Senin, 15 Desember 2014

Survei, Masyarakat Rusia Semakin Bangga dengan Negaranya

Survei, Masyarakat Rusia Semakin Bangga dengan Negaranya
Setengah peserta jajak pendapat menyatakan bahwa rakyat harus tetap mendukung negaranya, sekalipun negara melakukan tindakan yang tidak benar. Foto: Ramil Sitdikov/RIA Novosti

Jajak pendapat yang dilakukan Levada Center baru-baru ini memperlihatkan jumlah rakyat Rusia yang bangga terhadap negaranya terus bertambah. Survei tersebut dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh pemberlakuan sanksi dari negara lain terhadap Rusia karena bergabungnya Krimea dan ketidakstabilan situasi ekonomi Rusia saat ini, terhadap rasa patriotisme masyarakat Rusia. Para pakar berupaya menelaah apa sebenarnya yang dibanggakan oleh rakyat Rusia dan apa perbedaan patriotisme dengan rasa cinta tanah air.

Organisasi penelitian nonpemerintah Levada Center, salah satu lembaga survei terbesar di Rusia, telah menyingkap bagaimana rakyat Rusia memandang negaranya saat ini. Ternyata, sebanyak 86 persen peserta jajak pendapat merasa bangga tinggal di Rusia. Jumlah setinggi itu terakhir kali muncul sesaat menjelang krisis finansial pada 2008 lalu. Menyambung hal tersebut, 69 persen peserta jajak pendapat menyatakan bangga dengan Rusia saat ini dan jumlah yang sama juga mengaku merasakan kebebasan di dalam masyarakat Rusia. Setengah peserta jajak pendapat menyatakan bahwa rakyat harus tetap mendukung negaranya, sekalipun negara melakukan tindakan yang tidak benar. Rasa malu atas apa yang terjadi di Rusia saat ini hanya dirasakan oleh 20 persen rakyat Rusia. Jajak pendapat ini dilaksanakan pada akhir Oktober lalu, diikuti oleh 1.630 orang dari 134 kota dan desa di 46 wilayah Rusia.

Kebanggaan Terhadap Sejarah dan Masa Kini

Wakil Direktur Levada Center Aleksey Grazhdankin menjelaskan kepada RBTH bahwa para peneliti membagi dua jenis rasa bangga para responden terhadap negaranya. “Rasa bangga yang timbul karena tinggal di Rusia adalah rasa bangga atas sejarah Rusia, bangga atas apa yang telah dicapai oleh Rusia. Namun, ada pula rasa bangga terhadap Rusia yang sekarang. Oleh karena itu, kami melihat adanya perpecahan dalam hasil jajak pendapat,” ujar Grazhdanskiy.
Menurut Grazhdankin, kesejahteraan, kemapanan secara materi, serta keyakinan terhadap masa depan adalah dasar dari rasa bangga tersebut. “Semakin baik perekonomian negara, semakin besar rasa bangga yang dimiliki rakyat terhadap negara tersebut. Sebaliknya, semakin tidak menentu keadaan suatu negara di masa depan, semakin kecil rasa bangga yang muncul,” terang sang peneliti.
Namun, faktor yang paling menentukan bagi rakyat Rusia tidak hanya kemapanan material semata, tapi juga pemahaman peran Rusia dalam sejarah.

“Rakyat Rusia memahami bahwa saat ini perekonomian kita masih tertinggal dibanding dengan negara-negara Barat. Meski demikian, mereka tetap bangga terhadap sejarah Rusia,” ujar Grazhdankin. Ia menjelaskan, saat ini rasa bangga muncul karena Rusia dinilai sudah mendekati peran yang pernah didemonstrasikan oleh Uni Soviet ke seluruh dunia.
Ketika mendefinisikan apa saja yang dibanggakan rakyat Rusia, pejabat Dewan Negara Rusia dari Partai Komunis (KPRF) Vadim Solovev langsung teringat akan sejarah Rusia yang “besar dan berkuasa”, dan kemudian menambahkan tentang jiwa bangsa Rusia. “Kami lebih mementingkan keadilan daripada sepotong roti. Itu menunjukkan betapa luasnya jiwa bangsa Rusia,” ujar Solovev.
Solovev lalu mengajukan wacana peresmian peraturan yang mewajibkan seseorang untuk melakukan “sumpah warga negara” ketika mendapatkan paspor kewarganegaraan. “Biarkan itu menjadi perayaan bersama dengan para veteran, pejuang tanah air, dan perwakilan pemerintahan, agar generasi muda terus mengingat hal tersebut dan merasa bangga terhadap tanah air mereka sepanjang hayatnya,” tambah Solovev.

Patriotisme yang Bertentangan dengan Kebijakan

Roman Dobrokhotov, dosen Politeknik Negeri Universitas Akademi Ilmu Kemanusiaan (GAUGN) menyebutkan bahwa jumlah warga Rusia yang bangga lahir di Rusia jauh lebih besar dibanding mereka yang bangga terhadap apa yang telah dilakukan negara. “Dengan kata lain, sebagian orang menilai dirinya sebagai patriot bukan karena kebijakan yang dijalankan oleh negara,” terang Dobrokhotov.
Namun sang dosen berpendapat, secara keseluruhan jajak pendapat ini tak terlalu berarti besar, karena orang-orang hanya memberi jawaban apa yang ingin mereka jawab. “Jika bicara mengenai keadaan riil yang ada, maka masyarakat saat ini sangat terpolarisasi. Sebagian merasa kecewa atas apa yang terjadi di Ukraina, korupsi di Rusia, dan isu-isu sosial lain. Sedangkan sebagian yang lain diliputi rasa patriotisme atas bergabungnya Krimea,” kata Dobrokhotov.

Selain itu, bahkan jika patriotisme dan rasa bangga rakyat Rusia menurun, maka masih ada rasa cinta terhadap negara di dalam hati mereka. Perasaan itu, menurut para ahli sosiologi, berhubungan dengan bidang psikologi. “Cinta jauh lebih irasional, tidak membutuhkan pemahaman rasional. Sedangkan patriotisme adalah pengertian yang jauh lebih rasional. Orang menyadari keterikatannya terhadap negara mereka dan mereka akan mendukungnya,” terang Grazhdankin
 
 
 
Sumber: RBTH

0 komentar:

Posting Komentar

Form Kritik & Saran

Nama

Email *

Pesan *