yang pada akhirnya akan melampaui Amerika Serikat dalam kemampuan nuklir, terutama jika pemotongan anggaran mengancam kemampuan militer AS," kata Rick Norris, seorang veteran Angkatan Darat AS, Badan Intelijen Pertahanan, dan juga sebagai seorang analis yang pendapatnya diakui dalam hal persenjataan dan kontraterorisme.
Norris membuat pernyataan ini setelah media menghubunginya tentang efektivitas kapal selam rudal balistik terbaru Rusia, Yury Dolgoruky, yang baru saja memulai tugasnya di Angkatan Laut Rusia.
Yury Dolgoruky, dinamai dari pahlawan militer awal Rusia, adalah kapal selam yang pertama dari kelas Borey yang masuk ke layanan dan kapal selam berikutnya yaitu Vladimir Monomakh (sekarang sedang uji coba laut) dan Alexander Nevsky (masih dibangun) dijadwalkan akan segera bergabung dalam waktu dekat. Total semua kapal selam kelas ini yang berjumlah 8 akan segera selesai.
Di atas kertas, Yury Dolgoruky adalah kapal selam rudal balistik antarbenua paling canggih yang dimiliki Rusia, yang rudal Bulava ("Mace") adalah rudal yang terbang rendah (akan sulit dideteksi radar), hipersonik, serta berhulu ledak ganda.
Rudal yang terbang rendah seperti Bulava sangat berbahaya. Selama Perang Dingin, para analis militer AS yakin bahwa Uni Soviet mampu meluncurkan serangan rudal "terbang rendah" yang bisa menghancurkan, dengan peringatan sangat sedikit (sulit dideteksi) oleh sistem pertahanan rudal AS, menurut Norris.
Rudal Bulava ini dimaksudkan sebagai perbaikan dari kemampuan Soviet sebelumnya. Rudal Bulava memiliki sistem bimbingan (guidance) otonom (sendiri) dan mampu mengubah ketinggian dengan cepat yang tentu saja untuk menghindari sistem pertahanan anti-rudal. Kapal selam kelas Borey mampu membawa sebanyak 20 rudal Bulava, Norris menyatakan. -Tiga kelas Borey pertama dilengkapi dengan 16 rudal balistik Bulava, namun kelas Borey berikutnya dilengkapi dengan 20 rudal Bulava-
Moskow berencana untuk menggunakan kapal selam kelas Borey di Atlantik maupun di Pasifik. Semakin banyak patroli kapal selam jenis ini di perairan perbatasan Amerika, maka akan menjadi kekhawatiran serius bagi Amerika, ujar Norris.
PAK DA
Konsep bomber strategis PAK DA
Rusia juga meningkatkan kemampuan tempur nuklirnya di aspek lain. Selain modernisasi armada pesawat bomber, Moskow sedang mengembangkan generasi berikutnya bomber strategis masa depan, mungkin secara rahasia, bomber tersebut dikenal dengan PAK DA. Seiring dengan patroli kapal selamnya, pesawat bomber Rusia juga akan berkeliaran di sepanjang perbatasan Amerika Serikat.
Salah satu yang ambisius dari kebangkitan Rusia pasca Perang ingin adalah kembalinya rencana pengembangan missile train (kereta/kendaraan rudal). Pada Era Uni Soviet, kendaraan rudal tertentu akan membawa fasilitas rudal balistik. Kendaran rudal sulit untuk dideteksi karena keberadaannya bisa di mana saja.
Ilmuwan dan teknisi Rusia sekarang sedang mengembangkan kendaraan bertenaga nuklir (untuk membawa rudal) untuk meniadakan penggunaan tiga mesin yang harus selalu mengisi bahan bakar dan akomodasi-akomodasi lain yang diperlukan. Sebuah prototipe dari kendaraan/lokomotif turbin gas, yang juga busa menarik kereta rudal, telah berhasil dibuat dan diuji coba.
Moskow sangat serius dalam intensi untuk mengembalikan posisinya sebagai kekuatan nuklir dunia. Dorongan politik mempengaruhi persenjataan rusia terdeteksi dalam Tweet yang dikirim oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin dan hal ini sangat menarik perhatian Norris. Rogozin membuat Tweet setelah kapal selam Yury Dolgoruky resmi ditugaskan ke Armada Utara Angkatan Bersenjata Rusia. (FS)

Read more »

Yon Armed Segera Dapatkan MLRS ASTROS II



MLRS ASTROS II (Foto: Jorge Andrade)
 
Tahun ini, Resimen Artileri Medan (Armed) 2/1 Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) rencananya akan mengganti alutsista tua dengan alutsista yang lebih canggih dan terbaru. Salah satunya, alutsista yang ada di lingkungan Batalyon Armed Pasopati 9 Purwakarta.

Pasalnya, artileri yang ada terutama yang terdapat di tiga Batalyon Armed dinilai sudah usang dan harus segera disesuaikan dengan perkembangan teknologi saat ini. Bila tidak ada halangan, dalam waktu dekat Batalyon ini akan mendapatkan alutsista tipe MLRS ASTROS II yang diproduksi oleh Brasil.

Komandan Resimen Armed 2/1Kostrad, Kolonel Arm Mohamad Naudi Nurdika mengatakan, saat ini alutsista yang dimiliki tiga Batalyon dibawah struktur Resimen Armed 2/1 Kostrad, masing-masing Yon Armed 9 Pasopati, Yon Armed 10 Brajamusti, dan Yon Armed 13 Nanggala, adalah berjenis meriam 105 mm-M101A1 buatan Amerika tahun 1942, dan meriam 76/GN buatan Yugoslavia dengan tahun pembuatan 1949.
 
"Persenjataan di tiga batalyon dibawah kita itu sudah tua. Sehingga ditahun ini jenis meriam tersebut bakal diganti persenjataan dengan system digital, antara lain Multiple Launch Rocket System (MLRS) buatan Brasil atau Roket jenis Astros-II. Persenjataan ini diyakini menjadi alutsista yang modern, karena jarak jangkau yang jauh serta berdaya ledak besar dan mobile," kata Naudi kepada INILAH usai acara Hut Kostrad ke 49, Selasa, 29 Januari 2013.

Dikatakan Naudi, persenjataan tersebut sudah sangat canggih. Bahkan, pengoperasiannya sudah menggunakan sistem komputerisasi dan memakai Bahasa Inggris. Selain itu, memiliki daya jelajah sejauh 90 kilometer, dan dapat diset hingga menjangkau 300 kilometer.

Dengan demikian, prajurit yang ada di setiap batalyon harus mengimbangi kecanggihan teknologi dari persenjataan ini. Oleh karena itu, untuk mendukung hal tersebut seluruh anggota TNI yang ada di tiga Batalyon diwajibkan untuk kursus Bahasa Inggris.

"Para prajurit ini, akan belajar Bahasa Inggris dua kali dalam sepekan. Setiap Senin dan Rabu," ujar Naudi.

Selain akan mendapatkan Alutsista baru, alasan lain prajurit harus pandai Bahasa Inggris, yakni 2013 ini dicanangkan sebagai tahun ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sehingga, seluruh prajurit harus menguasai Iptek. Termasuk, bahasa pendukungnya.

Jumlah prajurit yang bertugas di institusinya berjumlah 1.762 anggota. Seluruhnya, harus mampu menguasai Bahasa Inggris. Karena, kedepan mereka akan terlibat langsung dalam pengoperasian roket tersebut yang rencananya akan dikirim sebanyak 18 pucuk.
 
 
Sumber : Inilah

Read more »

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *