Minggu, 26 Januari 2014

2015: TNI AD Diperkuat dengan Helikopter Apache


Heli serang Apache

TNI AD akan diperkuat dengan delapan helikopter serang AH-64 Apache yang akan didatangkan secara bertahap mulai tahun 2015, menurut Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman.

"Secara bertahap helikopter tersebut akan kita datangkan mulai 2015 hingga 2017. Helikopter canggih buatan Boeing ini akan dioperasikan oleh para Penerbang Angkatan Darat (Penerbad)," katanya di Samarinda, Kamis.

Ia mengatakan, TNI AD tengah menyiapkan sejumlah titik untuk menjadi pangkalan senjata berawak ini. Salah satunya adalah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kabupaten paling utara Provinsi Kaltim itu selain helikopter Apache, juga akan menjadi pangkalan heli tempur Agusta dan berbagai jenis pesawat lain.

Indonesia membeli varian terbaru dari helikopter seran tersebut, yaitu versi AH-64E. Sejak 2013, model ini oleh Amerika Serikat, negara pembuatnya, mulai dipakai untuk menggantikan AH-64D Longbow, yang di ASEAN hanya dimiliki oleh Singapura.

Dia mengatakan, AH-64E memiliki mesin T700-GE-701D yang hemat bahan bakar dan lebih efisien sehingga dapat terbang lebih jauh, lebih lama, dan bisa membawa persenjataan lebih banyak. Rotornya terbuat dari bahan komposit yang lebih ringan namun lebih kuat yang membuat jenis heli ini terbang lebih cepat ketimbang seri D.

Jenderal Budiman mengatakan, harga delapan heli lengkap dengan persenjataan dan pelatihan pilot serta kru darat adalah 600 juta dolar AS.

Selain Indonesia, katanya, Taiwan, India, dan Qatar juga sudah memesan AH-64E bersamaan dengan Korea Selatan dan Jepang. India bahkan bisa memaksa Boeing melakukan alih teknologi dengan membuat sebagian komponen untuk India di India.

Dia mengatakan, senjata utama Apache AH-64 adalah rudal AGM-114 Hellfire. Rudal ini dijuluki "tank-killer" atau penghancur tank, julukan yang didapatnya dari berbagai medan perang. Apache membawa 16 rudal Hellfire dibagi ke dalam 4 peluncur di sayapnya dengan jangkauan tembak hingga 12 km.

Senjata lapis kedua dari Apache adalah roket Hydra 70 mm yang dibawa dalam sepasang peluncur roket isi 19 roket. Untuk pertahanan udara, helikopter ini dilengkapi rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-92 Stinger. Heli ini juga bisa mengangkut rudal anti radiasi AGM-122 untuk menghancurkan instalasi radar musuh.

"Jadi kita tunggu saja," kata KSAD Jenderal Budiman.


Indonesia saat ini memang gencar memodernisasi alutsista guna memperkuat pertahanan. Selain Apache, TNI AD juga menanti pengiriman tank Leopard yang dianggap salah satu yang terbaik di dunia. Dari Perancis dan Inggris, Indonesia juga berencana mengimpor peralatan untuk sistem pertahanan udara.

Indonesia juga berencana membeli kapal selam kelas kilo dari Rusia. Kapal selam ini dilengkapi dengan rudal permukaan-ke-permukaan dengan jangkauan sekitar 400 km. Sebelumnya, KSAL Laksamana Marsetio mengatakan bahwa tim teknis TNI AL akan dikirimkan ke Rusia untuk mempelajari tawaran kapal selam dari negara itu.

Indonesia juga mengakuisisi tiga unit kapal selam dari Korea Selatan untuk menambah dua unit kapal selam yang dimiliki TNI AL saat ini. Pembelian kapal selam ini juga termasuk alih teknologi. Dua kapal selam akan di bangun di Korea Selatan dan satu kapal selam terakhir akan dibangun sendiri oleh Indonesia.

Marsetio menjelaskan bahwa Indonesia yang 2/3 luasnya adalah laut membutuhkan lebih banyak kapal selam untuk memperkuat TNI AL dan melindungi kedaulatan negara. Oleh karena itu, idealnya TNI AL membutuhkan minimal 12 kapal selam .

Sedangkan dari TNI AU, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mengatakan bahwa ada jugakemungkinan pembelian Sukhoi Su-35, yang notabene merupakan seri terbaru dari jet tempur Sukhoi Rusia. (ANTARA

0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *