Jumat, 27 September 2013

Orang-orang yang Bisa Menyeret Kita ke Neraka

Nabi bersabda, "Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak memiliki harta benda". Kemudian Rasulullah berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa dan zakatnya, (tapi ketika hidup di dunia) dia mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, lalu dia diadili dengan cara kebaikannya dibagi-bagikan kepada orang ini dan kepada orang itu (yang pernah dia zhalimi). Sehingga apabila seluruh pahala amal kebaikannya telah habis, tapi masih ada orang yang menuntut kepadanya, maka dosa-dosa mereka yang didzalimi ditimpakan kepadanya, dan pada akhirnya dia dilemparkan kedalam neraka (Shahih Muslim No.4678, Tirmidzi No. 2342)  

Siapakah kira-kira yang dimaksud ‘orang lain’ yang disebut dalam hadits tersebut? Apakah mungkin mereka itu orang yang tinggalnya jauh dari kita.? Misalnya anda yang tinggal di Indonesia, maka ‘orang lain’ yang dimaksud Rasulullah adalah Mr. Smith di Amerika Serikat, atau Nakamura-san di Tokyo, Mr. Mugabe di Afrika..? Lalu kapan adanya kesempatan kita berinteraksi dengan mereka sehingga memunculkan kedzaliman dan sikap menyakiti..?. Bagaimana mungkin bisa dikatakan kita melakukan dosa padahal kenalpun tidak..?. 
 
Maka ‘orang lain’ yang dimaksud oleh hadist tersebut pastilah orang-orang terdekat kita. Anda tahu siapa mereka..? mereka adalah keluarga kita, istri atau suami, anak-anak, orang-tua, saudara, tetangga kiri dan kanan, jamaah masjid, rekan sekantor, teman sekolah, karyawan dan anak buah kita, itulah ‘orang lain’ yang bisa menyeret kita ke neraka akibat kedzaliman yang kita lakukan terhadap mereka. 

Boleh dikatakan dalam melakukan interaksi sesama manusia, kita hampir tidak pernah luput dari sikap saling menyakiti, dalam suatu waktu kita berdamai satu sama lain, pada kesempatan lain muncul konflik, kemarahan dan diikuti sikap saling menyerang. Kedzaliman biasa dilakukan oleh pihak yang lebih berkuasa, lebih kaya, lebih bertenaga, namun pada satu kondisi bisa juga dilakukan oleh rakyat jelata, orang tidak berpunya, bawahan, anak buah. Kedzaliman misalnya muncul dari tukang becak ataupun sopir angkot yang sengaja memacetkan jalanan, atau bawahan yang malas tidak mau menjalankan tugas dan kewajiban, dll, yang berakibat menyakiti dan menyusahkan orang lain. 

Tentu saja potensi kedzaliman lebih banyak berasal dari pihak yang berkuasa, berharta dan memiliki tenaga terhadap pihak sebaliknya. 

Kedzaliman juga tidak hanya berbentuk kekerasan dan penindasan saja, kelalaian orang-tua dalam mendidik anak untuk taat kepada Allah juga termasuk kedzaliman. Apakah anda bisa membayangkan ketika di akherat kelak seorang anak yang ‘divonis’ masuk neraka karena banyak melakukan dosa dan maksiat, dia akan memprotes :”Saya begini karena tidak pernah dididik oleh orang-tua saya, dia hanya memikirkan keselamatannya sendiri, menjadi orang saleh sendiri, ke masjid sendiri tanpa mengajak dan mengingatkan saya..”, atau protes datang dari tetangga anda yang dihukum karena suka bermaksiat tanpa pernah kita ingatkan dan cegah..? 

Kita juga jangan menyangka, bahwa di akherat kelak, antara anak dan orang-tua, antar saudara akan saling membantu ‘bahu-membahu’ agar luput dari siksaan neraka, Allah menginformasikan : 

QS Al-Mu’minun (23):101 Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. 

Jangankan antara keluarga dan saudara, bahkan antara pikiran kita dengan anggota tubuh kita saja tidak ada lagi koordinasi dalam bersaksi tentang perbuatan kita selama di dunia : 

QS Yaasin (36):65 Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. 
  
Kedzaliman terhadap sesama manusia hanya bisa dihapus dengan saling memaafkan, dan kesempatan itu hanya ada dalam kehidupan di dunia saja. Di akherat sudah tidak ada lagi ‘mekanisme’ saling memaafkan karena semua sudah dicatat dan ‘dipatenkan’, lalu semua fakta akan dihakimi dengan seadil-adilnya. Jangan bersikap ‘pede’ dengan mengatakan :”Biar saja, saya tidak perlu meminta maaf, karena dia juga pernah mendzalimi saya..”, sebab boleh jadi nanti di pengadilan Allah, kedua pihak justru akan saling tarik-menarik untuk masuk ke neraka. Maka bersegeralah untuk saling memaafkan selagi masih ada waktu. 

Jadi pernahkan anda membayangkan bahwa ternyata ‘orang lain’ yang berpotensi menyeret anda ke neraka tidak datang dari tempat yang jauh, melainkan pasangan hidup, anak-anak, orang-tua, tetangga, rekan kantor, teman sekolah, bawahan, jemaah masjid, yaitu mereka yang sering berinteraksi dengan kita? 

Pada suatu keadaan, ketika orang lain yang kita dzalimi tersebut terlebih dahulu meninggalkan kita, maka kemalangan sebenarnya ada pada pihak yang masih hidup. Pada umumnya orang yang ditinggalkan dengan mudah memberikan maaf terhadap orang yang sudah mati, namun sebaliknya, bagaimana bisa si mati punya kesempatan untuk memaafkan yang hidup..? Maka kedzaliman anda yang belum termaafkan itu mau tidak mau akan anda bawa ke liang kubur. 

Untuk kondisi seperti ini, Al-Qur’an menyatakan bahwa kita masih diberi kesempatan untuk bisa ‘mengimbangi’ dosa kedzaliman yang belum sempat dimaafkan tersebut : 

QS An-Nur (24):22 Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, 

Memaafkan kedzaliman orang lain terhadap kita tanpa menunggu mereka memintanya, merupakan perbuatan baik yang bisa menghapus dosa kedzaliman kita yg belum sempat termaafkan. Maka bersegeralah untuk memberi maaf dengan hati yang tulus, berlapang dada untuk tidak lagi mengingat sikap orang yang yang telah memunculkan dendam dan sakit hati, bahkan mendo’akan mereka agar tidak menerima akibat atas kelakuan tersebut. Jangan mempunya sikap :”Buat saya sih sudah tidak ada masalah, saya sudah menganggap urusannnya selesai”, namun sikap kita terhadap orang tersebut tetap saja dipengaruhi dendam dan sakit hati, tidak tulus dan berbaik sangka, itu bukanlah suatu pemaafan yang berguna. Sebaiknya kita berusaha meniru sikap Rasulullah, ketika beliau dianiaya oleh kaum kafir, lalu Allah mengutus malaikat, bersiap mengikuti perintah apa saja yang akan dikeluarkan beliau untuk menghukum kaum tersebut, Rasulullah malah berkata :”Yaa Allah, ampunilah perbuatan mereka karena mereka sama sekali tidak mengerti apa yang telah mereka lakukan..”. 

Meminta maaf dan memaafkan, sekali lagi, hanya merupakan kesempatan yang diberikan Allah di dunia saja, maka apa gunanya dendam dan sakit hati harus anda pelihara sampai ke liang kubur..?? apa manfaat nya bagi anda..?? Sama sekali tidak ada.., bersegeralah melakukannya dengan tulus, datangi orang-orang terdekat anda, hapus segala ganjalan dihati, do’akan keselamatan untuk mereka, karena keselamatan mereka bisa menjadi keselamatan anda juga.

0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *