Kamis, 06 November 2014

Lapan Manfaatkan Karet untuk Redam Panas Roket






Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menggandeng satuan kerja PT Riset Perkebunan Nusantara, yaitu Pusat Penelitian Karet (Puslitkaret) dalam penggunaan karet Ethylene Propilene Diene Monomer (EPDM) sebagai material insulasi termal pada motor roket berbahan bakar padat. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kerja sama (MoU) baru-baru ini.

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, semua roket membutuhkan peredam panas antara tempat pembakaran bahan bakar dengan tabung roket. Jika tanpa itu roket bisa meledak kalau panasnya tidak diredam.

“Kita menjalin kerja sama dengan PT RPN melalui Puslit karet untuk pengembangan bahan yang bisa dijadikan peredam,” katanya di Jakarta, Senin (20/10). Thomas menambahkan, Lapan sejauh ini sudah mengembangkan roket berdiameter 100 milimeter, 120, 320, dan yang akan datang lebih besar lagi 450, 550 milimeter.

Menurutnya untuk roket kecil seperti 100 dan 120 milimeter teknik yang saat ini digunakan sudah memadai. Namun, untuk roket yang lebih besar membutuhkan suhu pembakaran mencapai 3.000 derajat celcius perlu dibuat peredam panasnya. Kemudian dikembangkanlah material karet.

“Roket-roket Lapan berdiameter 100, 120 milimeter saat ini sudah mulai dipakai untuk keperluan sipil, termasuk uji roket sonda yang membawa muatan sensor penelitian atmosfer. Selain itu roket Lapan juga dikembangkan konsorsium roket nasional untuk roket pertahanan,” ungkapnya.




Untuk roket yang lebih besar, roket sonda mempunyai kemampuan yang lebih tinggi. Kementerian Pertahanan menggunakannya untuk pertahanan. Tetapi Lapan terbatas hanya mengembangkan roket sipil. Nantinya, tujuan akhir dari roket sonda ini sebagai roket peluncur satelit.

Dalam kerja sama tersebut terungkap bahwa karet ternyata merupakan bahan yang dapat digunakan dalam roket. Secara sederhana, insulasi termal adalah material atau proses atau metode yang berguna untuk mengurangi laju perpindahan panas. Wahana antariksa, termasuk roket, memiliki banyak kebutuhan insulasi. Untuk dapat meluncur sempurna, roket memerlukan suhu 3.000 derajat celcius.

Pembakaran dengan suhu tinggi seperti itu dapat berakibat fatal apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan material karet atau polimer yang mampu menghambat penjalaran panas pada saat pembakaran.

Kerja sama ini nantinya meliputi bidang penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi bahan alam dan sintetik untuk kedirgantaraan serta pemanfaatan teknologi dirgantara untuk bidang perkebunan.




Kenangan roket Indonesia masa lalu (jas merah)

sejarah Roket dan Rudal di Indonesia dimulai sejak RI membeli berbagai Rudal SAM (Surface to Air Missile) dari Uni Soviet. Di Era Sukarno kita membeli persenjataan banyak untuk mempersiapkan konftontrasi Dwikora maupun Trikora.

Industri roket bukan hal baru bagi Indonesia. Teknologi pembuatan roket di Indonesia sudah dirintis sejak tahun 1960-an. Indonesia bahkan termasuk negara kedua di Asia dan Afrika, setelah Jepang, yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri.

Sebenarnya pembangunan teknologi Rudal di dalam negeri sudah mulai dirintis. Namun sayangnya, Indonesia gagal melakukan alih-teknologi. ABRI (nama lama TNI) beserta ITB (Institut Teknologi Bandung) mencoba dan melakukan pengembangan lebih lanjut tapi karena keterbatasan dana dan politik, maka riset terasa lamban malah seperti terhenti. namun bangsa kita telah berhasil menciptakan prototye beberapa roket.

Sebenarnya masih banyak roket-roket besar bikinan AURI dan ITB, diantaranya WIDYA, YOGA, dan lain-lain, namun perkembangannya terhenti, setelah tahun 1965, AURI kena getahnya kasus G-30S.

Roket Kartika : roket pertama hasil alih teknologi pertama


Roket Kartika 1 adalah roket pertama Indonesia hasil kerjasama AURI dan ITB pada tahun 1962 berdasarkan perintah Perdana Menteri Juanda yang merupakan hasil “pendidikan dan kursus kilat teknologi dari uni sovyet saat itu. Bayangkan, tahun 1960 an hanya beberapa negara di dunia yang bisa bikin roket dengan keterbatasan teknologi saat itu.

Dari hasil “belajar privat “itulah Indonesia akhirnya berhasil meluncurkan roket buatannya sendiri yang bernama Kartika 1 dengan berat 220 Kg dari stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.

Setelah itu perkembangan roket dan rudal semakin semarak di Indonesia, bahkan Indonesia kembali meluncurkan roket Kartika 2 dengan berat 66,5 Kg dan berjarak tempuh 50 Km. Namun sayang, setelah orde lama jatuh, diganti orde baru. Perubahan poros politik terjadi. Rusia ditingalkan dan beralih ke barat. Untuk mencegah kemajuan roket Indonesia saat itu, muncullah “pembonsaian” terhadap kemajuan roket Indonesia.

Riset dan penelitian dihentikan atas desakan Amerika Serikat dan Inggris. Akibatnya, teknologi rudal dan roket kurang berkembang di era orde baru dan membuat Indonesia semakin jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lain, bukan hanya di Asia namun di dunia. Boleh dibilang saat memasuki Orde Baru teknologi roket Indonesia seperti mayat hidup.

Pada saat itu LAPAN belum terbentuk. LAPAN dibentuk tanggal 27 November 1963, melalui Keppres Nomor 236 tahun 1963, namun dibatasin hanya untuk riset dan pendidikan, bukan untuk militer.



Boleh dibilang pembuatan roket Kartika 1 pada masa itu itu asli buatan AURI bersama ITB (bisa diliat logo segilima merah putih di fin-roket). Setelah Kartika sukses, barulah LAPAN lahir dengan personel dari AURI dan ITB yg masuk tim riset PRIMA (Proyek Roket Militer dan Ilmiah Awal).

Saat ini Lapan sedang bergerak maju untuk mengejar ketertingalannya, dimulai dengan langkah kecil setapak demi setapak akan menjadi pembuka jalan kejayaan bangsa Indonesia seperti dekade 1960. (by: Telik Sandi, Biro Jabodetabek)

Sumber : LAPAN:JKGR
Ensiklopedia TNI AU dasawarsa 1960

0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *