Selasa, 18 Juni 2013

Pengajian Politik Islam: Umat Islam Harus Menang dan Berkuasa



JAKARTA – Tokoh Partai Bulan Bintang (PBB) Fuad Amsyari menegaskan, selama ini umat Islam salah memilih partai, salah memilih pemimpin yang kemudian berimbas salah dalam mengambil kebijakan politik yang salah. Oleh kerena itu umat Islam Indonesia harus memilih pemimpin yang benar-benar memperjuangkan syariat Islam. Ke depan, umat Islam harus menang dan berkuasa.
“Islam politik secara kongkrit memobilisasi kekuasaan, mengalahkan partai sekuler. Umat Islam harus berkuasa. Islam politik harus menang. Dengan menerapkan syariat Islam, maka bagaimana seharusnya menerapkan kebijakan politik, ekonomi, pendidikan, social dan budaya yang sesuai dengan Islam,” kata Fuad dalam Pengajian Politik Islam di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Fuad tidak setuju dengan dikotomi partai islam dengan partai nasional. Menurutnya Islam itu juga nasionalis. Yang mendikotomi partai islam dan nasionalis adalah rekayasa politiknya partai non Islam.
Ketua Umum Partai Bulan Bintang MS Ka'ban menambahkan, dalam UUD 1945, presiden Indonesia adalah orang Indonesia asli dan yang beragama Islam. "Harus diakui, partai Islam masih pasang surut, belum mampu merebut mayoritas. Juga diakui, aktivis elit politik partai Islam masih terperangkap dengan glamor kehidupan dunia," ujarnya.
Sementara itu, penggagas Pengajian Politik Islam (PII), KH. Cholil Ridwan menjelaskan hadirnya kajian ini adalah bagian dari mengikuti sunnah Rasulullah. Dengan memilih masjid, PPI ingin meniru Rasulullah dalam menegakkan Islam di jazirah Arab.
“Rasulullah hanya dari majelis taklim dan Masjid Madinah berhasil menyebarkan Islam. Hingga beliau wafat seluruh penduduk jazirah Arab sudah muslim,” tegasnya dalam launching PPI yang dihadiri ratusan umat Islam.
Dengan bermodal kajian yang dimulai dari masjid, tidak sampai seratus tahun Islam sudah masuk ke Eropa. Hingga 700 tahun lamanya Eropa diperintah dengan Hukum Qur’an yang membawa pencerahan bagi masyarakat Eropa.“Itu semua dimulai dari masjid, bukan istana dan DPR,” tandas Kyai Kholil.
“Pengajian ini mempunyai semangat untuk menyatukan umat dengan ukhuwah imaniyah demi izzul Islam wal Muslimin dan untuk memenangkan umat Islam dalam setiap pertarungan politik baik pemilu, pilpres dan pilkada,” kata KH Cholil Ridwan.
Kalahnya umat Islam dalam pilkada di DKI Jakarta, Solo dan lain-lain menjadi sebab didirikannya pengajian politik ini. “Bagaimana di DKI yang 82% penduduknya Muslim, Wagub nya non Muslim. Gubernur Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dari kalangan Kristen, padahal mayoritas penduduknya beragama Islam. Sedangkan di daerah minoritas Muslim semenjak merdeka belum pernah ada yang gubernurnya Muslim,”jelas Kiyai Cholil yang juga Pengasuh Pesantren Husnayain Jakarta.
Selain itu, terpuruknya parpol-parpol Islam dalam popularitas dan elektabilitas serta rendahnya kualitas dan kuantitas pemimpin Islam saat ini juga menjadi keprihatinan. “Tujuan akhir dari pengajian ini adalah umat Islam menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan selalu menang dalam pertarungan politik, ekonomi dan budaya. Serta Indonesia menjadi negara bersyariah,”tegas Kiyai Cholil yang juga Ketua MUI Pusat. [desastian]




(voa-islam.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *