Jumat, 31 Januari 2014

Barisan tank yang perkuat TNI

Barisan tank yang perkuat TNI



JAKARTA - Peralatan perang milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) mulai usang. Sejumlah prajurit terpaksa meregang nyawa akibat alat-alat mereka tidak berfungsi, atau tidak dapat digunakan.

Pasca-embargo yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat, Indonesia kembali memperkuat sistem pertahanannya. Mulai dari senjata yang dipakai, hingga membeli peralatan pendukung lainnya.

Pada 2013 lalu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui anggaran pertahanan yang diajukan pemerintah, yakni sebesar Rp 76,5 triliun atau sekitar USD 8,2 miliar. Angka itu kembali meningkat di tahun 2014 menjadi sebesar Rp 83,4 triliun.

Tidak ingin terbuang sia-sia, sejumlah peralatan modern pun dibeli. Tiga matra pertahanan juga diperkuat dengan pembelian tank, pesawat dan kapal.


Barisan tank yang perkuat TNI

1. Leopard 2A4 revolution

Kementerian Pertahanan berhasil mendatangkan sebuah tank baru buatan Jerman, atau dikenal dengan nama Tank Leopard. MBT atau Main Battle Tank ini merupakan varian 2A4 jenis Revolution atau disingkat Ri.

Leopard Revolution atau Ri merupakan varian terbaru sekaligus pengembangan dari Leopard 2A4. Tank ini diproduksi pabrik persenjataan berat Jerman, Rheinmetall.

Leopard Revolution pertama diperkenalkan pada tahun 2010, dan menurut analis militer tank ini juga sering disebut sebagai Leopard 2A4 Evolution. Leopard 2A4 sendiri adalah salah satu varian Leopard 2 yang paling banyak diproduksi dan dipakai di banyak negara dalam jumlah besar.

Meski berasal dari varian yang sama, namun kedua tank itu memiliki perbedaan. Terutama di bagian turret (kubah) meriam. Pada Leopard Leopard Revolution turret meriam memiliki sudut miring dan tajam, sementara 2A4 turretnya berbentuk kotak.

Kelebihan yang paling nyata terdapat pada lapisan pelindung yang terpasang pada tank ini. Karena sifatnya yang mudah dibongkar pasang, berbagai serangan musuh yang merusak lapisan tersebut bisa diganti dengan yang baru, atau sesuai dengan kebutuhan.

Lapisan pelindung Revolution menggunakan komposit Advanced Modular Armor Protection (AMAP). Lapisan ini terdiri atas materi nanokeramik serta titanium dan baja alloy.

Meski demikian, lapisan ini memiliki konsekuensinya yaitu bobot tank yang bertambah hingga menjadi lebih kurang 60 ton, dibandingkan varian 2A4 yang sekitar 57 ton.

Revolution menggunakan meriam yang sama dengan 2A4, yaitu meriam L44 smoothbore kaliber 120 mm sebagai senjata utama. Meriam ini bisa menggunakan semua varian peluru standar NATO, dan tank ini mampu membawa amunisi sebanyak 42 butir. 15 peluru sudah dalam kondisi siap tembak tersimpan di kubah meriam (otomatis reload), sementara sisanya tersimpan di bagian dalam bodi.

Untuk tambahan daya gempur dan pertahanan diri ringan, tank yang diawaki 4 orang ini juga dilengkapi senapan mesin berat kaliber 12,7 mm yang dioperasikan dengan remot kontrol sehingga awak tank tak perlu muncul keluar untuk mengoperasikannya. Sepucuk senapan mesin kaliber 7,62 juga terpasang sejajar dengan meriam.

Dari segi mesin, Revolution tetap menggunakan tipe mesin yang sama dengan 2A4 yaitu mesin diesel turbocharge MTU MB837 Ka501 yang berkekuatan 1.500 hp(tenaga kuda), yang membuatnya bisa mencapai kecepatan hingga 72 km per jam di medan yang rata.

Barisan tank yang perkuat TNI

2. Marder 1A3 IFV
Beda dengan Leopard, tank Marder merupakan kendaraan tempur ringan sejak 1970. Sama seperti APC (Kendaraan pengangkut personel), kendaraan ini juga berfungsi untuk mengangkut pasukan.

Meski demikian, IFV persenjataan kanon kaliber menengah. Kemampuan ini membuatnya efektif untuk menyerang target secara langsung. Bisa pula dijadikan bantuan tembakan guna menakut-nakuti lawan.

Marder boleh dibilang IFV nomer wahid di kelas NATO, ranpur ini sudah battle proven dalam? misi pertempuran di Afghanistan. Bila ditilik dari segi bobot, maka Marder 1A3 (35 ton) nampak setara dengan IFV andalan US Army, M2 Bradley (30,4 ton).

Barisan tank yang perkuat TNI
3. BMP-3F
Tak kalah dengan ranpur buatan Jerman, BPM-3F yang berasal dari Rusia ini memiliki kemampuan lebih. Antara lain komputer balistik yang telah di upgrade dengan sistem digital yang lebih akurat. Selain itu, lubang penembak untuk pasukan sudah disesuaikan dengan senapan serbu SS-1 produksi PT Pindad.

Ada juga penyempurnaan pada perlindungan terhadap perang nuklir biologi dan kimia. Selain itu sistem pemanas ruangan juga sudah disesuaikan dengan kondisi iklim Indonesia.

Namun untuk senjata penghancur, kendaraan lapis baja ini tidak jauh dari generasi sebelumnya. Meriam kanon kaliber 100mm dengan kecepatan tembak berkisar 250 meter per detik, dan meriam kanon kaliber 30 mm.

Selain itu, Amphibi BMP-3F seri 2 juga dilengkapi 3 pucuk mitraliur PKTM kaliber 7,62. Secara keseluruhan, Tank Amphibi ini berkapasitas 3 kru dan 7 personel pasukan bersenjata lengkap.




0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *