Sabtu, 27 Juli 2013

Sejarah Bangsa Jin

ilustrasi gambar
Bangsa jin telah ada 2.000 tahun sebelum terciptanya Nabi Adam. Para jin terdiri dari banyak bangsa dan suku, mereka menikah, mempunyai keturunan, dan sebagainya. Allah memberikan mereka kekuatan yang besar.  Tapi mereka menghasilkan begitu banyak kerusakan di muka bumi, mereka saling berperang, saling berbuat curang, saling merampas hak satu sama lain. Jadi Allah S.W.T. mengirimkan pasukan malaikat untuk memerangi mereka, dan pasukan malaikat ini mendesak mereka dari bumi dan memaksa mereka hidup di sebuah pulau dalam laut.

Iblis dulunya begitu taat kepada Allah S.W.T. Berbeda dengan para malaikat yang diciptakan hanya untuk taat kepada Allah. Tapi Iblis dapat memilih untuk melakukan kebaikan atau kejahatan, dan jika dia memilih kebaikan, maka itu menjadi poin plus baginya.

Meskipun para malaikat begitu taat pada Allah S.W.T., tapi iblis dapat menyaingi para malaikat karena ketaatannya. Bahkan iblis sebenarnya bekerja sama dengan para malaikat. Tapi dia Iblis bukanlah malaikat, dia adalah jin yang terbuat dari api. Sedangkan para malaikat terbuat dari cahaya.

Kemudian suatu hari Iblis akan diuji karena ketaatannya. Jadi Allah berfirman kepada para malaikat-Nya “Wahai para malaikatku, Aku akan menciptakan sebuah makhluk dari tanah.” Dan makhluk itu adalah Bapak kita Adam A.S., manusia paling pertama.

Allah memberitahu para malaikat bahwa sebuah makhluk akan diciptakan dari tanah, sedangkan para malaikat telah mengetahui kelakukan para jin sebelumnya. Para jin saling berperang dan melakukan kerusakan di bumi. Jadi para malaikat menjawab “Ya Allah, apakah Kau akan menciptakan sebuah makhluk di bumi yang akan menumpahkan darah dan melakukan kerusakan lagi, sedangkan kami mengagungkan nama-Mu.”

Mereka tidak membantah, tapi mereka kebingungan “Lihatlah apa yang bangsa jin perbuat, kami tidak mengerti mengapa Allah ingin menciptakan makhluk lainnya karena mereka akan membuat pertumpahan darah dan kerusakan.” Tapi Allah tidak menjelaskannya kepada mereka karena mereka tidak akan mengerti sampai mereka melihatnya sendiri, jadi Allah berfirman “Aku tahu tahu hal-hal yang tidak kalian ketahui.”

Ketika Allah menciptakan Adam A.S., iblis mendengar apa yang dibicarakan para malaikat, dan iblis mulai penasaran “Apa yang begitu spesial tentang makhluk yang akan Tuhan ciptakan?” Dan pada saat yang sama dia merasakan sesuatu dalam dirinya. Sebenarnya dia dapat mengendalikannya tapi dia membiarkan hal itu mengambil alih dirinya. Hal itu adalah iri hati.

Jadi ketika dia melihat makhluk ini, menurutnya makhluk ini tidak begitu menarik. Makhluk ini terbuat dari tanah dan berwarna gelap karena tidak ada nyawa di dalamnya. Dia mengetuknya dan menendangnya. Dia dapat berjalan menembusnya, karena iblis terbuat dari api yang merupakan materi yang tidak padat. Sebagaimana dalam hadist bahwa kita sebenarnya hampa, jadi iblis berpikir manusia adalah makhluk yang lemah. 

Seiring waktu berjalan, Allah membiarkan tubuh Adam A.S. seperti itu, dan setiap kali iblis melihatnya, dia merasa takut. Melihat sebuah mayat cukup menakutkan bukan? Tapi dia mencoba melawan rasa takutnya dan berkata “Aku lebih baik darimu, kau tidak dapat menjadi lebih baik daripadaku.”

Namun para malaikat saling berbincang satu sama lain dan berkata “Insya Allah, Tuhan tidak kecewa terhadap kita.” Para malaikat merasa takut bahwa Tuhan kecewa dengan mereka, takut jangan-jangan mereka lalai dalam tugas.

Tapi berbeda dengan iblis, dia merasa iri hati “Dia tidak akan lebih baik daripadaku, aku lebih baik darinya. Aku akan selalu menjadi kesayangan Tuhan dan aku akan melakukan apa saja untuk tetap seperti itu.” Allah membiarkannya sehingga iri hatinya makin bertambah dan berubah menjadi kesombongan.

Allah menciptakan Adam dan menaruh nyawa di dalamnya. Kemudian Dia membawa Adam A.S. di hadapan para malaikat. Dia berkata kepada mereka, sujudlah kepada Adam. Semua malaikat patuh. Di dalam Al-Qur’an, ada huruf fa sebelum kata sajadu, jadi dibaca fa sajadu yang berarti mereka langsung bersujud tanpa ragu-ragu. Kemudian Allah berfirman, illa iblisi, kecuali iblis yang tidak bersujud.

Dan Allah S.W.T. berfirman kepada iblis “Kenapa kau tidak melakukan apa yang kuperintahkan? Kenapa kau tidak menyembah Adam ketika Aku menyuruhmu bersujud?” Ngomong-ngomong, sujud ini bukan berarti menyembah, sujud disini sekedar untuk menghormati Adam. Tapi iblis berkata “Tidak, aku lebih baik darinya! Kau menciptakanku dari api dan kau menciptakan dia dari tanah!” Inilah rasisme pertama yang pernah terjadi.

Dapatkah kau membayangkan hal ini? Kita mendengar kisah ini seakan-akan sebuah dongeng, bayangkan, menolak perintah Allah S.W.T. tepat di hadapan-Nya!

Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa iblis menolak secara sadar, jadi jangan berpikir bahwa iblis tidak bisa bersujud, dia bisa bersujud tapi secara sadar menolaknya. Sama seperti halnya manusia, kita juga punya pilihan, dan jika kita menolak, hal itu dikarenakan kita memilihnya.

Dia menolak karena keangkuhannya yang membuatnya menjadi kafir dan menyembunyikan kebenaran. Secara harfiah, kata kafir berarti menyembunyikan kebenaran dan menutup-nutupinya. Jadi dia menolak kebenaran meskipun dia mengetahui kebenaran tersebut.

Allah berfirman “Wahai iblis, apa yang membuatmu tidak mau bersujud kepada makhluk yang telah Aku ciptakan sendiri?” Dan apa jawaban iblis? “Aku lebih baik darinya karena Kau membuatku dari api! Kau membuatnya dari tanah! Derajatku lebih tinggi.” Allah kemudian berfirman padanya “Baiklah, apakah kau yakin dengan keputusanmu?” Dia berkata “Aku yakin.” Allah menanyakannya lagi dan dia tetap mengulang jawaban yang sama. Kemudian Allah akhirnya berfirman “Aku yang telah menciptakannya dan Akulah yang memerintahkanmu, kau telah melanggar perintah-Ku dengan sombong di hadapan-Ku.” Kau dikutuk, kau setan adalah makhluk yang terkutuk.” 
Hal yang menarik terjadi. Setan mengangkat kedua tangannya dan dia memohon kepada Allah S.W.T. Apa arti permohonan kepada Allah dalam bahasa Arab? Kita menyebutnya do’a. Dia berdo’a kepada Allah S.W.T. dan berkata “Berikanlah aku penangguhan waktu hingga hari kiamat.” Dan Allah S.W.T. berfirman “Kau mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Sebagian dari kita kadang merasa telah melakukan banyak dosa, sehingga tidak mungkin Allah akan menjawab do’a kita. Tapi lihatlah setan. Dia dengan jelas tidak menuruti perintah Allah, dan langsung meminta kepada Allah S.W.T. dan Allah mengabulkan do’anya. Allah berfirman “Tidak ada siapapun yang jauh dari Allah S.W.T. untuk meminta apapun." Jika setan dapat melakukannya, maka kalian juga dapat melakukannya, dan Allah akan mengabulkan do’a kalian.

Kemudian iblis setelah mendapatkan apa yang dia mau, dia menantang Allah S.W.T. “Demi kuasa dan demi kekuatan-Mu, aku akan membuat mereka (manusia) tersesat.” Allahuakbar! Ini sama saja seperti mengatakan “Aku percaya pada-Mu. Kau lebih kuat daripadaku dan kau Maha Kuasa, aku tahu itu, tapi apa yang telah Kau lakukan akan kuhancurkan.” Allah kemudian berfirman padanya “Apakah kau ingin menyesatkan mereka? Itukah tantangannya? Baiklah jika kau ingin menyesatkan mereka.” Iblis berkata “Aku akan membuat semua keturunan Adam tersesat.” Allah berfirman “Silahkan, naikilah mereka jika kau dapat melakukannya." Jadi layaknya seorang joki piawai yang dapat mengendalikan kudanya. Allah berfirman “Jadilah joki yang baik dan naikilah siapapun yang ingin menjadi kudamu, dan cobalah sesatkan mereka dengan suaramu. Dan cobalah untuk menipu mereka dengan materialisme."

Dengan kata lain, gunakan harta mereka untuk menyesatkan mereka, dan berikan mereka janji palsu. Allah berfirman ada tipu daya di balik kata-kata setan. Allah kemudian berfirman “Tapi kau tidak akan mempunyai kekuatan atas hamba-hamba-Ku yang sejati.” Kemudian iblis menjawab “Baiklah, aku akan membuat mereka semua tersesat kecuali hamba-hamba-Mu yang taat.”

Saudara dan saudariku, itulah satu-satunya manusia dimana iblis tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhinya, seseorang yang hatinya benar-benar ikhlas hanya untuk Allah S.W.T.
 
lihat videonya
 
 

Read more »

Iblis: Makhluk yang Terjatuh dari Langit Ketujuh


Allah S.W.T. telah menciptakan bangsa jin ribuan tahun sebelum penciptaan manusia. Bangsa jin bersifat ganas karena mereka terbuat dari api, mereka tidak seperti manusia yang terbuat dari tanah (bumi), sehingga sifat alami kita adalah rendah diri.

Dan bangsa jin dapat terbang, jin juga dapat hidup di dalam air. Jin tidak mempunyai batasan seperti manusia.
 
Sebenarnya iblis adalah salah satu jin. Dan Allah telah menciptakan banyak jin pada saat belum ada manusia di bumi. Sebenarnya Allah telah mengirimkan banyak nabi dari bangsa jin itu sendiri. Dan para nabi dari bangsa jin ini berdakwah agar mereka berlaku baik dan menyembah Allah, tapi bukannya mendengarkan, mereka malah membunuh para nabi ini. Mereka saling bertarung. Masalah kecil menyebabkan mereka berkelahi dan saling membunuh.

Dan di antara mereka ada yang paling taat dan patuh kepada Allah, yang selalu mendengarkan para nabi yang ada di bumi. Dialah iblis, pada saat itu iblis adalah jin yang baik.

Bangsa jin bisa terbang ke jagat raya. Dan pada masa itu para jin dapat pergi ke pintu gerbang yang terletak di antara akhir jagat raya dan permulaan langit kedua. Pada dasarnya kita berada di bumi ini, akhir dari jagat raya kita berada dalam satu langit. Dan Allah telah menciptakannya demikian, seperti lapisan bawang bombay, lapisan di atas lapisan. Allah telah menciptakan tujuh langit yang luas. 

Dan iblis mulai menyembah Allah sehingga Allah meninggikan derajatnya. Jadi dia telah melampaui para jin di bumi sehingga dia bisa terbang di atas langit pertama dan melintasi langit kedua, kemudian dia terus menyembah Allah. Dan dia menyembah Allah dengan para malaikat, tapi sebenarnya dia sedang mengejar sesuatu. Dia tidak melakukannya secara gratis, dia menginginkan sesuatu sebagai balasannya. Iblis ingin berkuasa, dia ingin menguasai para jin di bumi. 

Allah tahu kenapa dia terus beribadah, jadi Allah berfirman “Lakukanlah. Seberapa jauh kau dapat melakukannya? Kau seharusnya beribadah untuk menjadi rendah hati.” Apa tujuan kita beribadah? Untuk menjadi rendah hati, siapapun yang rendah hati kepada Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya. Siapapun yang sombong, maka Allah akan merendahkan derajatnya. Inilah hukum Allah. Jadi jika kau ingin mempunyai derajat yang tinggi di kerajaan Allah, maka kau harus mengikuti hukum Allah. 

Dan iblis terus beribadah sehingga dia dapat pergi ke langit ketiga, keempat, kelima, keenam, hingga akhirnya dia sampai ke langit ketujuh, kemudian dia menjadi seperti mukarabin, layaknya malaikat yang paling dekat dengan Allah. Kemudian dia mengajukan diri kepada Allah, “Ya Allah, kirimlah aku dengan sekumpulan malaikat untuk bertarung dan membunuh semua jin yang pemberontak di bumi.” Allah mengabulkan permohonannya dan mengirimnya dengan bala tentara malaikat. Iblis adalah pemimpin dari sekumpulan tentara ini. Mereka ke bumi dan membunuh semua jin pemberontak. Mereka membiarkan beberapa jin yang tidak terlalu pemberontak.

Dan sekembalinya dari menang perang, iblis berpikir “Insya Allah, waktuku akan tiba. Setelah semua ibadahku, akulah yang pantas mendapatkannya.” Dia berpikir bahwa Allah akan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi, yang mewakili hukum Allah di bumi. Dan itulah ketika Allah S.W.T. memberikan ujian pada semuanya. 

Ketika Tuhan berkata kepada para malaikat “Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi”, para malaikat yang dekat dengan Allah berkata “Ya Allah, apakah Kau akan menjadikan khalifah di bumi, sedangkan para jin telah membuat kerusakan di bumi. Ya Allah, kami sebagai malaikat memuji-Mu siang dan malam, kenapa Kau mau melakukan hal itu? Bukannya kami menolak, tapi kami tidak mengerti.” Kemudian Allah berfirman “Aku tahu sesuatu yang tidak kau ketahui.”

Kemudian Allah S.W.T. memberikan perintah kepada semua malaikat untuk menghidupkan Adam A.S., dan mereka semua bersujud kepada Adam A.S., kecuali iblis. Iblis tidak mau bersujud dan dia berpikir “Yang benar saja. Makhluk ini? Setelah sekian lama aku beribadah? Ck... ck... ck... Di bumi aku beribadah sehingga bisa ke langit pertama, langit kedua, langit ketiga, hingga langit ketujuh. Dan setelah segala ibadahku, inikah balasannya? Apakah aku tidak akan mendapatkan apa yang kuinginkan? Aku tak akan bersujud kepadanya.” Semuanya bersujud, kecuali iblis, dialah satu-satunya yang berdiri. Dia bukan hanya tidak mau bersujud, namun dia juga berkata “Aku lebih baik darinya dan aku lebih pantas. Aku punya hak untuk tidak bersujud kepadanya.” Setelah berkata seperti itu, maka iblis dikutuk dan terjatuh dari tempat tertinggi hingga ke tempat terendah.

lihat videonya
 


Read more »

Lima Maksiat Ini Disegerakan Balasannya Di Akhir Zaman


MENDEKATI akhir zaman, semua jenis kemaksiatan sudah dilakukan oleh semua umat manusia. Namun, ada sebuah hadist yang menyatakan bahwa ada beberapa jenis maksiat akan disegerakan balasan dari maksiat itu. Apa saja?
Dari Ibnu Umar Ra. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi kami (pada suatu hari) kemudian beliau bersabda,’ “Wahai kaum Muhajirin, lima perkara kalau kamu telah diuji dengannya (kalau kamu telah mengerjakannya), maka tidak ada kebaikan lagi bagi kamu. Dan aku berlindung dengan Allah SUBHANAHU wa Ta’ala, semoga kamu tidak menemui zaman itu. Perkara-perkara itu ialah:
1. Tidak tampak perzinaan pada suatu kaum sehingga mereka berani berterus terang melakukannya, melainkan akan berjangkit di kalangan mereka wabah penyakit menular (Tha’un) dengan cepat, dan mereka akan ditimpa penyakit-penyakit yang belum pemah menimpa umat-umat yang telah lalu
2. Dan tiada mereka mengurangkan sukatan/ukuran dan timbangan, kecuali mereka akan diuji dengan kemarau panjang dan kesulitan mencari rezeki dan kezaliman dari kalangan pemimpin mereka
3. Dan tidak menahan mereka akan zakat harta benda kecuali ditahan untuk mereka air hujan dari langit. Jikalau tidak ada binatang (yang juga hidup di atas permukaan bumi ini) tentunya mereka tidak akan diberi hujan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
4. Dan tiada mereka menyalahi akan janji Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menurunkan ke atas mereka musuh yang akan merampas sebagian dari apa yang ada di tangan mereka
5. Dan apabila pemimpin-pemimpin mereka tidak melaksanakan hukum Allah yang terkandung da lam Al-Qur’an dan tidak mau menjadikannya sebagai pilihan, maka (di waktu itu) Allah akan menjadikan bencana di kalangan mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah)
Keterangan Hadits di atas menerangkan bahwa :
1. Penyakit Tha’un (menular seperti kolera dan Aids) adalah disebabkan banyaknya terjadi perzinaan
2. Kesulitan mencari rezeki dan kezaliman pimpinan adalah disebabkan dari rakyat yang mengurangkan sukatan, ukuran dan timbangan
3. Kemarau panjang disebabkan tidak mengeluarkan zakat
4. Kekuasaan musuh mengambil sebagian dari apa yang dimiliki kaum Muslimin (seperti hilangnya Tanah Palestina dari tangan kaum Muslimin) disebabkan mereka mengkhianati janji -janjinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Perang saudara yang berlaku di kalangan kaum Muslimin disebabkan mereka mengabaikan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai undang- undang di dalam kehidupan.
 
 
 
[islampos

Read more »

Dr Abdurrahman Yusuf Jamal : Sejarah Mencatat Pembebas Masjidil Aqsha adalah Para Penghapal Al Quran

yusuf jamal

Syekh Dr. Abdurrahman Yusuf Jamal, Direktur Darul Quran wa Sunnah Gaza, Palestina menyatakan sambutannya atas  wakaf Mushaf Masjid Al Aqsha – KISPA: Kepada Muslim Indonesia bahkan muslim di dunia.
Kami berdoa semoga program wakaf yang digulirkan KISPA bisa menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir sampai hari kiamat kelak, sabda Nabi Muhammad saw: “Apabila anak Adam meninggal maka terputus segala amalannya kecuali 3 hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang selalu mendoakannya”.
Dan sebaik-baik amal yang ditinggalkan seorang muslim setelah wafatnya adalah Mushaf Al Quran yang dibaca serta dihafal oleh muslimin.
“Karena al Quran ini diberi nama mushaf masjid al Aqsha sesungguhnya ini merupakan kabar gembira akan dekatnya pembebasan Palestina dan juga masjid al Aqsha dari tangan zionis Yahudi. Sesungguhnya tentara penakluk adalah (mereka) penghafal al quran yang telah dibesarkan dengannya beserta pemahaman yang dalam akan Al quran.
Termasuk mereka yang menyebarkannya, maka jangan ragu untuk bergabung ke dalam kafilah ini agar Allah memberikan kemuliaan kepada kalian sebagai penebar kebaikan dan pembebas masjid al Aqsha. Kami berharap semoga Allah menuliskan (mentakdirkan) kita untuk bersama melakukan shalat berjamaah di sana”. (Fn)
Bagi yang Berkeinginann untuk beramal saleh Wakaf Masjidil Aqsha, silahkan klik link ini :



Sumber : Eramuslim

Read more »

Godaan Wanita, Panah Iblis Yang Menyesatkan

wanita karir 


Oleh Hartono Ahmad Jaiz
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
{ سِتْرُ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إذَا دَخَلَ الْكَنِيفَ أَنْ يَقُولَ : بِسْمِ اللَّهِ }( ابن ماجه )
Dinding penutup antara mata jin dan aurat manusia ketika seseorang masuk jamban adalah kalau ia mengucapkan Bismillaah. (HR Ibnu Majah dalam Kitab Thoharoh / 242)


Iblis dan bala tentaranya adalah sosok-sosok yang jiwanya kotor terus-menerus. Mereka selalu mengintip aurat dan kejelekan. Iblis telah mencopot pakaian Adam ’alaihis salam dan isterinya sedangkan keduanya itu di surga. Lalu di dunia ini Iblis, wadya balanya, dan partainya membelejeti pakaian taqwa dari jiwa manusia, dan mencopoti pakaian penutup aurat dari badan. Sehingga keadaan telanjang menjadi pemandangan nyata yang dianggap biasa, sedang menampakkan aurat sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan manusia tanpa ada halangannya.
Tetapi kalau memang kita tetap teguh mengikuti syari’at Islam, maka tidak akan terjadi yang demikian itu. Iblis tak mampu, sampai di tempat-tempat yang kita harus buka aurat pun, iblis tak mampu melihatnya, (karena ada do’a seperti tersebut di atas). Maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dzikir dan keutamaan berserah diri kepada-Nya itu sebagai pencegah bagi mata barisan iblis dan partainya. ( Lihat Hasan Ahmad Qothomisy, Al-Muwajahah As-Shiro’ ma’as Syaithon wa Hizbihi, Daru Thibah Ar-Riyadh 1415H/ 1995, cet I, hal 147)
Wanita
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ
Sesungguhnya wanita itu menghadap ke muka dalam bentuk syetan, dan ke belakang dalam bentuk syetan (pula). (HR Muslim Juz 10 Kitab Nikah, hal 177).
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى امْرَأَةً فَأَتَى امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ وَهِيَ تَمْعَسُ مَنِيئَةً لَهَا فَقَضَى حَاجَتَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا حَرْبُ بْنُ أَبِي الْعَالِيَةِ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى امْرَأَةً فَذَكَرَ بِمِثْلِهِ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فَأَتَى امْرَأَتَهُ زَيْنَبَ وَهِيَ تَمْعَسُ مَنِيئَةً وَلَمْ يَذْكُرْ تُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ. (مسلم)
Riwayat dari Jabir bahwa Rasulullah saw melihat seorang perempuan maka beliau datang ke isterinya, Zainab yang sedang menggosok kulit (binatang) miliknya yang mau disamak, lalu beliau menunaikan hajatnya (berhubungan dengan isteri itu), kemudian beliau keluar ke sahabat-sahabatnya, lalu bersabda: Sesungguhnya wanita itu menghadap ke muka dalam bentuk syetan, dan (menghadap) ke belakang dalam bentuk syetan (pula). Maka apabila salah satu di antara kalian melihat seorang perempuan, hendaklah ia datang ke isterinya, karena hal itu membalikkan apa yang ada pada dirinya (yakni gejolak syahwat). Dalam riwayat lain, bahwa Nabi saw melihat seorang perempuan, lalu periwayat menyebutkan seperti tadi, hanya saja dia berkata, maka beliau datang ke isterinya, Zainab, dan dia sedang menggosok kulit yang mau disamak, dan periwayat tak menyebut menghadap ke belakang dalam bentuk syetan. (HR Muslim)
Mujahid rahimahullah berkata: Ketika perempuan menghadap ke depan (datang), maka syetan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya untuk orang yang melihatnya, dan ketika perempuan itu menghadap ke belakang (pergi), syetan duduk di atas bagian belakangnya lalu ia memperindahnya untuk orang yang melihatnya.(Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkaamil Quran, juz 12/ 227)
تفسير القرطبي ج: 12 ص: 227
وقال مجاهد إذا أقبلت المرأة جلس الشيطان على رأسها فزينها لمن ينظر فإذا أدبرت جلس على عجزها فزينها لمن ينظر وعن خالد بن أبي عمران قال لاتتبعن النظرة النظرة فربما نظر العبد نظرة نغل منها قلبه كما ينغل الأديم فلا ينتفع به فأمر الله سبحانه وتعالى المؤمنين والمؤمنات بغض الأبصار عما لايحل فلا يحل للرجل أن ينظر إلى المرأة ولا المرأة إلى الرجل فإن علاقتها به كعلاقته بها وقصدها منه كقدصده منها وفي صحيح مسلم عن أبي هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إن الله كتب على ابن آدم حظه من الزنى أدرك ذلك لامحالة فالعينان تزنيان وزناهما النظر
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan:
{ إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ , وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ , فَاتَّقُوا الدُّنْيَا , وَاتَّقُوا النِّسَاءَ , فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ }
Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sekalian khalifah di dunia, lalu Allah mengawasi bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu tentang dunia dan jagalah dirimu tentang wanita. Maka sesungguhnya bencana/fitnah Bani Israil adalah dalam hal wanita. (HR Muslim Juz 17 Kitab Riqoq hal 55).
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Kitab Shahihain:
وَفِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : { مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ }
Aku tidak meninggalkan fitnah/bencana yang lebih berbahaya atas kaum lelaki (selain bahaya fitnah) dari perempuan. (Al-Fath juz 9 , Hadits 5096, dan Muslim juz 18 hal 54)
Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah berkata, Jika syetan putus asa mengenai sesuatu maka ia kemudian pasti mendatangi sesuatu itu dari arah perempuan. Sa’id pun berkata lagi, Tidak ada sesuatu yang lebih aku takuti di sisiku kecuali perempuan. (Siyaru ‘a’laamin Nubalaa’ Juz 4 / 237)
Kalau syetan putus asa dalam hal tertentu, maka dia akan melancarkan godaan itu dari arah perempuan. Apa yang dikatakan Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah tersebut dalam kenyataan kini tampak nyata. Sudah menjadi rahasia umum, ada proyek-proyek yang dilancarkan pengurusannya pakai umpan wanita. Itulah praktek syetan. Maka Sa’id yang di zaman sahabat tidak ada kebiasaan model syetan seperti sekarang pun, dia paling takut terhadap wanita.
Dan hadits tentang wanita kadang panjang, itu tidak lain karena wanita itu adalah pengikut syetan terkutuk yang paling banyak. Wanita pengikut syetan itu adalah tali-tali dan perantara untuk para pengikut syetan. Bagaimana tidak, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan bahwa wanita itu penghuni neraka yang paling banyak, dan mereka tidak masuk neraka kecuali karena mengikuti iblis dan tentara-tentaranya. Dan tidaklah manusia mengikuti iblis kecuali karena iblis telah menguasai mereka. Dan iblis tidak menguasai kecuali dengan banyaknya maksiat dan dosa. Sedang kekuasaan iblis dan partainya itu dengan cara menganggap indah dan bagus dosa-dosa dan maksiat.
Dalam Hadits disebutkan:
إنَّمَا الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ ,
Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar, diincar oleh syetan. (Hadits Shahih Sunan Tirmidzi no 936, dan Thabrani di Al-Kabier juz 3/ 64, dan lihat Al-Irwaa’ no 273)
Perempuan sebagai salah satu sarana iblis untuk merusak
Iblis menyodorkan fitnah pada wanita guna menyesatkan dan merusak. Al-Qur’an telah mengisahkan contoh-contoh adanya bencana-bencana/fitnah lewat wanita. Di antara kisah-kisahnya adalah:

1. Godaan Syetan untuk Kaum Tsamud lewat wanita
Ibnu Jarir dan lain-lain dari ulama salaf (generasi Sahabat, Tabi’ien, dan Tabi’ut Tabi’ien) menyebutkan bahwa dua wanita dari kaum Tsamud, salah satunya Shoduq putri Al-Mahya bin Zuhair bin Al-Mukhtar, dia adalah bangsawan dan kaya. Sedang ia di bawah suami yang telah masuk Islam, lalu wanita ini menceraikan suaminya itu. Lalu wanita ini mengundang anak pamannya yang disebut Mashro’ bin Mahraj bin Al-Mahya, dan wanita ini menyodorkan dirinya pada lelaki anak pamannya itu bila ia berani membunuh onta (Nabi Shalih ’alaihis salam).
Wanita lainnya adalah `Unaizah binti Ghanim bin Majlaz dijuluki Ummu ‘Utsman. Dia ini tua dan kafir, punya anak 4 wanita dari suaminya, Dzu’ab bin Amru, salah satu kepala kaum. Lalu si perempuan tua ini menyodorkan ke-4 putrinya kepada Qadar ibn Salif bila ia berani membunuh onta, maka ia akan kebagian putrinya mana saja yang ia ingini. Lalu dua pemuda (Mashro’ dan Qadar) bersegera untuk membunuh onta itu, dan berusaha mencari teman di dalam kaumnya. Maka 7 orang lainnya merespon ajakannya itu, jadi jumlahnya 9 orang. Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wata’ala:
وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ(48)
Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (QS. An-Naml[27] :48)
Dan mereka berusaha pada seluruh kabilah itu dan mempropagandakan untuk membunuh onta, lalu mereka menyambutnya dan sepakat untuk membunuh onta itu. Lalu mereka berangkat mengintai onta. Ketika onta itu muncul dari kawanan yang mendatangi air, lalu Mashro’ bersembunyi untuk menyergapnya, lantas melemparkan panah padanya dan menancaplah di tulang kaki onta. Dan datanglah wanita-wanita membujuk kabilah itu untuk membunuh onta, sedang wanita-wanita itu membuka wajah-wajahnya (dari kerudungnya) untuk menyemangati kabilahnya. Lalu Qadar bin Salif mendahului mereka mengeraskan (hantaman) pedangnya atas onta itu maka putuslah urat di atas tumitnya, lalu jatuh tersungkurlah onta itu ke bumi.(Tafsir At-Thabari juz 8 / 227-228, Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir juz 1/ 127, Al-Kamil fit Taariekh Ibnul Atsier juz 1/ 51-52).
تفسير الطبري ج: 8 ص: 227
وكانت امرأة من ثمود يقال لها عنيزة بنت غنم بن مجلز تكنى بأم غنم وهي من بني عبيد بن المهل أخي دميل بن المهل وكانت امرأة ذؤاب بن عمرو وكانت عجوزا مسنة وكانت ذات بنات حسان وكانت ذات مال من إبل وبقر وغنم وامرأة أخرى يقال لها صدوف بنت المحيا بن زهير بن المحيا سيد بني عبيد وصاحب أوثانهم في الزمن الأول وكان الوادي يقال له وادي المحيا وهو جد المحيا الأصغر أبي صدوف وكانت صدوف من أحسن الناس وكانت غنية ذات مال من إبل وغنم وبقر وكانتا من أشد امرأتين في ثمود عداوة لصالح وأعظمهم به كفرا وكانتا تحبان أن تعقر الناقة مع كفرهما به لما أضرت به من مواشيهما وكانت صدوف ثم ابن خال لها يقال له صنتم بن هراوة بن سعد بن الغطريف من بني هليل الراوي فحسن إسلامه وكانت صدوف قد فوضت إليه مالها فأنفقه على من أسلم معه من أصحاب صالح حتى رق المال فاطلعت على ذلك من إسلامه صدوف فعاتبته على ذلك فأظهر لها دينه ودعاها إلى الله وإلى الإسلام فأبت عليه وسبت ولده فأخذت بنيه وبناته منه فغيبتهم في بني الذي هي منه وكان صنتم زوجها من بني هليل وكان ابن خالها فقال لها ردي علي ولدي فقالت حتى أنافرك إلى بني صنعان بن عبيد أو إلى بني جندع بن عبيد فقال لها صنتم بل أنا أقول إلى بني مرداس بن عبيد وذلك أن بني مرداس بن عبيد كانوا قد سارعوا في الإسلام وأبطأ عنه الآخرون فقالت لا أنافرك إلا إلى من دعوتك إليه فقال بنو مرداس والله لتعطينه ولده طائعة أو كارهة فلما رأت ذلك أعطته إياهم ثم إن صدوف وعنيزة تحيلا في عقر الناقة للشقاء الذي نزل فدعت صدوف رجلا من ثمود يقال له الحباب لعقره الناقة وعرضت عليه نفسها بذلك إن هو فعل فأبى عليها فدعت ابن عم لها يقال
تفسير الطبري ج: 8 ص: 228
مصدع بن مهرج بن المحيا وجعلت له نفسها على أن يعقر الناقة وكانت من أحسن الناس وكانت غنية كثيرة المال فأجابها إلى ذلك ودعت عنيزة بنت غنم قدار بن سالف بن جندع رجلا من أهل قرح وكان قدار رجلا أحمر أزرق قصيرا يزعمون أنه كان لزنية من رجل يقال له صهياد ولم يكن لأبيه سالف الذي يدعى إليه ولكنه قد ولد على فراش سالف وكان يدعى له وينسب إليه فقالت أعطيك أي بناتي شئت على أن تعقر الناقة وكانت عنيزة شريفة من نساء ثمود وكان زوجها ذؤاب بن عمرو من أشراف رجال ثمود وكان قدار عزيزا منيعا في قومه فانطلق قدار بن سالف ومصدع بن مهرج فاستنفرا غواة من ثمود فاتبعهما سبعة نفر فكانوا تسعة نفر أحد النفر الذين اتبعوهما رجل يقال له هويل بن ميلغ خال قدار بن سالف أخو أمه لأبيها وأمها وكان عزيزا من أهل حجر ودعير بن غنم بن داعر وهو من بني حلاوة بن المهل ودأب بن مهرج أخو مصدع بن مهرج وخمسة لم تحفظ لنا أسماؤهم فرصدوا الناقة حين صدرت عن الماء وقد كمن لها قدار في أصل صخرة على طريقها وكمن لها مصدع في أصل أخرى فمرت على مصدع فرماها بسهم فانتظم به عضلة ساقها وخرجت أم غنم عنيزة وأمرت ابنتها وكانت من أحسن الناس وجها فأسفرت عنه لقدار وأرته إياه ثم ذمرته فشد على الناقة بالسيف فكشف عرقوبها فخرت ورغت رغاة واحدة تحذر سقبها ثم طعن في لبتها فنحرها
Wanita yang menyemangati Mashro’ adalah isteri pemimpin, sedang yang menyemangati Qadar adalah isteri pejabat juga. Adapun Qadar bin Salif sendiri termasuk pemimpin, jadi mereka itu orang elit semua.
Perempuan pertama telah menyodorkan dirinya kepada Mashro’, sedang perempuan kedua menyodorkan puteri-puterinya kepada Qadar. Dan perempuan-perempuan kabilah itu telah keluar dengan membujuk orang-orang agar membunuh onta dengan cara membuka wajah-wajah mereka. Sungguh telah terjadi fitnah wanita itu sebagai jalan masuknya Iblis kepada para pembesar, dan Iblis bersandar bersama mereka untuk membunuh onta yang menjadi ayat Allah subhanahu wata’ala yang disampaikan kepada nabi-Nya, Shalih ’alaihis salam.
Demikian ini tampak bagi kita, para pembesar (kaum elit) bersepakat semuanya, laki-laki maupun perempuan.

2. Kepala Nabi Yahya ’alaihis salam Dipenggal untuk Pelacur
Hal itu dikatakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu oleh Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha di suatu tempat di Masjidil Haram. Demikian itu ketika Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu disalib, lalu Ibnu Umar menoleh ke Asma’ seraya berkata: Jasad (anakmu) ini sebenarnya bukan apa-apa, sedang yang di sisi Allah adalah arwahnya. Maka bertaqwalah kamu kepada Allah subhanahu wata’ala dan bersabarlah.
Lalu Asma’ menjawab, Apa yang menghalangiku (untuk bersabar), sedangkan kepala Yahya bin Zakaria ’alaihis salam (saja) sungguh telah dihadiahkan kepada seorang pelacur dari Bani Israel. (Siyaru A’laamin Nubalaa’ juz 2/ 294, Al-Fashlu fil Milal 4/ 57, Al-Muhalla juz 2/22, ‘Audul Hijaab juz 2/195, dan orang-orangnya terpercaya, khabar itu tetap untuk kisah., Al-Muwajahah hal 80).
الفصل في الملل [ جزء 4 - صفحة 57 ]
عن سفيان بن عيينه عن منصور بن صفية عن أمه صفية بنت شيبة قالت دخل ابن عمر المسجد فأبصر ابن الزبير مرطوحا قبل أن يصلب فقيل له هذه أسماء بنت أبي بكر الصديق فمال إليها فعزاها وقال إن هذه الجثث ليست بشيء وإن الأرواح عند الله فقالت أسماء وما يمنعني وقد أهدي رأس يحيى بن زكريا إلى بغي من بغايا بني إسرائيل
Kenyataan dari kisah ini adalah Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan dibunuhnya Nabi Yahya ’alaihis salam itu karena (permintaan) pelacur. Di sini kita lihat puncak kekuasaan iblis atas orang-orang elit dengan dorongan syahwat seks di mana sampai membunuh seorang nabi Allah yaitu Yahya bin Zakaria ’alaihimas salam. Walaupun berbeda-beda kitab-kitab tarikh dalam rincian peristiwa itu, hanya saja intinya adalah; Seorang raja masa itu di Damskus ada yang menginginkan kawin dengan sebagian mahramnya atau wanita yang tidak halal baginya untuk dikawini. Lalu Nabi Yahya ’alaihis salam mencegahnya, sedangkan wanita itu menginginkan raja itu, maka ada suatu (ganjalan) yang menetap di dalam jiwa wanita dan raja itu terhadap Nabi Yahya ’alaihis salam. Maka ketika antara wanita dan raja itu terjadi percintaan, wanita itu minta agar diberi darah Yahya, lalu raja akan memberikan padanya. Maka raja mengutus orang untuk mendatangi Nabi Yahya ’alaihis salam dan membunuhnya, dan membawakan kepala Yahya kepada wanita itu! (Lihat Tarikh At-Thabari j 1/ 346-347, Al-kamil Ibnu Atsir j 1/ 171, Al-Bidayah wan Nihayah j 1/49)
تاريخ الطبري [ جزء 1 - صفحة 346 ]
إن ملك بني إسرائيل كان يكرم يحيى بن زكرياء ويدني مجلسه ويستشيره في أمره ولا يقطع أمرا دونه وإنه هوي أن يتزوج ابنة امرأة له فسأل يحيى عن ذلك فنهاه عن نكاحها وقال لست أرضاها لك فبلغ ذلك أمها فحقدت على يحيى حين نهاه أن يتزوج ابنتها فعمدت إلى الجارية حين جلس الملك على شرابه فألبستها ثيابا رقاقا حمرا وطيبتها وألبستها من الحلي وألبستها فوق ذلك كساء أسود فأرسلتها إلى الملك وأمرتها أن تسقيه وأن تعرض له فإن أرادها على نفسها أبت عليه حتى يعطيها ما سألته فإذا أعطاها ذلك سألته أن تؤتى برأس يحيى بن زكرياء في طست ففعلت فجعلت تسقيه وتعرض له فلما أخذ فيه الشراب أرادها على نفسها فقالت لا أفعل حتى تعطيني ما أسألك قال ما تسأليني قالت أسألك أن تبعث إلى يحيى بن زكرياء فأوتى برأسه في هذا الطست فقال ويحك سليني غير هذا قالت ما أريد أن أسألك إلا هذا قال فلما أبت عليه بعث إليه فأتي برأسه والرأس يتكلم حتى وضع بين يديه وهو يقول لا تحل لك فلما أصبح إذا دمه يغلي فأمر بتراب فألقي عليه فرقى الدم فوق التراب يغلي فألقي عليه التراب أيضا فارتفع الدم فوقه فلم يزل يلقى عليه التراب حتى بلغ سور المدينة وهو في ذلك يغلي وبلغ صيحائين فنادى في الناس وأراد أن يبعث إليهم جيشا ويؤمر عليهم رجلا فأتاه بختنصر فكلمه وقال إن الذي كنت أرسلت تلك المرة ضعيف فإني قد دخلت المدينة وسمعت كلام أهلها فابعثني فبعثه فسار بختنصر حتى إذا بلغوا ذلك المكان تحصنوا منه في مدائنهم فلم يطقهم فلم ااشتد عليه المقام وجاع أصحابه أراد الرجوع فخرجت إليه عجوز من عجائز بني إسرائيل فقالت أين أمير الجند فأتي به إليها فقالت إنه
تاريخ الطبري [ جزء 1 - صفحة 347 ]
بلغني أنك تريد أن ترجع بجندك قبل أن تفتح هذه المدينة قال نعم قد طال مقامي وجاع أصحابي فلست أستطيع المقام فوق الذي كان مني فقالت أرأيتك إن فتحت لك المدينة أتعطيني ما أسألك فتقتل من أمرتك بقتله وتكف إذا أمرتك أن تكف قال لها نعم قالت إذا أصبحت فاقسم جندك أربعة أرباع ثم أقم على كل زاوية ربعا ثم ارفعوا بأيديكم إلى السماء فنادوا إنا نستفتحك يا الله بدم يحيى بن زكرياء فإنها سوف تتساقط ففعلوا فتساقطت المدينة ودخلوا من جوانبها فقالت له كف يدك اقتل على هذا الدم حتى يسكن فانطلقت به إلى دم يحيى وهو على تراب كثير فقتل عليه حتى سكن فقتل سبعين ألف رجل وامرأة فلما سكن الدم قالت له كف يدك فإن الله عز وجل إذا قتل نبي لم يرض حتى يقتل من قتله ومن رضي قتله
Demikianlah kondisi orang-orang terlaknat yang tidak menahan diri untuk tidak membunuh nabi-nabi Allah. Bagaimana mereka tidak dilaknat? Sedangkan Nabi-nabi Allah itu penyulut hidayah dan pemegang bendera kebenaran dan Tauhid, sedangkan iblis terlaknat itu pembawa bendera neraka dan panji-panji kekafiran serta syirik. (Dipetik dari Al-Muwajahah as-Shiro’ ma’as Syaithon wa Hizbihi oleh Hasan Ahmad Qothomisy, Darut Thibah Ar-Riyadh cet I, 1415H / 1995 M)

3. Isteri Al-Aziz serta Yusuf `alaihis salam
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ(23)وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ(24)وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلَّا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(25)
“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggali di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: `Marilah ke sini, Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung.”
“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.”
“Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata, Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (QS Yusuf [12] : 23-25)
Firman Allah subhanahu wata’ala lagi:
فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ(28)يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ(29)
“Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu (wanita) adalah besar.”
“(Hai) Yusuf: Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai isteri) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (QS Yusuf [12] : 28-29)
Sesungguhnya kisah Yusuf ’alaihis salam adalah contoh terbesar dalam menjelaskan konsentrasi iblis atas kalangan penguasa, dan iblis menguasai mereka dari segi syahwat seks melalui wanita. Sampai anak lelaki yang dibeli pun kemudian dirayu untuk menzinai isteri tuannya. Allah menunjukkan bukti betapa iblis menggoda lewat wanita terhadap manusia pilihan, yaitu Yusuf as, yang secara keturunan adalah tertingi di kalangan para nabi. (Lihat hadits Nabi Muhammad saw dalam Shahih Al-Bukhari, kitab al-anbiya’)
Karena Nabi Yusuf as adalah nabi, bin nabi, bin nabi, bin nabi. Yaitu Nabi Yusuf as, bin Nabi Ya’qub as, bin Nabi Ishaq as, bin Nabi Ibrahim as. Secara keteguhan agama, Yusuf yang dipelihara tuannya di Mesir itu adalah calon nabi, yaitu orang yang dipercaya oleh Allah swt untuk membawa risalah kepada umatnya. Namun orang yang luhur derajatnya secara agama dan keturunan itupun diupayakan oleh Iblis untuk digarap, agar terjerumus ke perbuatan nista, perzinaan; hanya saja Allah swt tetap menyelamatkannya. Akibatnya Yusuf as dipenjarakan karena tak memenuhi hasrat isteri penguasa itu. Jadi, orang yang menyelamatkan diri dari perbuatan nista dan kotor, justru dipenjara.
Kisah ahsanal qoshosh, sebagus-bagusnya kisah itu difirmankan Allah swt dalam satu surat khusus di Al-Qur’an, surat Yusuf, tentu agar menjadi peringatan. Dengan membaca ayat-ayat tentang kisah itu tidak perlu keterangan tambahan. Tetapi di sini tampak bagi kita gambaran dari kalangan papan atas (at-thobaqotur rooqiyyah) di masa ribuan tahun lalu, seakan-akan aksi jahat iblis lewat wanita itu adalah yang ada pada hari ini pula, dengan leluasa dalam mengarahkan penyelewengan seks, dan kecenderungan untuk menutup-nutupinya dari masyarakat. Dan inilah pentingnya semua kisah itu. (Dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Sumber-Sumber Penghancur Akhlaq Islam, Pustaka Nahi Munkar, Surabaya- Jakarta, 2010)


eramuslim.com

Read more »

Jumat, 26 Juli 2013

Gunung pelindung keutuhan NKRI di Nabire


NABIRE - "Di sini, di sinilah, di kaki rangkaian Perbukitan Legari, di Kesatrian Walet Hitam inilah, kalian dilahirkan, dibesarkan, ditempa, dilatih, dibentuk sebagai seorang prajurit, seorang prajurit infanteri yang sejati, prajurit Batalyon Infanteri 753/Arga Vira Tama".
Penggalan puisi yang membangkitkan semangat dan gelora keprajuritan itu selalu dikumandangkan pada setiap upacara penerimaan dan pelepasan anggota Batalyon Infanteri 753/Arga Vira Tama di Nabire, Papua.

Puisi tersebut mengingatkan tugas seorang prajurit sebagai pelindung rakyat. Tugas prajurit untuk mempertahankan kesatuan bangsa dan mengawal Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945.
Dengan disaksikan heningnya cakrawala, diiringi gemericik air Sungai nabire dan sepoi-sepoi angin di perbukitan Nabire, prajurit Batalyon Infanteri 753/ Arga Vira Tama bersumpah untuk selalu bisa hidup bersama, bersatu dan berdampingan.


Arga Vira Tama, atau sering disingkat Arvita, adalah nama batalyon tersebut. Nama tersebut memiliki arti gunung, berani, utama sehingga dimaknai Yonif 753/AVT sebagai pasukan yang berasal dari rakyat, yang bersifat berani, jujur tidak mementingkan diri sendiri, penuh keyakinan dan kesadaran yang menjadi tujuan utama.

Kesatrian Walet Hitam, markas batalyon itu, berada di kaki rangkaian Perbukitan Legari yang seolah menjadi benteng alam.
Yonif 753/AVT yang dipimpin Komandan Batalyon Letkol (Inf) Agung Udayana itu memiliki kekuatan 1.000 personel yang dibagi menjadi tujuh kompi. Terdapat tiga kompi luar yang bertugas di luar Kabupaten Nabire, Papua.

Tugas sepanjang tahun

Perwira Pembinaan Mental Yonif 753/AVT Kapten (Inf) Phanton Panjaitan mengatakan, berbeda dengan batalyon lainnya, anggota batalyon tersebut bertugas sepanjang tahun.

"Kami bertugas sepanjang tahun termasuk dengan kompi luar yang bertugas di Biak dan Serui. Sebenarnya kami juga diminta bertugas di tempat lain, tapi jumlah personel kami terbatas," kata Panjaitan.

Yonif 753/Arvita berada di bawah Komando Resor Militer 173/Praja Vira Braja yang bermarkas di Biak.

Selain Yonif 753/Arvita, jajaran di bawah Korem 173/PVB adalah Kodim 1705/Paniai, Kodim 1708/Biak Numfor, Kodim 1709/Yapen Waropen, dan Denzipur-12. Dari seluruh jajaran itu, Yonif 753/Arvita merupakan jajaran yang memiliki pasukan tempur.

"Di masyarakat, tugas kami adalah mendukung kegiatan pengamanan yang dilakukan kodim dan polres. Untuk kelompok sipil bersenjata yang mengacau keamanan, di Nabire memang relatif lebih aman," tutur Panjaitan.

Tugas yang lebih banyak bersinggungan dengan masyarakat sipil membuat anggota Yonif 753/Arvita harus pandai-pandai menjaga diri. Sedikit bertindak di luar prosedur tetap saja, maka sebagai prajurit bisa dituding melanggar hak asasi manusia (HAM).

"Kadang kami memang serba salah. Mengambil tindakan bisa dituding melanggar HAM. Tapi kalau diam saja, juga pasti salah. Ibarat pepatah, maju kena mundur kena," katanya.

Padahal sebagai prajurit, kata Panjaitan, mereka juga belajar mengenai HAM. Masalahnya, penerapan HAM di Papua sangat berbeda dengan daerah atau negara lain. Di Irak misalnya, tentara tidak akan dianggap melanggar HAM selama berhadapan dengan milisi bersenjata api.

Di Papua, kelompok sipil bersenjata tak hanya bersenjata api, tetapi juga panah, tombak dan senjata tradisional lainnya. Definisi milisi yang hanya bersenjata api tentu tak bisa diterapkan sepenuhnya di Papua.

"Aparat TNI/Polri sering dituding melanggar HAM hanya karena bertindak keras dan tegas terhadap kelompok sipil bersenjata. Padahal keras dan tegas bukan berarti kasar," paparnya.

Tanpa bermaksud mengeluh, Panjaitan meminta kepada pihak-pihak yang kerap menuding aparat TNI/Polri melanggar HAM di Papua untuk membandingkan berapa orang anggota kelompok sipil bersenjata yang tewas oleh senjata aparat dengan anggota TNI/Polri yang meninggal karena panah beracun.

"Banyak juga anggota yang meninggal karena kena panah yang sudah dibubuhi racun," ujarnya.

Langkah preemtif-persuasif

Karena itu, dalam menghadapi masyarakat, termasuk kelompok sipil bersenjata, Panjaitan mengatakan aparat lebih mengedepankan langkah preemtif dan persuasif.

"Saya misalnya, saat menjadi komandan kompi satgas di Distrik Enarotali, Kabupaten Paniai melakukan pendekatan dengan pimpinan kelompok sipil bersenjata bernama Jhon Yogi," tuturnya.

Panjaitan menuturkan dia ketika itu menulis surat yang dititipkan melalui salah satu orang yang memiliki akses kepada Jhon Yogi. Dalam surat itu, Panjaitan mengatakan untuk apa tinggal di gunung dan selalu ketakutan.

"Saya sempat maki-maki dia di surat itu. Saya katakan dia bodoh, mengapa tidak turun dan tidak lagi ketakutan serta bisa bersama-sama membangun Papua," katanya.

Beberapa saat setelah surat itu dikirim, ternyata Jhon Yogi menghubungi Panjaitan. Dia memang mencantumkan nomor telepon yang bisa dihubungi. Awalnya, dia tidak sadar bahwa yang menelpon dia adalah Jhon Yogi, pemimpin kelompok sipil bersenjata yang ditakuti.

"Ternyata dia bilang, apa yang saya tulis itu sama seperti apa yang dia pikirkan dan rasakan. Dia mengatakan tidak bermaksud memberontak terhadap Indonesia karena dia menganggap Indonesia adalah orang tuanya. Masyarakat Papua bisa membaca karena Indonesia," paparnya.

Kemudian, Panjaitan bertanya kepada Jhon Yogi, apa lagi yang dia inginkan. Bukankah Papua sudah mendapatkan otonomi khusus dengan perimbangan dana yang berpihak kepada Papua. Undang-undang juga sudah mengharuskan putra daerah yang bisa memimpin putra daerah.

Kepada Panjaitan, Jhon Yogi mengatakan bahwa dia merasa tidak puas dengan orang-orang Papua yang saat ini memimpin daerah tersebut. Dia menyatakan ketidakpuasannya terhadap orang-orang yang saat ini memimpin Papua."Dia bahkan sempat menyebutkan nama-nama siapa saja orang-orang yang dia maksud. Ternyata, permasalahan yang selama ini membuat mereka tidak puas bukan pemerintah pusat, tetapi pemerintah daerah," katanya.

Karena itu, sesuai dengan instruksi Panglima Kodam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua kepada prajurit di Nabire saat safari Ramadhan beberapa waktu lalu, "leading sector" untuk menyelesaikan permasalahan di Papua adalah kepala daerah."Prajurit hanya pendukung yang bergerak sesuai dengan program-program kepala daerah. Kalau pemerintah daerah memiliki program yang jelas, Papua pasti maju dan otonomi khusus tidak akan sia-sia," tuturnya.

Dan yang lebih penting lagi, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan tetap terjaga. Tak akan ada lagi kelompok sipil bersenjata maupun organisasi politik yang menuntut pelepasan diri dari Indonesia.Bila NKRI tetap utuh, maka kita tetap akan dengan bangga menyanyikan lagu dari "Sabang Sampai Merauke"."Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia...".

(IRIB Indonesia/Antaranews)

Read more »

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *