Kamis, 20 Februari 2014

Inilah 10 Daftar Kekejaman Korut versi PBB



Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan laporan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Utara (Korut) terhadap rakyatnya sendiri. Segera, laporan setebal 374 halaman itu menyentak dunia internasional.

Laporan yang dikeluarkan pada Selasa, 18 Februari 2014 tersebut memaparkan kontrol ketat yang dilakukan oleh Pemerintah Korut terhadap rakyatnya. Berikut ini lima dari 10 pelanggaran yang dianggap paling parah oleh penyelidik PBB, seperti dipaparkan oleh Telegraph, Rabu (19/2/2014).


1. Anak-anak dipaksa untuk mengikuti sesi "pengakuan dan kritikan" mingguan sebagai bagian indoktrinasi.

Berdasarkan pengakuan anak-anak di Korut, mereka diperkenalkan pada sesi "pengakuan dan kritikan" ini pada usia dini. Mereka dikumpulkan setiap minggu dan bergantian berdiri menggambarkan aktivitas pada pekan sebelumnya. Hal itu dimaksudkan bahwa mereka harus hidup sesuai dengan filosofi pemimpin Korut.

Anak-anak harus mengikuti filosofi tersebut dan harus mengidentifikasi anak lain yang tidak bisa mengikuti aturan yang ada untuk dikritik. Bila mereka tidak bisa mengidentifikasi, maka anak-anak tersebut tidak diizinkan untuk duduk.


2. 100 ribu anak dipaksa ikut serta dalam parade olaharga, untuk menghormati pemerintah.


Setiap siswa, khususnya mahasiswa, dipaksa untuk berlatih koreografi selama enam bulan, 10 jam per hari hanya untuk mengikuti parade yang berlangsung dalam waktu singkat. Dalam latihan -yang berlangsung di Stadion Kim Il-Sung dan saat itu dihadiri mantan pemimpin Korut, Kim Jong-Il- beberapa siswa dilaporkan pingsan, karena kelelahan.


Siswa yang pingsan banyak terjadi, apalagi saat itu cuaca tengah dalam kondisi panas dan latihan berlangsung di lapangan dengan lantai beton. Mereka berlatih hingga gerakan sempurna. Setiap yang melakukan kesalahan, harus tetap di tempat latihan hingga tengah malam sebagai hukuman.


Seorang siswa berusia 7 atau 8 tahun, dilaporkan tewas dalam latihan karena tidak dirawat dengan cepat akibat penyakit lambung akut yang dideritanya. Anak itu kemudian dianggap sebagai pahlawan karena dinilai telah memberikan nyawanya demi Kim Jong-Il.


3. Jasad tahanan dibakar dan abunya digunakan sebagai pupuk.


Berdasarkan keterangan yang diperoleh oleh penyelidik PBB dari seorang petani, praktek pembakaran jasad dan menggunakan abu jenazah sebagai pupuk, berlangsung di Penjara Kyohwaso Nomor 12. Menurut petani tersebut, hingga dirinya dibebaskan pada 2011 lalu, praktek tersebut masih berlangsung. Menurutnya sekira 800 tahanan tewas tiap tahunnya karena kurang gizi, penyakit menular, dan kecelakaan kerja.


4. Anak-anak diajarkan menggambar pemimpin Korut menikam prajurit Amerika Serikat (AS) dan Jepang.


Berdasarkan keterangan dari anak-anak yang diwawancara oleh PBB, mereka diajarkan untuk mendewakan pendiri Korut, Kim Il-Sung. Mereka pun diharuskan menggambar sosok pemimpin tertinggi Korut yang menyenangkan Kim Il-Sung. Gambar yang bagus akan dipajang di sekolah. Pada umumnya, gambar itu menunjukkan sosok keluarga Kim atau anaknya menikam prajurit Jepang dan AS.


5. Setiap rumah dilengkapi pengeras suara, agar propaganda pemerintah bisa didengar dengan jelas.


Pemerintah Korut memasang saluran penyiaran tetap yang disalurkan melalui rumah-rumah warganya. Setiap rumah warga itu dipasangi pengeras suara agar propaganda pemerintah dengan jelas terdengar. Saluran itu digunakan untuk menyiarkan berita terlarang, informasi dari pemerintah, dan siaran keadaan darurat.


6. Korut melakukan penulisan ulang sejarah.


Menyusul eksekusi yang diperintahkan oleh pemimpin Korut saat ini, Kim Jong-Un, terhadap pamannya Jang Song-Thaek, sekira 35 ribu artikel dari kantor berita Korut, KCNA dan 20 ribu lainnya dari website Rodong Sinmun, dihapus. Langkah ini ditengarai sebagai upaya untuk menghapus jejak Jang dari sejarah Korut, sekaligus upaya Jong-Un untuk menunjukkan kekuasaannya.


7. Kekerasan seksual biasa dilakukan oleh pejabat negara.


Saksi yang berbicara kepada penyelidik PBB mengaku bahwa kekerasan terhadap perempuan biasa dilakukan oleh pejabat negara. Penyiksaan ini tidak hanya dialami oleh perempuan di dalam rumah, tetapi perempuan biasa disiksa secara seksual di muka publik.


Para pejabat pemerintah kerap menjadikan kekerasan seksual sebagai hukuman. Umumnya para pejabat yang melakukan tindakan tersebut adalah prajurit. Sementara tindak pemerkosaan terhadap anak-anak kerap diberikan hukuman, hal berbeda justru diterapkan pada kasus pemerkosaan di mana korban usia dewasa. Pemerkosaan terhadap perempuan dewasa justru tidak dianggap sebagai kejahatan.


8. Rakyat Korut dibagi dalam tiga kasta dan 51 kategori berdasarkan tingkat loyalitas mereka.


Kasta Inti, yang terdiri dari rakyat berasal dari keluarga pekerja, keluarga dari anggota partai yang masuk dalam pergerakan revolusi. Selain itu, kasta ini juga termasuk dari keluarga pahlawan, kaum intelektual, keluarga dari korban perang Korea serta keluarga dari mereka yang setia terhadap pemerintah.


Kasta Umum yang termasuk di dalamnya kalangan pedagang, seniman, pemiliki usaha kecil serta kelompok warga yang berasal dari Korea Selatan (Korsel) dan keluarga dari warga Korut yang pergi ke Korsel. Warga Korut yang dideportasi dari china juga termasuk dalam kasta ini. Kasta ini juga termasuk mereka yang sempat memiliki pengaruh dalam lingkungan masyarakat.


Kasta Kompleks terdiri dari mereka yang merupakan petani kaya, pedagang, industrialis, pemilik lahan atau mereka yang memiliki aset pribadi dan sudah direbut oleh pemerintah. Pembelot dari Korsel juga termasuk dalam kasta ini. Sementara beberapa kelompok agama seperti Katolik dan Budha juga berada di dalam Kasta Kompleks. Anggota partai dan pejabat yang dikeluarkan juga termasuk dalam kasta ini serta mereka yang membantu Korsel dalam Perang Korea.


Selain itu, ada pula keluarga dari mata-mata yang tertangkap atau dipenjara. Kelompok kapitalis yang asetnya sudah direbut oleh pemerintah juga termasuk dalam kasta ini.


9. Korut diperkirakan sudah menculik sekira 200 ribu warga asing sejak 1950, termasuk perempuan yang dijadikan istri.


Warga asing yang diculik oleh Korut mencapai angka 200 ribu orang. Beberapa dari mereka yang diculik merupakan perempuan yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, dan beberapa negara Asia. Sebagian besar dari perempuan itu, dijadikan istri kepada warga asing yang sudah tinggal di Korut sejak lama.


10. Satu saksi mengaku melihat seorang perempuan menyelundupkan kabel tembaga di dalam jasad bayinya.


Menurut keterangan seorang saksi kepada penyelidik PBB, dirinya melihat seorang perempuan menggendong bayi pada punggungnya. Perempuan itu kemudian meletakkan bayinya di meja, tetapi saksi menyadari bahwa bayi itu berusia sekira 18 bulan dan sudah meninggal.


Saksi mengaku melihat ada darah di sekitar perut bayi itu. Ketika polisi bertanya, perempuan itu hanya bisa menangis dan diiringi oleh tindakan polisi yang tiba-tiba saja merobek perut bayi tersebut. Ternyata ada sekira kabel tembaga seberat dua kilogram ditemukan di dalam perut bayi. Ini menunjukkan bahwa rakyat Korut akan berbuat apapun untuk tetap bertahan hidup. (*okez)


0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *