Senin, 29 Desember 2014

Intimidasi di Selat Malaka



Kisah Kapal Perang Australia, Inggris dan Malaysia intimidasi Kapal TNI AL di Selat Malaka. Foto Dokumentasi Kapal Asing membanyangi Kapal Dewaruci

Rabu siang 11 Maret 1964. KRI Dewa Ruci sedang berlayar diantara pulau-pulau dari gugusan Kepulauan Riau, memasuki Selat Durian diantara Pulau Moro dan Pulau Kundur. Ini merupakan alur pelayaran umum yang lebih singkat menuju Selat Malaka, ketimbang melalui Selat Singapura yang harus berputar jauh kearah kanan.

Malam menjelang, dalam cuaca yang mendung dan dingin, kami disongsong oleh bayang-bayang hitam dari dua kapal perang kita, KRI Todak dan KRI Ngurah Rai yang akan mengawal KRI Dewa Ruci selama pelayaran melalui Selat Malaka.

Ada terasa semacam ketegangan yang dingin dan mencengkam menyaksikan kilatan cahaya lampu isyarat yang menyala padam bersahut-sahutan, meloncat-loncat dalam kepekatan malam, memantul pada permukaan laut dan langit yang hitam, dibawah hindung armada Inggris dan Australia yang berpihak ke Malaysia dan mengawal perairannya. Kekuatan armada Royal Navy yang menjaga perairan Malaysia terdiri dari beberapa skuadron Kapal Perusak (Destroyer), Fregat, bahkan Kapal Penjelajah (Cruise). Armada mereka juga dipekuat dengan Kapal Induk HMS Victorius, HMS Hermes, dan HMS Ark Royal. Menurut sebuah sumber, sekitar 80 buah kapal-kapal jenis Destroyer, Fregat, Pemburu Kapal Selam armada Royal Navy dan Australia menjaga perairan Malaysia. Sewaktu-wktu bisa saja terjadi clash diperairan ini.

Selepas pagi hari, tepatnya Pukul 09.57, ketika KRI Dewa Ruci sedang berlayar pada jarak 21 mil laut sebelah timur Pulau Rupat, tampaklah sebuah kapal perang dengan nomor lambung F-07 datang mendekat ke arah KRI Dewa Ruci. Dari nomor lambungnya jelas bukan KRI dan bentuknya menunjukkan bahwa kapal tersebut merupakan jenis yang mutakhir. Ternyata kapal perang tersebut HMAS Yarra, milik AL Australia, merupakan jenis Fregat tipe 13 River Class. Dihaluannya bertengger meriam 113mm (4.5inch). Kapal ini juga membawa torpedo dan pesenjataan lainnya. HMAS Yarra mendekati formasi kami dari arah lambung kanan. Gayanya sangat provokatif. Ia seolah-olah hendak masuk dan memotong ke dalam formasi kami, sehingga KRI Ngurah Rai seketika itu juga langsung cikar kanan menghadangnya.

Buset!....Kami digeladak KRI Dewa Ruci hanya bisa memandangi dengan perasaan geram. Betapa tidak? Jika terjadi sesuatu akibat sikap provokatif kapal perang Australia tersebut, apa yang bisa dilakukan oleh KRI Dewa Ruci yang sama sekali tidak bersenjata?

Melihat sikap yang berani dan tidak ragu-ragu dari KRI Ngurah Rai, HMAS Yarra balik kanan. Tetapi kemudian ia kembali lagi menggertak setelah KRI Ngurah Rai berada dalam formasi pengawalan semula. Kapal perang Australia ini jelas-jelas mau memancing insiden. Maka, sekali lagi KRI Ngurah Rai menyongsong menghadanganya, dan sekali lagi juga HMAS Yarra balik kanan mengundurkan diri. Sementara itu, KRI Dewa Ruci tetap berlayar tanpa mengubah haluan, diiring KRI Todak diburitan yang tetap siaga, sudah membuka penutup meriam-meriamnya, bersedia menghadapi segala kemungkinan.

Tapi, sejurus kemudian, HMAS Yarra kembali lagi dengan gayanya yang sama dan adegan yang sama pun berulang kembali. Kami hanya bisa menonton permainan kucing-kucingan yang penuh bahaya itu dengan perasaan geram bercampur gembira, kadang-kadang sambil bersorak-sorak seperti anak-anak ketika melihat HMAS Yarra balik kanan dihadang KRI Ngurah Rai. Kami berteriak-teriak seperti tidak menyadari bahayanya yang sedang mereka lakukan. Dua kapal perang yang kucing-kucingan itu juga sudah melepas penutup meriamnya, siap-siap memuntahkan kanon masing-masing.

Pukul 10.03 HMAS Yarra kemudian cikar kanan dan meninggalkan formasi kami. Namun, pada pukul 17.00 muncul sebuah kapal perang lainnya dari AL Malaysia, jenis Fregat dengan nomor lambung M-2006 membayang-bayangi kami dari jarak 2 mil. Hal ini berlangsung selama 2 jam dan kemudian M2006 tersebut cikar kanan menghilang ke arah Port Sweetenham di Pantai Barat Malaysia.

Pengalaman dan pelajaran yang dapat kami petik dari peristiwa ini adalah, pameran kekuatan dan kekuasaan di perbatasan harus dilakukan terhadap kapal asing manapun, dalam rangka menegakkan kadaulatan perairan tanah air. Setelah berlayar sejauh kira-kira 985 mil laut, atau 1.824 kilometer, tanggal 14 Maret 1964 pukul 20.45 kami merapat dengan selamat di dermaga Pelabuhan Sabang.[Sturmovik/Dewa Ruci: pelayaran pertama menaklukkan tujuh samudra : sebuah kisah nyata]

0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *