Kamis, 27 Februari 2014

Rusia Kerahkan Kapal Perang ke Ukraina


- "Ini [kapal] mengangkut sekitar 200 tentara bersenjata [dan] 328 batalyon Marinir tersendiri, yang berbasis di Temryuk dan 10 BTR-80 [kendaraan lapis baja]."

Peta Ukraina
Rusia diyakini telah menyebarkan kapal militernya yang membawa pasukan di wilayah otonomi Krimea, Ukraina, yang dipersengketakan. Gerakan ini menyusul penolakan Moskow untuk mengakui pemerintahan interim yang telah mengambil alih Kiev (yang disebut sebagai "teroris").

Laporan itu menunjukkan pergerakan kapal pendaratan besar Rusia, Nikolai Filchenkov, dengan setidaknya 200 tentara kapal, di pangakalan Armada Laut Hitam Rusia di Sevastopol. Kapal yang dikatakan diiringi setidaknya empat kapal lainnya yang mengangkut serdadu Pasukan Khusus dengan jumlah tidak diketahui itu berlayar dari pelabuhan Rusia, Anapa, ke Sevastopol, Krimea, Ukraina.

Oleh Tyahnybok, pemimpin kaum nasionalis Svoboda Ukraina, mengatakan dirinya memiliki bukti tentang pergerakan itu dalam bentuk pesan teks. Mengutip sumber-sumber keamanan di Crimea, Tyahnybok mengatakan, "Saya dapat menunjukkan pesan singkat (yang diterima). Hari ini, jam 12.00, diperkirakan kapal besar pendaratan ' Nikolai Fil'chenkov dari Armada Laut Hitam Federasi Rusia yang bertolak dari dari pelabuhan Temryuk, Federasi Rusia, tiba di kota Sevastopol."

"Ini [kapal] mengangkut sekitar 200 tentara bersenjata [dan] 328 batalyon Marinir tersendiri, yang berbasis di Temryuk dan 10 BTR-80 [kendaraan lapis baja]."

Basis Rusia di Sevastopol diyakini menjadi tempat penampungan sekitar 26.000 tentara. Wilayah Krimea terletak di pantai utara Laut Hitam. Armada Laut Hitam Rusia yang besar ditempatkan di Sevastopol dan 60 persen populasi di wilayah ini merupakan etnis Rusia.

Sebelumnya Moskow mengungkapkan bahwa negara tirai besi itu siap berperang demi wilayah Crimea guna melindungi penduduk (yang mayoritas beretnis Rusia) dan instalasi militernya. "Jika Ukraina tercabik, itu akan memicu perang. Mereka pertama-tama akan kehilangan Crimea [karena] kita akan masuk dan melindungi [itu​] , seperti yang kita lakukan di Georgia," ujar seorang pejabat Rusia yang tak disebutkan namanya oleh Financial Times.

Analis menunjuk kemungkinan terulangnya konflik Georgia 2008 saat pasukan dan tank Rusia menyerbu setelah pemerintah Georgia melancarkan serangan di wilayah separatis Ossetia Selatan. Sebanyak 150 orang tewas dalam aksi serangan itu. Sebelumnya AS mengeluarkan peringatan keras pada Rusia untuk keluar dari Ukraina. Namun Moskow menolak peringatan itu.


0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *