Kamis, 19 September 2013

Mengurai Skema, Langkah dan Modus Operasi Amerika Serikat Sebagai Superpower

Pendahuluan
Dinasti Rotschild, Rockefeller dan JP Morgan
Unsur inti yang mengawaki kebijakan politik luar negeri di Amerika Serikat (AS), seolah-olah cuma terdiri atas Presiden/Wakil, Central Intelligence Agency (CIA), Dewan Keamanan Nasional, Menlu dan Menhan saja, dimana unsur diatas terkait dengan hegemoni yang dikembangkan selama ini. Namun sesungguhnya tidaklah demikian. Ternyata ada supertop leader dibelakang layar. Kendati kuantitas person nya terbilang kecil, tetapi mampu memainkan remote organisasi “tanpa bentuk” dari kejauhan. Itulah illuminati internasional. Gerakan di bawah tanah penabur semangat zionisme. Ia adalah ibu kandung sekaligus bidan bagi setiap amoeba konspirasi global. Layaknya ibu, maka bayi-bayi lucieferian conspirations, freemasonry dan sebagainya berasal dari rahimnya. Entah siapa besok dilahirkan lagi.
Memang Theodore Herzl (1860-1904) adalah Godfather dari gerakan ini. Tetapi siapa yang tidak paham klan Rothchilds dinasti Yahudi terkaya penyumbang zionisme tanpa reserve; adakah keturunannya telah putus dan punah di jagad ini? Retorika ini tidak untuk dijawab agar tulisan ini dilanjutkan.
Yang jelas, di era kontemporer abad 20, derivasi atau rincian dari jaringan siluman ini bisa ditelusur kembali melalui asal muasal dari Skull and Bones, para mahasiswa Universitas Yale yang direkrut untuk bergabung menjadi anggota komunitas rahasia yang jejak kesejarahannya akan berujung di Iluminati dan Freemason.

Untuk menjelaskan kaitan jaringan Skull and Bones dengan para pemain kunci di balik politik luar negeri Amerika Serikat, kita bisa menelusur dengan memperhatikan sumbu dari mata-rantai ini, yakni Prescott Bush, yang juga merupakan alumni yang tergabung dalam Skull and Bones.
Ketika di Yale, Prescott Bush menjalin persahabatan akrab dengan beberapa tokoh kunci seperti Samuel Pryor, pemilik Remington Arms Company serta Avril Harriman, putra dari EH Harriman, pemilik dan bos kereta api. Melalui ayahnya, Avril kemudian memperoleh firma investasi bernama Harriman and Company.
EH Harriman inilah yang kemudian mengangkat George Herbert Walker, yang belakangan menjadi ayah tiri Prescot,  setelah ayahnya, George Bush Sr, meninggal untuk menjalankan firmanya.
Inilah mata rantai yang tidak pernah putus hingga dekade-1990-an. Setidaknya, Avril Harriman selalu menjadi tokoh sentral dalam setiap proses pembuatan kebijakan luar negeri AS.
Pada perkembangannya kemudian, jaringan siluman yang dirintis oleh Prescot Bush dan Herbert Walker Bush, merupakan derivasi atau rincian di level Manpower yang berada di bawah kendali Dinasti Rockefeller, Rotchild dan JP Morgan.
Skema kerjasama strategis yang dirancang dua konglomerat Amerika-Inggris Rockefeller dan Rothschild itu bermula sejak berabad lalu dalam kerangka persekutuan strategis di bawah skema White Anglo Saxon Protestant (WASP) yang pada dasarnya merajut persekutuan tradisional antara Amerika Serikat dan Inggris.
Melalui konglomerasi mereka berdua, praktis mereka mengusai beberapa perusahaan besar bidang Migas seperti Exxon Mobil, Texaco, BP Amoco dan Royal Dutch/Shell. Tak heran jika mereka berdua sangat mempengaruhi dan menyetir haluan politik luar negeri Amerika Serikat untuk menguasai dan mengamankan negara-negara kawasan Teluk, Timur Tengah, Afrika dan Asia, yang memiliki kandungan sumberdaya alam bidang minyak dan gas.
Salah satu contoh ekstrim betapa besar pengaruh kedua konglomerat ini, terbukti ketika berhasil mendesak Inggris menghadiahkan Yahudi sebuah negara bangsa bernama Israel.
Melalui campur tangan pengusaha Inggris Rothschild inilah yang kemudian mendorong pemerintah Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang mendukung berdirinya tanah air bagi Yahudi di tanah Palestina.
Bagi Rothschild, tujuan utamanya bukan mendukung Yahudi, melainkan penguasaannya atas kawasan minyak di Timur Tengah. Menyusul kekalahan Imperium Ottoman Turki, beberapa negara arab kemudian jatuh ke tangan Inggris seperti Irak, Jordan dan Arab Saudi lewat dinasti Ibnu Saud.
Begitulah.
Jejak-jejak jaringan siluman Rockefeller dan Rotschild ini bisa ditelusur melalui keterlibatan dan peran strategis tim sukses dan jaringan George W Bush dalam merancang Project for The New American Century (PNAC) & Its Implication 2002 tersirat, yang di dalam cetak biru politik luar negeri AS tersebut secara jelas tergambar bagaimana kekuatan korporasi global yang dimotori oleh Rockefeller dan Rotchild tersebut berupaya membentuk kekaisaran dunia.
Menariknya lagi, besarnya gurita pengaruh kedua konglomerat Amerika tersebut, bahkan dua partai besar Amerika Partai Republik dan Partai Demokrat, praktis berada di dalam genggaman mereka berdua melalui peran sentral David Rockefeller, yang ditugasi khusus mengkader dua Menpower tingkat tinggi yang bertugas sebagai Arsitek Politik Luar Negeri America: Henri Kissinger, Menteri Luar Negeri Era Kepresidenan Richard Nixon dan Gerald Ford, dan Zbigniew Brzezinski yang sampai hari ini masih berperan dan berada di belakang semua proses pembuatan kebijakan politik luar negeri Presiden Barrack Obama.
Dan kedua partai tersebut sejatinya menjalankan misi yang sama yaitu menciptakan hegemoni global Amerika untuk mendirikan : satu pemerintahan global dibawah kendali AS (One World Government) – satu nilai tukar global yaitu US dollar – dan satu ajaran (agama) tunggal yakni sekuler universal.
Skema Kapitalisme Global Superior
Tak bisa dipungkiri. Produk unggulan yang dijajakan ialah kapitalisme dengan berbagai format dan model. Melalui reformasi, demokratisasi, HAM, transparansi, sekulerisasi dan berapa “sasi-sasi” lagi bakal lahir dari perut sang kapitalis. Ia menyemai nilai-nlai “keamerikaan” (Barat) via budaya, seni, gaya hidup, iklim politik dan sebagainya melalui media-media serta berbagai cara.
Kekayaannya hasil jarahan. Terutama rampasan Perang Dunia ll (kedua). Maka AS seringkali dijuluki “negara perampok”. Sedangkan kekayaan lainnya bersumber dari berbagai bisnis properti (hotel, hyper/super market dsb), usaha jenis makanan dan minuman khas Amerika, tambang emas, minyak dan gas bumi di negeri boneka dan jajahan baik di Asia termasuk di Timur Tengah dan di Afrika.
Tak kalah penting ialah money laundry yaitu penggandaan seri-seri dollar yang ditebarkan pada berbagai belahan bumi dengan kualitas “bodong”. Asli tetapi palsu. Ia memiliki aset materi dan non materi. Aset non materi seperti pola pemikiran yang mendewakan logika. Westernisasi merasuk pada life style komunitas negara lain di berbagai dimensi berlabel “American Minded”.
Adapun aset materi berupa antek-antek atau agennya yang direkrut dari beragam warna kulit, etnis dan golongan. Penetrasinya lewat jalur seni budaya, sejarah, sosial politik, pendidikan, ekonomi bahkan agama, termasuk fungsi-fungsi pemerintahan di suatu negara. Sejatinya antek itu “anjing”-nya Amerika. Budak kapitalis. Pelacur politik level transnasional.
Pabrik senjata dan teknologi perang adalah mesin andalan penambah pundi-pundinya. Maka berbagai cara ditempuh guna membuat konflik terjadi dimana-mana. Agar teknologi dan mesin perang dagangannya laris terjual habis.
Mesin pundi-pundi berikutnya adalah jaringan berbagai media cetak, elektronik, atau industri layar lebar dikuasai. Disamping sebagai alat promosi teknologi perang, juga sarana membuat stigma “keheroikan Amerika”. Makanya film-film sekelas Rocky, Rambo dst dibuat berseri guna membakar jiwa warganya yang merasa sebagai bangsa champions di muka bumi, tetapi sekaligus menutupi kegagalan invasi militernya di beberapa negara.
Yang menarik hingga kini, masyarakat global tidak banyak yang tahu tentang kehancuran militernya di Iraq dan Afghanistan. Dunia kurang paham (atau para pakar ekonomi tidak jujur) bahwa krisis ekonomi AS yang mengakibatkan krisis global dimana-mana, sesungguhnya berakar-masalah dari besarnya budget perang yang belum kembali, hasil “sumbangan” para usahawan pemilik saham akibat konsekuensi politik proteksi yang dimainkan. Inginnya untung justru buntung. Dalam konteks ini, harus diakui AS adalah pakarnya memutar-balikan fakta. Raja edit sekaligus counter berita. Ingat kasus WikiLeaks yang ternyata dibelakangnya adalah New York Times.
AS membentuk “kelompok ahli”. Jago lobi-lobi dan punya daya tawar tinggi terhadap lingkungan global. Contohnya American-Isarel Public Affair Committee (AIPAC),American-Jewish Committee (AJC), kelompok Neo-Kons/kaum Hawkish, dan Privat Military Company (PMC) terutama PMC Halliburton, Vinnel Company, DynCorp serta Blackwater Security yang berperan significant saat Bush Jr berkuasa. Suburnya PMC bermula dari rasionalisasi separuh personel militer, oleh karena usai perang dingin AS menganggap tidak ada lagi musuh yang nyata. Para ex serdadu ditampung oleh PMC-PMC dengan cover kontraktor militer, tetapi sesungguhnya mereka ialah para tentara bayaran.
PRT itu Preman Pembangunan
Tatkala “mencaplok” negara target, AS menggunakan beberapa pola dan metode, antara lain :
(1) Stigma dan Penyesatan Opini 
Awal “masuk” ke wilayah target yang dianggapnya potensial melalui propaganda. Membentuk stigma buruk di daerah yang akan diinvasi. Propaganda terbaru adalah terorisme, melawan pimpinan otoriter, senjata pemusnah massal, program nuklir, penjahat perang karena melakukan genosida dst.
Sedangkan propaganda sebelumnya soal demokratisasi, supremasi hukum, keterbukaan, liberalisasi atau kebebasan, HAM dsb dimana hingga kini isue tersebut masih efektif menggoyang tatanan sosial dan etika negara-negara. Ia menyediakan space pengkhianatan putra-putri suatu bangsa terhadap toempah darahnya sendiri.
(2) Taktik Belah Bambu dan Adu Domba
Pola ini diterapkan AS guna mengobrak-abrik negara target dimanapun. Catatan untuk Asia lewat  federasi dan konflik horizontal (etnis, agama dst). Meskipun secara konsep dikatakan berhasil tetapi untuk Indonesia dinyatakan kurang maksimal, entah sebab apa.
(3) Cuci otak
Mendidik anak (baca: anteknya) bangsa untuk meraih jenjang S-1, S-2 dan S-3 Obyek penelitian diarahkan agar bagaimana “melemahkan” negaranya sendiri dari sisi internal.
Ia merajut jaringan bidang apa saja. Baik jalur politik, agama, sejarah, pendidikan, fungsi polisi maupun tentara dimasukinya. Tidak sedikit para anteknya diorbit menjadi pakar nasional atau tokoh internasional, diberikan award berkelas dunia. Betapa lucu. Ada sosok penghianat digelari pendekar HAM di negara yang dikhianatinya, padahal matinya dibunuh aparat karena hendak menjual rahasia negara kepada pihak asing. Memilukan.
Ada juga anteknya yang menjadi  pejabat negara, atau tokoh agama, bapak bangsa dst. Hal itu mudah baginya, sebab ia menguasai media serta kaya raya.
(4) Membentuk Koloni dan Federasi
Contoh di Indonesia via otonomi daerah sebagai penghalusan Negara Federal yang doeloe ditolak banyak kalangan. Negara dilemahkan dari sisi dalam. Para politikus diberi mainan dalam negeri berupa demokrasi dan multi partai. Seolah-olah ada gegap dinamika namun sebenarnya hampa makna. Rakyat sibuk berhura-hura di jalan raya, sementara eksekutif dan legestatif asyik bersama “mengutil” uang negara.
(5) Politik Proteksi
Setiap kegiatan bisnis, terutama untuk skala global dengan komoditi unggulan selalu di-back up militer guna keberhasilan tujuan. Makanya Freeport di Papua seakan-akan ada “negara dalam negara”. Dijaga ketat oleh pasukan entah dari mana. Masyarakat di sekitar cuma penyaksi. Ketika warga mengais sisa-sisa rezeki di pinggiran sungai, justru  ditangkapi polisi.
(6) Perang di Luar Kawasan (Proxy War)
Ia memperbanyak pangkalan militer di lain negara dan juga kapal induk. Harus diakui AS adalah raja kapal induk dunia. Mempunyai 13 buah (info terbaru 20 buah). Amphibius Ship/kapal induk kecil 7 buah. Sedangkan Jet Carrier diantaranya 11 bertenaga nuklir dan 2 konvensional. Bandingkan dengan Inggris yang cuma mempunyai 3 buah, Perancis 2 buah, sedangkan Rusia 1 buah. Bila diibaratkan orang, maka kedua kaki AS ialah puluhan kapal induk serta ratusan kapal selam canggih siap laga.
Sekadar gambaran kekautan Angkatan Laut Amerika, berikut beberapa rincian yang berhasil dihimpun Tim Riset Global Future Institute.
Ambil sebagai sekadar gambaran, kekuatan Armada Ketujuh Amerika Serikat.
Armada Ketujuh memiliki 40-50 kapal perang, 350 pesawat terbang, serta 50.000 pelaut dan marinir. Dan, hampir separuh masa dalam setahun kapal-kapal itu meronda. Dari atas kapal USS Blue Ridge (LCC 19), sang komandan memimpin langsung operasi militer, pelatihan awak, dan misi persahabatan dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Yang berarti melakukan kontrol dan kendali penuh pada negara-negara satelitnya di Asia Pasifik.
Bukan itu saja. Kekuatan militer Amerika di matra laut dan udara bisa ditelesur sejak era 1940-an.
1. Kapal Perang Kelas Iowa
Dalam kurun waktu tahun 1939 hingga 1942 seidaknya telah 4 unit kapal perang kelas Iowa. Kapal perang jenis ini dibutuhkan oleh pemerintah Amerika pada tahun 1939 sebagai senjata pemukul pamungkas untuk mengendalikan kekuatan armada laut di kawasan Samudera Pasifik saat berlangsungnya Perang Dunia II.
Sejatinya pemerintah Amerika merencanakan membuat 6 kapal perang jenis ini, tapi karena mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan pada waktu itu maka diputuskan hanya membuat 4 kapal saja. Kapal jenis Iowa memulai tugas untuk seluruh unit armadanya pada tanggal 22 Pebruari 1943 , dan kini kesemua unitnya telah memasuki masa pensiun pada bulan Maret 2006. Biaya pembuatan 1 kapal pada waktu itu (1943) adalah sekitar 1,8 Milyar USD (sekitar 17 Trilyun Rp). Biaya sebenarnya tentunya dirahasiakan, tetapi ini adalah kalkulasi dari beberapa pengamat ekonomi pada waktu itu yang telah memperhitungkan faktor inflasi dan depresiasi mata uang Dollar. Dengan dibuatnya 4 kapal senilai 1,8 Milyar USD, berarti biaya totalnya adalah 7,2 USD. (sekitar Rp.68 Trilyun ).
2. Expeditionary Fighting Vehicle
Masih ingat momen debat antara 2 kadidat presiden Amerika John Mc Cain dan Barrack Obama saat kampanye presiden membincangkan anggaran departemen pertahanan?
Ingatkah anda ketika John Mc Cain bicara tentang program pembuatan kendaraan amphibi yang menyedot anggaran begitu besar yang dikutip dari pembayar pajak?
Mengapa hal ini menjadi sangat menarik perhatian? Tidak lain karena besarnya biaya yang dianggarkan untuk membuat 1 mesin tempur ini. Proyek pembuatan kendaraan amphibi ini sejatinya sudah diawali sejak tahun 1970-an dan berlanjut hingga hari ini.
Dengan body kendaraan dari almunium penuh, mampu mengarungi samudera dan superior saat bertarung di darat. Kendaraan ini dikendalikan 3 orang dan mampu membawa 17 personel. Total biaya yang sudah dikeluarkan hingga saat ini adalah 15,9 Milyar USD (sekitar 140 Trilyun Rp). Belum ada 1 pun amphibi ini yang telah jadi dan bertugas resmi di US Defence, hanya berupa prototip yang masih terus disempurnakan dan dikembangkan. Pihak US Defence masih belum puas dengan performa kendaraan ini karena hanya bisa beroperasi maksimal selama 4,5 jam.
3. Kapal Selam Nuklir Kelas Ohio
Kapal selam nuklir kelas Ohio ini merupkan penerus dari seri Kapal Selam Nuklir sebelumnya, seperti Kelas Trident. Kapal Selam ini diawaki oleh 155 crew. Pembuatan kapal selam ini sangatlah rahasia, apalagi reaktor nuklirnya, tidak ada satupun dokumen yang bisa terlacak. Tapi, yang jelas, semua perangkat penggerak kapal selam ini berikut sistem mekanis penunjang kehidupan di dalamnya (pemisah air menjadi udara, pemurni air laut) didesain untuk mampu beroperasi hingga 100 tahun usia kapal selam. Apa artinya? Misalkan kapal selam ini diisi penuh bahan makan, dan berlayar mengelilingi samudera, maka kapal selam ini baru berhenti bila bahan makanannya habis, bukan karena bahan bakarnya habis. Biaya pembuatan kapal selam ini adalah sekitar 2 Milyar USD (sekitar 19 Trilyun Rp.) per unitnya. Saat ini Amerika memiliki 18 unit kapal selam nuklir kelas Ohio. Jadi, total senilai 18 Milyar USD (sekitar Rp.165 Trilyun )
4. Kapal Induk Kelas Nimitz
Pemberian nama Kapal Induk Kelas Nimitz diberikan untuk mengenang pahlawan Amerika Marinir Penerbang Admiral Chester W. Nimitz. Semua kapal induk Amerika rata-rata dinamai pahlawan dari kalangan militer, dan Presiden US sperti USS John. Stennis, USS Carl Vinson, dan USS Ronald Reagan. Dengan diperkuat reaktor nuklir sebagai motor penggeraknya, Kapal Induk USS Nimitz pertama kali memperkuat armada Angkatan Laut Amerika pada 3 Mei 1975. Hingga saat ini terdapat 10 unit kapal induk kelas Nimitz yang beroperasi. Dengan panjang sekitar 400 meter, dan diawaki 5700 personel, daya jelajah kapal induk ini sama dengan kapal selam kelas Ohio, mampu berlayar mengelilingi samudera tanpa henti. Biaya pembuatan 1 kapal induk ini adalah sekitar 4,5 Milyar USD (sekitar 40 Trilyun Rp), sehingga bila ditotal harga seluruh armada kapal ini adalah 45 Milyar USD (sekitar Rp.400 Trilyun ).
5. Pembom Siluman B-2
Selama bertugas, tidak satupun dari armada pesawat ini ditembak jatuh musuh. Pesawat ini sudah diproduksi sebanyak 21 unit, dimana 1 unit telah jatuh bukan karena pertempuran di pangkalannya, Guam. Secara undang-undang, Amerika tidak akan menjual pesawat siluman (B-2 Spirit, F-22, F-117) ke negara manapun.
Biaya pembuatan pesawat ini mulai dari ide, prototip hingga produksi 1 pesawat adalah 23 Milyar USD (sekitar 205 Trilyun Rp.). Tetapi, harga 1 pesawat ini adalah 1,3 Milyar USD (sekitar 10,5 Trilyun Rp.). Bila 21 unit pesawat yang siap beroperasi ke seluruh penjuru dunia manapun dikali 1,3 Milyar USD plus biaya Riset senilai 23 USD, maka kesemuanya itu senilai 50,3 Milyar USD (sekitar Rp.490 Trilyun Rp).
(7) Doktrin Pre-emtive Strike
Artinya serangan dini. Suatu negara boleh diserang/diinvasi militer cukup dengan sebuah asumsi. Doktrin ini lahir karena phobia (rasa takut berlebihan tanpa dasar) terhadap Islam. Bahkan doktrin ini pernah disosialisasi kepada dunia dengan menumpang ratifikasi doktrin PBB setiap dua tahun sekali. Tapi syukurlah konsep itu ditolak banyak negara.
(8) Invasi Militer (Hard Power)
Inilah methode unggulan. Sejalan karakter hawkish para man power (tenaga ahli)-nya yang menempatkan kekerasan sebagai sikap utama dalam mencapai tujuan. Misalnya, pada suatu daerah target yang kaya sumber daya alam (emas, minyak dan gas bumi), maka langkah awal ditimbulkan stigma. Entah dicap membiayai teroris, sarang teroris, memproduksi senjata pemusnah massal dst. Kemudian dikeroyok beramai-ramai dengan sekutunya (NATO dan ISAF). Setelah dikuasai dibuat pemerintahan boneka, dirampok segala sumber daya alam di daerah melalui bargaining dengan sekutu dan kaum entrepreneur. Kemudian dipeta-peta dibuat “kapling-kapling”. Jika invasi militer berjalan sukses maka seperti lebaran, mereka bagi-bagi jajanan.
(9) Perang Candu
Strategi ini merupakan alternatif. Artinya antara invasi militer dan perang candu bisa berjalan serentak. Boleh duluan atau belakangan. Tergantung analisa intelijen. Yakni membuat marak candu, minuman keras dan narkoba di daerah sasaran sebagai alat termurah merusak bangsa. Tujuanmya membuat lumpuh generasi muda di negara target agar tidak timbul gejolak politik. Contoh perang boxer di China doeloe, para pemuda diracuni candu oleh imperalis sehingga tidak punya daya lawan terhadap penjajahan negerinya.
Hal yang wajar ketika AS amat antusias menguasai ladang-ladang opium dan mafia jaringannya di Afghanistan, oleh karena selain itu bagian strategi dan metodenya, juga disebabkan invasi militernya ke Iraq belum menghasilkan apa-apa. Belum sebarel pun minyak terangkut dari bumi 1001 malam, justru kebangkrutan kini di depan mata.
(10) Provincial Recontruction Team (PRT) 
Sebenarnya ini metode tua era 1970-an. Istilahnya barang baru stock lama. Dahulu kala pola ini ditinggalkan karena dianggap lambat dalam penguasaan wilayah. AS yang dikuasai unsur berkarakter hawkish lebih menyukai invasi militer daripada metode ini. Invasi dinilai lebih cepat meraih hasil daripada PRT, meskipun resiko yang ditimbulkan adalah budget besar dan dukungan (legitimasi) internasional. Metode lama ini dibangkitkan kembali, oleh karena invasi militer tidak menjamin keberhasilan misi dan “modal usaha” belum tentu kembali.
Catatan penting dari Iraq: kendati invasi militernya dianggap illegal oleh PBB namun ia tak perduli. Jalan terus. Dan PBB pun cuma bisa termangu-mangu.
PRT bergerak lewat provinsi-provinsi dalam berbagai bidang. Tujuan  utamanya adalah menjerat masyarakat agar tergantung kepada suatu kaum, golongan atau sekelompok orang. Masyarakat dibentuk menjadi “parasit”. Hidup menumpang tidak punya pijakan. Tidak ada jiwa juang apalagi daya lawan. Menjadi mainan segelintir orang.
Operasional PRT mensyaratkan kepemilikan modal. Atau sekurang-kurangnya sosok berpengaruh di daerah. Entah itu berdarah biru, saudagar besar, jawara, agamawan, intelektual, paranormal, organisasi massa atau terutama lembaga swadaya (LSM) dst. Yang pokok suara sosok tersebut mampu “merekat”-kan masyarakat sekitarnya.
Inti PRT membuat tandingan atau bayangan bagi pemerintah daerah. Mempunyai kepolisian sendiri. Ada tentara dan administrasi sendiri. Daerah dieksploitasi. Kewilayahan dieksplorasi. Penggusuran lahan dan tanah warga adalah modus yang merambah disana-sini. Menumpang hiruk-pikuk politik dimana-mana. Ia abaikan rasa kemanusiaan. Jerit rakyat pun sepoi terngiang, terlindas deru mesin penggusur dengan simbol supremasi hukum.
Banyak sudah praktek PRT di berbagai negara. Di Brazil, Afghanistan, Pakistan dsb termasuk di Indonesia. Dalam sisi lain, ia sering juga disebut smart power atau implementasinya sering disebut “revolusi warna” ketika ia sukses kelompok negara Eropa Timur/Pakta Warsawa dekade 2000-an doeloe. PRT itu ibarat kota di dalam kota. Dalam konteks global istilahnya: Absente of Loard. Mengubah posisi rakyat menjadi tuan yang tidak berpijak pada tanahnya sendiri. Tanah air tinggal airnya, tanahnya direngut entah oleh siapa.
Beberapa waktu lalu, marak ditampilkan raja-raja nusantara. Itulah pesona masa lalu dalam warna abu-abu. Artinya bisa hitam juga bisa putih bagi negeri ini. Sesungguhnya kearifan lokal (local wisdom) bukan sekedar spirit kedaerahan guna tampil beda dengan yang lain, tetapi maknanya ialah kemampuan-kemampuan daerah membangun jati diri bangsa menggunakan potensi lokal. Baik yang bersifat fisik maupun nilai-nilai. Ia bukanlah sekedar pameran kejayaan masa lalu, namun yang utama adalah menggali nilai-nilai lama pengiring kejayaan negeri tercinta.
Hipotesa muncul: bahwa kebangkitan local wisdom tanpa ada pijakan yang terang lagi jelas, memunculkan peluang bagi asing untuk merajut bangsa ini ke lobang PRT. Berkedok capacity building (pembangunan kemampuan), empowerment (pemberdayaan) dan sejenisnya, namun tidak jelas arah serta rujukannya.
Cerdas arah kebangkitannya. Agar  tidak terjebak oleh manis PRT yang hakikinya ialah preman-preman pembangunan. Yakni preman “terselubung” berwajah kaum agama, pejabat negara, tokoh adat, sejarahwan, pengusaha atau siapa saja termasuk aparatnya sendiri. Ciri-ciri utamanya menjual isi negara dan mengubah dinamika warga menjadi parasit pada tanah tumpah darahnya sendiri. Mengubah perilaku warga menjadi bangsa pecundang di muka bumi. Waspadalah! Waspadalah!




0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *