Jumat, 26 Desember 2014

Sekolah Taruna Militer Rusia: Beri Pendidikan Perang, Moral, Hingga Tarian

Sekolah Taruna Militer Rusia: Beri Pendidikan Perang, Moral, Hingga Tarian
Korps taruna militer juga dibekali dengan mata pelajaran moral, karena mereka kelak akan menjadi para elit untuk angkatan bersenjata Rusia. Foto: RIA Novosti

Pada 1880, salah satu penulis terbaik Rusia Nikolay Leskov (1831-1895) menggambarkan sosok Direktur Korps Taruna Militer Pertama Saint Petersburg dalam cerita berjudul “Kadetskiy Monastyr” (arti: Biara Taruna) sebagai berikut:
“Mikhail Stepanovich […] selalu berpakaian seragam. Dengan cara yang paling elegan, ia mengeakan topi berbentuk segitiga “sesuai seragam”, berdiri tegak, berjiwa cerdas, serta memiliki kiprah yang megah. Hal itu menggambarkan seolah jiwanya dirasuki oleh kewajiban pengabdian, namun tidak sedikitpun diliputi rasa rasa takut.”
Seperti itulah gambaran mencengangkan seorang remaja laki-laki berusia tujuh hingga 15 tahun pada masa sebelum terjadinya revolusi, terutama mereka yang bersiap untuk mengabdi menjadi tentara dan belajar di lembaga-lembaga pendidikan khusus seperti di korps taruna militer.

Imperium dan Libertinisme

Di masa Kekaisaran Rusia, lembaga-lembaga pendidikan seperti ini muncul pada tahun 1743. Kala itu, di jalan-jalan Saint Petersburg dan kota-kota lain mulai muncul anak-anak muda berseragam militer dan mengenakan sepatu bot. Kebiasaan berbadan bugar ditanamkan kepada para murid selama masa pendidikan berlangsung. Selain itu, mereka harus andal dalam baris-berbaris, karena saat menjadi senior mereka akan ikut serta dalam ajang perlombaan yang dihadiri oleh Imperator Rusia. Kini, para taruna sekolah Suvorov kerap mengikuti parade-parade di Lapangan Merah.
Korps taruna militer juga dibekali dengan mata pelajaran moral, karena mereka kelak akan menjadi para elit untuk angkatan bersenjata Rusia. Para taruna mempelajari tata bahasa, sejarah, bahkan tarian. Para pria tersebut diwajibkan untuk mampu membawa diri dengan benar tidak hanya di dalam perang, tetapi juga di hadapan masyarakat.
Akan tetapi, semakin luas sebuah pendidikan, semakin besar pula libertinisme dan keinginan yang muncul. Oleh sebab itu, di akhir abad ke-19, kerusuhan meletus di sejumlah besar korps taruna militer, salah satunya karena pemahaman politik yang berbeda. Banyak siswa korps yang dikeluarkan karena alasan “kebobrokan moral”.
Uni Soviet dan Bantuan Bagi Anak Yatim
Di abad ke-20, sekolah taruna militer kembali dibuka pada 1944, tepat 27 tahun setelah Revolusi Oktober.
Sekolah-sekolah militer yang kembali dibuka tersebut membantu memecahkan masalah sosial yang tidak mudah. Berdasarkan data dari penyelidik Pusat Memorial Militer Angkatan Bersenjata Federasi Rusia, Uni Soviet telah kehilangan sekitar 26,6 juta orang dalam perang melawan Nazi, dan mayoritas adalah laki-laki.
Setelah perang berakhir, Rusia didominasi anak yatim. Banyak anak yang hidup tanpa ayah. Sekolah-sekolah militer itu membantu mengompensasi ketiadaan pendidikan bagi anak laki-laki dari keluarga yang miskin.
Para murid sekolah Suvorov, terutama yang menjadi anak dari tentara gugur di medan perang, mendapat pengetahuan yang dibutuhkan untuk masuk ke jurusan-jurusan utama di universitas. Pada zaman Uni Soviet, terdapat 50 sekolah militer yang serupa dengan Suvorov.

Popularitas Sekolah Militer

“Proses persiapan murid sekolah Suvorov dilakukan berdasarkan tradisi terbaik dari korps-korps taruna militer sebelum masa revolusi Rusia,” terang Kepala Sekolah Suvorov Moskow Mayjen Aleksander Kasyanov kepada RBTH.
Selama 70 tahun sekolah Suvorov berdiri, dari satu cabang sekolah di Moskow saja telah terdaftar 12 ribu murid, 40 di antaranya menjadi jenderal, dan delapan orang menjadi pahlawan Uni Soviet dan Rusia.
“Program kami dibuat sedemikian rupa agar anak-anak tidak hanya melatih persiapan fisik saja, tetapi juga sejumlah mata pelajaran lain. Perhatian besar diberikan kepada mata pelajaran pilihan mereka dan kemampuan untuk bersikap di masyarakat. Dalam kurikulum mereka terdapat pelajaran tarian balet dan dasar-dasar etika,” cerita seorang ahli psikologi dari sekolah Suvorov, Evgeniy, kepada RBTH




Sumber: RBTH

0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *